Israel, Qatar, dan Nurani Global

Demonstran pro-Palestina berbaris dalam demonstrasi memperingati 77 tahun Nakba di Toronto, Ontario, pada 17 Mei 2025. (Foto: Mert Alper Dervış – Anadolu Agency)

Ditulis oleh: Ranjan Solomon*

Gaza, SPNA – Dari Seoul hingga Sao Paulo, dari New Delhi hingga Dakar, jalan-jalan di berbagai penjuru dunia dipenuhi gelombang solidaritas untuk Gaza. Warga dunia tidak lagi menjadi penonton pasif. Mereka turun ke jalan, meneriakkan tuntutan keadilan, dan menyuarakan kemanusiaan. Meski pengepungan di Gaza terus berlangsung, rakyat Palestina di tengah gempuran bom, kelaparan, dan blokade, tetap teguh.

Pesan mereka jelas: Kami tidak akan pergi ke mana-mana. Perlawanan ini memiliki bobot moral yang menggema secara global, sesuatu yang tidak bisa dipadamkan oleh kekuatan militer Israel.

Dalam krisis ini, Qatar tampil sebagai aktor penting, memainkan peran strategis di medan kemanusiaan dan geopolitik. Doha menyalurkan bantuan vital, membiayai perbaikan infrastruktur, menegosiasikan gencatan senjata sementara, serta memanfaatkan pengaruh diplomatiknya untuk mendorong keterlibatan regional. Keterlibatan ini menjadi bukti bahwa negara kecil dengan visi dan sumber daya mampu memainkan peran besar bahkan dalam menghadapi kekuatan militer yang dominan.

Lebih dari sekadar misi kemanusiaan, mediasi Qatar menunjukkan pesan yang lebih luas: ketika negara-negara Arab bersatu, mereka masih bisa menjadi penyeimbang dalam politik kawasan. Serangan Israel terhadap Qatar bukan hanya agresi terhadap satu negara, tetapi juga sinyal bahwa Israel merasa tak terikat oleh hukum internasional dan bebas bertindak tanpa konsekuensi.

Liga Arab, meski historisnya penuh perpecahan, kini menunjukkan sikap yang lebih kompak dalam merespons krisis Gaza. Meski masih ada perbedaan pandangan soal Suriah, Lebanon, dan Yaman, serangan terhadap Gaza menyatukan suara dari Kairo, Riyadh, Amman, dan kota-kota lainnya. Kecaman terhadap bombardir Israel disertai dengan seruan bantuan kemanusiaan mendesak serta diplomasi intensif di balik layar melalui jalur Washington, Brussels, dan PBB.

Warisan Arab Spring masih membekas: pemerintah menyadari bahwa mengabaikan aspirasi rakyat bisa mengundang ketidakstabilan. Kesadaran ini telah memicu koordinasi diplomatik yang lebih aktif dan membangkitkan kembali semangat solidaritas Arab yang lama tertidur.

Di dunia Arab, suara rakyat kembali menjadi kekuatan politik yang menentukan. Dari Kairo ke Amman, dari Tunis ke Rabat, puluhan ribu orang turun ke jalan, tidak hanya mengecam agresi Israel, tetapi juga mengkritik rezim-rezim Arab yang memilih bungkam. Demonstrasi ini tidak hanya menuntut keadilan bagi Palestina, tetapi juga membuka borok kegagalan moral dan politik penguasa mereka sendiri. Jalanan Arab menunjukkan bahwa kesepakatan normalisasi, aliansi strategis, dan diplomasi elit tidak dapat mengubur hati nurani kawasan. Palestina tetap menjadi luka yang membentuk identitas kolektif dunia Arab. Kini, bukan istana, melainkan rakyatlah yang menentukan arah sejarah.

Respons Eropa juga mencolok. Kota-kota besar seperti Paris, Berlin, London, Madrid, dan Roma dipenuhi demonstran lintas usia, agama, dan latar belakang politik. Aksi-aksi ini bukan sekadar simbolik, melainkan seruan untuk akuntabilitas, penolakan terhadap keterlibatan dalam kejahatan perang, serta kritik atas kesepakatan senjata yang menghidupi mesin perang Israel. Pemerintah-pemerintah Eropa kini berada di bawah tekanan untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan strategis dengan tuntutan moral dari warganya.

Di Amerika Utara, gelombang serupa mulai terlihat. Kampus-kampus, alun-alun kota, dan forum publik di Amerika Serikat dan Kanada menjadi arena solidaritas terhadap Palestina. Gerakan ini menantang para politisi dan korporasi untuk meninjau kembali keterlibatan mereka dalam konflik tersebut.

Dari Asia Selatan hingga Asia Timur, suara solidaritas menggema kuat. Di India, Sri Lanka, Bangladesh, Malaysia, dan Indonesia, aksi massa dan kampanye sipil menunjukkan bahwa isu Palestina tidak terbatas pada kawasan Timur Tengah. Bahkan di Korea Selatan dan Jepang, negara-negara yang dikenal berhati-hati secara politik,  mahasiswa, aktivis, dan warga biasa turut bersuara.

Afrika pun tak tinggal diam. Di Senegal, Afrika Selatan, Kenya, dan Nigeria, organisasi masyarakat sipil, serikat buruh, dan kelompok mahasiswa menggaungkan penderitaan Gaza sembari mengkritik keterlibatan Barat. Di Amerika Latin, mulai dari Brasil, Kolombia, hingga Meksiko, aktivisme hak asasi manusia berpadu dengan kritik terhadap imperialisme, menciptakan jejaring perlawanan yang melampaui batas negara.

Aksi demontrasi untuk menunjukkan solidaritas kepada Palestina dan mengecam serangan Israel sambil membawa spanduk dan bendera Palestina di Melbourne, Australia, pada 14 September 2025. (Foto: Recep Sakar – Anadolu Agency)

Seruan dari seluruh dunia satu suara: Bebaskan Palestina, Akhiri Pengepungan.

Gerakan BDS (Boycott, Divestment, Sanctions) kini mendapat momentum baru. Kampus, seniman, intelektual, serikat pekerja, hingga pelaku bisnis menolak terlibat atau meraih keuntungan dari institusi Israel yang berperan dalam pengepungan Gaza. Dampaknya tidak hanya simbolik, tetapi juga nyata secara ekonomi dan budaya. Di dalam Israel sendiri, muncul gerakan “refusenik”, warga yang menolak wajib militer atau secara terbuka menentang kebijakan pemerintah. Keberanian moral mereka memperlihatkan keretakan dalam masyarakat yang selama ini dipersepsikan monolitik.

Di dalam negeri, struktur sosial Israel mulai retak. Militerisme berkepanjangan, polarisasi politik, dan kritik internasional mulai berdampak pada kehidupan domestik. Warga mulai mempertanyakan harga dari pendudukan yang tak kunjung usai. Sebagian dari populasi Yahudi yang tidak nyaman dengan kebijakan agresif pemerintah mulai emigrasi atau menyuarakan penolakan. Tekanan ekonomi akibat sanksi internasional, kampanye divestasi, dan biaya perang yang membengkak memperburuk situasi. Mitos “kebal terhadap kritik” perlahan runtuh, digantikan oleh keresahan internal dan krisis legitimasi.

Gema Arab Spring terdengar jelas dalam berbagai gerakan kontemporer. Pemerintah di Timur Tengah dan Afrika Utara tak bisa lagi mengabaikan opini publik. Di Tunisia, Mesir, hingga Yordania, aksi warga dan kampanye media sosial memperkuat perjuangan Gaza sekaligus menekan penguasa untuk bertindak lebih tegas. Diplomasi Qatar pun memainkan peran strategis, menyeimbangkan bantuan kemanusiaan dengan tekanan politik serta koordinasi regional.

Di Eropa, serikat buruh, seniman, dan akademisi makin vokal mendukung Palestina. Mereka menekan pemerintah agar menghentikan ekspor senjata dan meninjau ulang kerja sama ekonomi dengan Israel. Di Amerika Utara, dukungan terhadap Palestina kini menembus ruang-ruang korporat, dewan kota, dan parlemen yang mendorong perubahan kebijakan luar negeri yang lebih berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.

Ketegangan internal Israel semakin nyata. Kaum muda di Tel Aviv dan Haifa kian vokal mengkritik pemerintah. Media sosial memperluas jangkauan perdebatan publik, memperlihatkan suara atau pendapat berbeda yang selama ini ditekan. Aktivis HAM dan refusenik menyoroti paradoks antara dominasi militer dan ketidakstabilan etis di dalam negeri.

Secara ekonomi, pengepungan yang terus berlanjut, tekanan internasional, dan biaya perang memberi beban berat bagi anggaran negara. Pendekatan Israel yang mengandalkan kekuatan militer dan aliansi strategis kini menghadapi keterbatasan, baik dari dalam maupun luar. Hukum internasional kini menjadi musuh terbesar sekaligus korban paling konsisten dari kebijakan Israel.

Ketahanan rakyat Gaza di tengah kehancuran telah menginspirasi kebangkitan moral global. Dari kampanye media sosial hingga advokasi hukum internasional, narasi ketabahan warga Palestina menguatkan imajinasi moral masyarakat dunia. Jaringan akar rumput menyuplai bantuan medis dan pangan sambil memerangi propaganda. Warga Palestina menuntut bukan hanya bertahan hidup, tetapi juga pengakuan, keadilan, dan kedaulatan. Pesan mereka bergema: Perjuangan demi martabat manusia tidak bisa dibungkam.

Peran diplomasi Qatar memperlihatkan bagaimana negara kecil bisa memengaruhi konflik besar. Melalui mediasi, pendanaan, dan koordinasi dengan Liga Arab, Doha menunjukkan bahwa tekanan diplomatik dan solidaritas kawasan bisa membatasi ruang gerak Israel, meski secara militer unggul. Setiap serangan udara, blokade, dan korban sipil kini menimbulkan reaksi politik, ekonomi, dan budaya secara global.

Solidaritas global kini membentuk ulang percakapan tentang Gaza. Jalanan, kampus, serikat pekerja, dan institusi budaya bersatu menentang ketidakadilan. Kampanye BDS, unjuk rasa, dan aktivisme digital memberikan tekanan moral dan material. Strategi Israel yang berfokus pada kekuatan dan penekanan kini mendapat perlawanan bukan hanya di medan perang, tetapi juga di hati nurani masyarakat dunia.

Pesannya tegas: kekuatan militer tidak bisa menggantikan legitimasi. Gaza, dengan ketahanannya, menjadi simbol keberanian dan kejelasan moral. Dari Dakar hingga Delhi, Seoul hingga Sao Paulo, warga dunia menegaskan bahwa tanggung jawab etis tak bisa dinegosiasikan.

Israel kini menghadapi krisis ganda: dominasi operasional di Gaza berhadapan dengan delegitimasi global. Kohesi sosial dalam negeri mulai goyah; ekonomi dan narasi politiknya berada dalam tekanan; kredibilitas moralnya terus menurun.

Pada akhirnya, Gaza bukan sekadar wilayah yang terkepung, ia adalah pusat kebangkitan nurani global. Rakyat Palestina menyatakan dengan lantang: Kami masih di sini. Kami masih hidup. Kami tidak akan pergi. Jalan-jalan dunia pun menggema dengan suara itu, dari ibu kota Arab hingga negara-negara Selatan Global, dari Eropa hingga Amerika Utara. Aksi protes, divestasi, kampanye budaya, dan partisipasi sipil bersatu menantang pengepungan dan menuntut keadilan. Perjuangan Palestina kini menjadi ujian nurani global, ujian yang terus membangkitkan kesadaran dan membentuk kebijakan lintas benua.

Ini adalah momen penentu. Pengepungan mungkin terus berlanjut, tetapi begitu pula solidaritas. Keunggulan militer Israel memang nyata, tetapi secara moral, politik, dan sosial, tantangan yang dihadapi kini belum pernah sebesar ini. Rakyat Palestina, jalanan dunia, negara-negara Selatan, dan diplomasi Arab kini membentuk matriks perlawanan yang tidak bisa diabaikan. Ketahanan Gaza adalah pelajaran tentang keberanian, strategi, dan kejernihan moral. Ini membuktikan bahwa bertahan hidup dan menuntut keadilan bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dua hal yang saling menguatkan, digerakkan oleh aksi global dan solidaritas yang tak pernah padam.

___

*Ranjan Solomon adalah seorang penulis opini, pengamat politik, dan aktivis hak asasi manusia yang aktif menulis tentang isu Palestina.

(T.FJ/S: MEMO)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya