Jalur Gaza, SPNA – Di sebuah kota yang tinggal reruntuhan, air kini menjadi barang paling berharga. Sejak serangan Israel menghantam jaringan air dan sanitasi Gaza, kehidupan dua juta penduduk Palestina berubah menjadi perjuangan melawan dahaga setiap hari.
Warga Gaza tidak lagi memutar keran untuk mengisi gelas mereka. Mereka mengantri di bawah terik matahari, membawa jerigen dan botol bekas, menunggu truk air yang datang entah kapan. Sebagian lain menempuh jarak bermil-mil untuk mencari air dari sumur yang masih tersisa, atau membeli dari stasiun desalinasi kecil yang hidup-mati tergantung pada bahan bakar generator.
“Setiap tetes harus dihemat. Kami hanya pakai air untuk minum dan memasak,” kata Tariq Awad, warga Sheikh Radwan, Gaza Barat, yang rumahnya hancur akibat perang. Sebelum serangan, ia masih bisa berbagi air dari sumur milik tetangganya. Kini, yang tersisa hanya reruntuhan. “Tanpa air, tidak ada hidup,” ujarnya lirih.
Krisis air di Gaza bukan cerita baru, tapi perang mempercepat kehancurannya. Sebagian besar jaringan pipa dan stasiun pompa kini lumpuh. Laporan UNRWA mencatat, lebih dari 720 sumur air rusak berat atau tak bisa digunakan pasca agresi Israel sejak Oktober 2023. Otoritas Air Palestina di Gaza menyebut hanya sebagian kecil dari sistem air yang berfungsi, itu pun dengan pasokan yang sangat terbatas.
Kerusakan infrastruktur memperparah kondisi air tanah pesisir Gaza yang sejak lama terkontaminasi air laut dan limbah. PBB sudah memperingatkan sejak sebelum perang, bahwa 95% sumber air Gaza tidak layak dikonsumsi manusia karena kadar garam dan nitrat tinggi. Kini, dengan sistem sanitasi hancur dan pompa limbah tidak berfungsi, ancaman penyakit semakin meluas.
Di kawasan utara, Maryam Ismail, mahasiswi yang tinggal bersama keluarganya di rumah setengah runtuh, menggambarkan hidupnya kini sebagai “perjuangan tanpa henti melawan haus”. Setiap pagi ia berjalan hampir dua kilometer menuju stasiun desalinasi kecil yang dikelola warga. “Pompa itu seperti jantung bagi seluruh lingkungan kami,” ujarnya. “Tapi sering mati karena tidak ada bahan bakar.”
Air yang diperoleh Maryam dan keluarganya hanya cukup untuk minum dan memasak. Mandi, mencuci pakaian, bahkan membersihkan rumah, semua jadi kemewahan. “Kami merebus air berkali-kali, tapi tetap terasa asin,” katanya.
Sadi Ali, pejabat Unit Pengelolaan Proyek di Otoritas Air Gaza, menyebut pihaknya berusaha menyalurkan air lewat truk tangki dan memperbaiki sebagian sumur. “Kami telah mengaktifkan kembali 12 sumur, sebagian besar di Kota Gaza,” ujarnya. Namun, ia menegaskan hambatan utama adalah penutupan perlintasan dan larangan masuknya peralatan perbaikan.
Selain itu, pihaknya bekerja sama dengan lembaga kemanusiaan internasional untuk membangun tiga instalasi desalinasi baru di Gaza utara, meski prosesnya berjalan lambat karena keterbatasan akses bahan bakar dan peralatan.
Lebih dari sekadar krisis layanan publik, kelangkaan air kini menjadi simbol kehancuran hidup di Gaza. Dalam situasi di mana listrik, pangan, dan obat-obatan juga nyaris habis, air menjelma garis tipis antara hidup dan mati.
“Air bukan lagi kebutuhan dasar,” kata seorang relawan setempat. “Ia sudah menjadi alat bertahan hidup terakhir.”