Keji, Inilah Daftar Lengkap Pelanggaran Gencatan Senjata yang Dilakukan Israel di Gaza

Seorang perempuan Palestina duduk dengan rasa sedih setelah Israel melakukan serangan di Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan, pada 29 Oktober 2025. (Foto: AFP/Bashar Taleb)

Gaza, SPNA – Sejak perjanjian gencatan senjata di Gaza ditandatangani awal Oktober lalu, Israel dilaporkan terus melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut. Mulai dari serangan udara, penembakan, penangkapan, hingga penyusupan melampaui garis penempatan pasukan, sebagian besar pelanggaran tampak dilakukan tanpa provokasi.

Israel beralasan bahwa tindakannya merupakan respons atas dugaan pelanggaran oleh kelompok pejuang perlawanan Palestina. Namun, Kelompok pejuang perlawanan Palestina membantah tuduhan tersebut dan menegaskan telah sepenuhnya mematuhi ketentuan gencatan senjata. Banyak dari pelanggaran yang menargetkan warga sipil juga terjadi tanpa alasan yang dapat dibenarkan.

Pada awal November 2025 ini, Middle East Eye merinci seluruh pelanggaran yang dilakukan Israel selama tiga minggu setelah perjanjian tersebut ditandatangani.

Serangan

Hingga 28 Oktober, pasukan Israel telah melakukan 52 kali penembakan dan 55 kali pengeboman di seluruh Jalur Gaza. Serangan udara tambahan juga dilaporkan terus dilakukan setelahnya.

Serangan-serangan tersebut membunuh sedikitnya 226 penduduk Palestina, termasuk 97 anak-anak (sekitar 40 persen dari seluruh korban jiwa) serta melukai 594 orang lainnya.

Israel juga menghancurkan sedikitnya 11 rumah penduduk sipil, dan pasukannya terus menggunakan robot kendali jarak jauh yang dilengkapi bahan peledak untuk meruntuhkan bangunan.

Dalam dua insiden terpisah di Rafah, tiga tentara Israel dilaporkan tewas akibat dugaan serangan oleh pihak Palestina. Tidak ada kelompok pejuang perlawanan Palestina, yang mengklaim bertanggung jawab atas insiden itu. Atas dasar klaim itu, Israel kemudian melancarkan serangan udara besar-besaran yang menewaskan puluhan penduduk Palestina.

Penangkapan

Israel dilaporkan melakukan sejumlah penyusupan melampaui Garis Kuning, yang menandai batas penempatan pasukan di Jalur Gaza. Banyak korban jiwa akibat tembakan atau bom saat berada di dalam wilayah Garis Kuning, daerah yang seharusnya berada di luar kendali Israel.

Menurut kantor media Gaza, hingga 28 Oktober telah terjadi sedikitnya sembilan kali penyusupan.
Kelompok pejuang perlawanan Palestina menuduh Israel masih mempertahankan kendali tembakan hingga 1.500 meter di luar Garis Kuning di beberapa bagian Jalur Gaza.

Militer Israel juga dilaporkan menempatkan blok beton berwarna kuning pada jarak antara 400 hingga 1.050 meter di dalam area yang telah ditetapkan.

Selain itu, pasukan Israel telah menangkap sedikitnya 29 penduduk Palestina, beberapa di antaranya saat memeriksa rumah di dekat Garis Kuning, dan lainnya saat melaut untuk memancing.

Blokade Bantuan dan Penutupan Perbatasan

Selama dua tahun perang genosida di Gaza, Israel menutup seluruh penyeberangan perbatasan, termasuk Perlintasan Rafah dengan Mesir, sehingga menghambat masuknya bantuan dan barang.
Pengepungan ketat itu memicu kelaparan yang dinyatakan secara resmi pada Agustus, menyebabkan banyak korban meninggal akibat kekurangan gizi dan obat-obatan.

