Haaretz: Israel Rekrut “Tuhan” dan TikTok untuk Membersihkan Aib Genosida

Jalur Gaza, SPNA – Ketika dunia sibuk menghitung mayat dan reruntuhan di Gaza, Israel  punya proyek lain yang lebih “modern”: mencuci darah dengan algoritma. Di saat dunia memandangnya sebagai pelaku genosida, Tel Aviv justru meluncurkan kampanye propaganda bernilai jutaan dolar untuk memoles citra di Amerika Serikat, melalui gereja, influencer, dan bahkan kecerdasan buatan.

Menurut laporan Haaretz yang dikutip Middle East Monitor, pemerintah Israel menandatangani kontrak senilai 6 juta dolar dengan perusahaan Clock Tower X, milik Brad Parscale, mantan manajer kampanye digital Donald Trump. Misinya sederhana tapi licik: memproduksi 100 konten utama dan 5.000 versi turunannya setiap bulan demi mencapai 50 juta tayangan. 

Delapan puluh persen konten itu diarahkan kepada anak muda Amerika lewat TikTok, Instagram, dan YouTube, dan disebarkan melalui Salem Media Network, jaringan media Kristen konservatif dengan lebih dari 200 radio dan situs.

Tapi proyek besar ini tak berhenti di dunia maya. Perusahaan lain bernama Show Faith by Works milik konsultan evangelikal Partai Republik, Chad Schnitger, mengajukan proposal senilai 3 juta dolar. Targetnya: gereja dan organisasi Kristen di Amerika Barat. Pesannya dibungkus ayat, tapi isinya propaganda bahwa “Palestina memilih Hamas”, “warga Gaza merayakan pembantaian 7 Oktober”, dan “mereka melindungi teroris”. Dengan kata lain, Israel ingin menulis ulang kitab moral umat Kristiani: bahwa membom anak-anak bisa juga dianggap tindakan suci.

Yang lebih menyeramkan, kampanye ini memanfaatkan “GeoFencing” terbesar dalam sejarah Amerika. Setiap gereja besar dan kampus Kristen di California, Arizona, Nevada, dan Colorado dipetakan secara digital. Saat jemaat berdoa, data lokasinya disedot untuk dibombardir iklan pro-Israel. Delapan juta jemaat dan empat juta mahasiswa Kristen akan menerima wahyu baru bukan dari langit, tapi dari algoritma.

Tak kalah kreatif, proyek lain bernama “Esther Project” senilai 1 juta dolar diluncurkan bersama firma Bridges Partners milik mantan atase pariwisata Israel di Washington, Uri Steinberg. Sebanyak 18 influencer direkrut untuk menebar “cahaya Israel” di Instagram dan TikTok. 

Sebagian bahkan dibayar hingga 7.000 dolar per unggahan, berpose di pemukiman ilegal sambil berbicara tentang “keberanian tentara Israel” di Gaza. Tampaknya, bagi Israel, pencitraan lebih penting dari nyawa, dan likes lebih berharga dari keadilan.

Kini, bab terbaru perang ini memasuki ranah yang lebih dingin: kecerdasan buatan. Dalam kontrak Clock Tower X disebutkan adanya “Search and Language Operation” yang menargetkan mesin pencari dan platform AI seperti ChatGPT dan Claude. Tujuannya: memengaruhi bagaimana mesin dan pada akhirnya manusia, memahami Israel, Palestina, dan perang Gaza. Narasi direkayasa, sejarah diatur ulang, dan kejahatan disamarkan lewat sintaks dan prompt.

Tak ketinggalan, firma komunikasi politik SKDKnickerbocker ikut kebagian kue. Dengan kontrak senilai 2,5 juta dolar, mereka diminta mengerahkan bot di TikTok, Instagram, dan YouTube untuk “membanjiri ruang digital” dengan narasi resmi Kementerian Luar Negeri Israel. Dunia maya akan dipenuhi suara yang tampak netral, padahal semua diatur dari satu pusat: Tel Aviv yang takut pada kebenaran.

Inilah perang abad ke-21, bukan lagi antara peluru dan batu, tapi antara algoritma dan nurani. Saat Gaza diliputi asap dan darah, Israel menebar kabut digital agar dunia lupa siapa pelaku dan siapa korban. Seolah Tuhan bisa dipersuasi dengan kampanye iklan, dan genosida bisa dimaafkan lewat content marketing.

(T.RS/S:MEMO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya