Pesawat Tempur Israel Kembali Bombardir Gaza, Gencatan Senjata Terancam Gagal

Asap membungbung tinggi di udara setelah Israel melakukan serangan udara di Rafah untuk melindungi geng Yasser Abu Shabab yang berkolaborasi dengan Israel dan banyak melakukan kejahatan selama genosida di Jalur Gaza. (Foto: AP)

Gaza, SPNA – Militer Israel melanjutkan pemboman di Gaza pada Minggu (19/10/2025), yang menargetkan kota paling selatan Jalur Gaza, Rafah, setelah adanya laporan beberapa tentara Israel terluka dalam serangkaian serangan yang diklaim dilakukan pejuang perlawanan Palestina.

Cuplikan di media sosial menunjukkan ledakan akibat serangan di kota yang nyaris hancur total sepanjang perang tersebut. Menurut beberapa laporan media berbahasa Ibrani, sebuah kendaraan teknik Israel terkena bahan peledak.

Beberapa laporan menyebut tembakan penembak runduk juga menargetkan pasukan Israel secara terpisah. Beberapa tentara dilaporkan terluka, beberapa dalam kondisi kritis. Laporan belum terkonfirmasi menyebut dua tentara Israel tewas.

Saluran berita Israel, Channel 12, mengutip sumber yang mengatakan bahwa serangan udara ke Rafah merupakan upaya militer Israel untuk memberi perlindungan bagi Yasser Abu Shabab, pemimpin geng yang didukung Israel dan milisinya aktif di Rafah.

Selain itu, seorang sumber keamanan Hamas kepada Quds News Network menyatakan bahwa aparat keamanan perlawanan, pasukan Radaa (Unit Pencegah), menjalankan “misi keamanan yang menargetkan sebuah tempat persembunyian buronan pejuang Palestina, Yasser Abu Shabab, di timur Rafah, yang berkolaborasi dengan Israel dan melakukan banyak kejahatan selama genosida dengan melakukan pembunuhan dan perampokan bahan bantuan kemanusiaan.

Pejuang perlawanan Palestina sedang berusaha memberantas geng-geng kriminal di Gaza yang selama ini melakukan kejahatan seperti pembunuhan dan perampokan. Geng-geng ini juga diduga membantu tentara Israel selama perang berlangsung. Namun, tentara Israel tampaknya mencoba melindungi geng-geng tersebut agar tetap aktif di Gaza. Hal ini membuat ketegangan semakin meningkat antara pejuang perlawanan Palestina dan tentara Israel.

Akibatnya, terjadi bentrokan antara pasukan pejuang Palestina dan tentara Israel di beberapa wilayah, termasuk kota Rafah yang berada di bagian paling selatan Gaza. Israel kemudian membombardir Rafah dengan alasan bahwa pasukannya diserang oleh pejuang Palestina. Serangan ini membuat gencatan senjata yang sebelumnya disepakati terancam gagal.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran besar karena bisa memicu konflik yang lebih luas dan berdampak buruk bagi penduduk sipil di Gaza.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, awalnya menyetujui tindakan pejuang perlawanan Palestina yang memberantas geng-geng itu, tapi kemudian ia berubah dan mulai mengancam pejuang perlawanan Palestina supaya menyerahkan senjata mereka.

Serangan hari Minggu bukan pelanggaran pertama oleh Israel terhadap kesepakatan itu. Puluhan penduduk Palestina tewas dalam serangan Israel ke Gaza sejak gencatan senjata diumumkan. Pada 17 Oktober, Israel menargetkan langsung sebuah mobil sipil yang membawa sebuah keluarga yang sedang dalam perjalanan pulang di kawasan Al-Zaytoun, Kota Gaza, yang membunuh 11 orang, termasuk tujuh anak-anak dan tiga perempuan.

Israel menolak membuka perbatasan Rafah, yang merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan. Israel juga menuduh pejuang Palestina sengaja mengulur pelepasan jasad tahanan, meskipun sangat sulit mengambil kembali jenazah karena banyaknya puing dan kurangnya peralatan di Gaza.

Pada malam 18 Oktober, pejuang Palestina menyerahkan jenazah dua tahanan Israel tambahan kepada Palang Merah untuk dipindahkan ke Israel.

“Upaya Netanyahu untuk menghindari kewajibannya mendapatkan tekanan dari koalisi teroris sayap kanan ekstremnya, saat ia mencoba mengelak dari tanggung jawabnya di hadapan mediator dan penjamin,” kata salah satu pemimpin pejuang Palestina, Hamas Izzat al-Rishq.

Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben Gvir, menuntut pemerintahan Netanyahu untuk melanjutkan perang secara penuh di Gaza.

“Saya mendesak perdana menteri memerintahkan IDF (Pasukan Pertahanan Israel) untuk memperbarui pertempuran skala penuh di Jalur (Gaza) dengan kekuatan penuh. Keyakinan keliru bahwa Hamas akan berubah cara, atau bahkan akan mematuhi perjanjian yang ditandatanganinya, terbukti, tidak mengejutkan, berbahaya bagi keamanan kita. Organisasi teroris Nazi ini harus dilenyapkan sepenuhnya dan semakin cepat semakin baik,” ujarnya.

(T.FJ/S: The Cradle)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!