Perjanjian gencatan senjata bulan lalu yang dimediasi oleh Amerika Serikat, Qatar, Mesir, dan Turki, mencantumkan penghentian blokade melalui pembukaan kembali Perlintasan Rafah untuk pergerakan orang dan masuknya 600 truk bantuan kemanusiaan setiap hari, termasuk 50 truk bahan bakar.

Hingga kini, Israel masih menutup Perlintasan Rafah, menghalangi puluhan ribu penduduk Palestina yang terluka parah untuk mendapat perawatan di luar negeri. Selama 21 hari terakhir, hanya sekitar 115 truk bahan bakar yang masuk atau hanya sekitar 10 persen dari jumlah yang disepakati.

Rata-rata truk yang masuk ke Gaza hanya sekitar 145 per hari, jauh di bawah kebutuhan minimal, sebagian membawa bantuan kemanusiaan dan sebagian lainnya barang dagangan. Barang-barang seperti daging beku, telur, dan ternak sebagian besar masih dilarang masuk.

Menurut pejabat kesehatan, hanya sekitar 10 persen pasokan medis penting dan mendesak yang berhasil masuk. Israel juga belum mengizinkan masuknya alat berat yang diperlukan untuk membersihkan puing dan membuka kembali jalan-jalan yang rusak.

Tahanan

Kelompok pejuang perlawanan Palestina menuduh Israel melanggar kesepakatan terkait pertukaran tahanan. Mereka menyatakan Israel gagal memberikan daftar lengkap seluruh tahanan yang saat ini ditahan.

Sejak perang dimulai, Israel telah menahan ribuan penduduk Palestina dari Gaza dan Tepi Barat yang diduduki, namun belum mengungkap keberadaan banyak di antaranya. Ribuan orang masih hilang, dan keluarga mereka tidak mengetahui apakah kerabat mereka masih hidup, meninggal, atau di mana mereka ditahan.

Kelompok pejuang perlawanan Palestina mengatakan Israel hanya memberikan daftar tidak lengkap yang mengandung kesalahan. Mereka juga menuduh Israel gagal membebaskan anak-anak dan perempuan dari Gaza sebagaimana diatur dalam perjanjian.

Sementara itu, Israel menuduh kelompok pejuang perlawanan Palestina menunda pengembalian jenazah sandera yang tewas, dan menjadikan hal itu sebagai alasan untuk melanggar kesepakatan. Namun, perjanjian tersebut secara tegas menyebut bahwa jenazah para sandera harus diserahkan “segera setelah” kelompok pejuang perlawanan Palestina berhasil menemukannya, tanpa tenggat waktu tetap.

Kelompok pejuang perlawanan Palestina menyatakan proses pemulihan jenazah memerlukan alat berat dan akses ke wilayah yang dikendalikan Israel. Hingga kini, kelompok tersebut telah menyerahkan 20 sandera hidup dan 17 jenazah sesuai kesepakatan, sementara 11 lainnya diyakini masih terkubur di Gaza.

Pelanggaran Gencatan Senjata Terus Terjadi

Pasukan militer Israel terus menggempur berbagai wilayah di Jalur Gaza, disertai penghancuran bangunan meski penduduk Palestina tidak memiliki tempat berlindung di tengah suhu udara yang semakin menurun.

Serangan udara dan tembakan artileri Israel berlanjut sejak Minggu malam (02/11), terutama di Khan Younis, wilayah selatan Gaza yang terkepung, serta di Kota Gaza, membunuh dan melukai sejumlah penduduk sipil Palestina.

Pada Senin pagi (03/11), pesawat tempur Israel melancarkan beberapa serangan udara di bagian timur Khan Younis, bersamaan dengan tembakan artileri berat yang menghantam Sekolah al-Khansaa dan area sekitarnya di kota Abasan al-Kabira, sebelah timur kota tersebut.

Israel juga melakukan serangan di Rafah, kota paling selatan Gaza, pada dini hari Senin, yang membunuh sedikitnya dua penduduk Palestina. Sementara itu, ledakan terus terdengar di Kota Gaza akibat aktivitas penghancuran bangunan yang dilakukan oleh pasukan Israel.

(T.FJ/S: MEE)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya