Tepi Barat Memanas, Tentara dan Pemukim Israel Serang Kota Tubas

Yerusalem, SPNA – Tentara Israel, sebagaimana dilansir The Cradle, pada Minggu (19/10/2025), melakukan operasi militer besar-besaran di kota Tubas, Tepi Barat, yang menyebabkan banyak kerusakan. Serangan ini terjadi setelah pejuang Palestina menyerang tentara Israel dengan bom pada akhir pekan lalu.

Menurut laporan, sekitar 30 kendaraan militer, dua buldoser, dan pasukan infanteri terlibat dalam serangan di Tubas. Dua tentara Israel dilaporkan terluka dalam serangan itu.

Setelah serangan, tentara Israel melakukan pencarian dan penghancuran fasilitas di kota tersebut selama berjam-jam. Saat tentara mundur, serangan lain juga terjadi di berbagai bagian Tepi Barat.

Seorang penduduk sipil Palestina, Majed Muhammad Dawoud, meninggal dunia ditembak tentara Israel di kamp pengungsian Al-Ain, Nablus. Sementara itu, pemukim Israel yang didukung tentara membakar kendaraan dan menyerang petani Palestina yang sedang memanen zaitun di Ramallah dan Nablus.

Selama musim panen zaitun, petani Palestina kerap menjadi sasaran serangan dari pemukim Israel. Para pemukim sering melakukan pembakaran kendaraan, perusakan hasil pertanian, dan kekerasan langsung terhadap para petani yang sedang bekerja di ladang mereka. Serangan-serangan ini tidak hanya menghancurkan hasil panen, tetapi juga menciptakan ketakutan dan mengancam kelangsungan hidup para petani yang bergantung pada panen zaitun untuk menghidupi keluarganya.

Video yang beredar menunjukkan seorang pemukim Israel dengan kejam menyerang seorang wanita tua Palestina dengan tongkat pada saat serangan berlangsung.

Serangan-serangan ini sudah berlangsung beberapa hari terakhir. Pada 16 Oktober, seorang anak laki-laki Palestina berusia 11 tahun, Mohammad Bahjat al-Hallaq, meninggal dunia ditembak Israel di kota Al-Rihiya, dekat Hebron.

Pemukim Israel juga menyerang dua desa di Tepi Barat pada 13 Oktober, merusak kendaraan dan melukai lima penduduk Palestina. Para pemukim menggunakan tongkat, batu, dan anjing untuk menyerang penduduk Palestina. Serangan ini dilakukan dengan pengetahuan militer Isral dan tidak ada pemukim yang ditangkap.

Sejak 7 Oktober 2023, pemukim dan tantara Israel melakukan lebih dari 7.000 serangan di Tepi Barat, di mana hampir 1.000 penduduk Palestina meninggal dunia akibat serangan ini.

Dari total korban jiwa yang lebih dari 1.000 orang tersebut, sekitar 20 persen di antaranya adalah anak-anak. Data PBB di Palestina menunjukkan bahwa 206 anak laki-laki dan 7 anak perempuan menjadi korban meninggal dunia. Angka ini menegaskan betapa rentannya anak-anak Palestina terhadap kekerasan yang terjadi di wilayah tersebut, serta menimbulkan keprihatinan mendalam atas keselamatan dan masa depan generasi muda Palestina.

Selain korban jiwa, konflik ini juga berdampak besar pada sektor pertanian Palestina. Lebih dari 14.000 pohon, terutama pohon zaitun yang menjadi sumber penghidupan banyak keluarga Palestina, telah dihancurkan atau dicuri oleh pemukim Israel. Kerusakan ini bukan hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga berdampak pada kelangsungan hidup komunitas petani Palestina yang sangat bergantung pada hasil panen zaitun sebagai mata pencaharian utama.

Serangan dan intimidasi yang terus-menerus dari pemukim Israel telah memaksa sekitar 607 warga Palestina meninggalkan rumah mereka di Tepi Barat. Lebih dari separuh dari mereka adalah anak-anak yang harus mengungsi demi menyelamatkan diri dari kekerasan yang terjadi. Pengungsian paksa ini menyebabkan krisis kemanusiaan yang semakin parah, mengganggu kehidupan dan stabilitas keluarga-keluarga Palestina di wilayah konflik.

(T.FJ/S: The Cradle)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!