Bukan Hamas, Trauma Jadi Musuh Terbesar Tentara Israel

Al-Quds, SPNA –  Kementerian Pertahanan Israel mengungkapkan jumlah tentara yang terluka sejak pecahnya perang di Jalur Gaza pada Oktober 2023  tembus 20 ribu orang. Dari jumlah itu, lebih dari 10.700 tentara atau 56 persen mengalami gangguan psikologis, mayoritas berusia di bawah 30 tahun.

Data itu dipublikasikan oleh Departemen Rehabilitasi Prajurit, unit khusus yang menangani prajurit aktif maupun veteran yang mengalami luka fisik maupun mental. Perang yang telah berlangsung hampir dua tahun itu mencatat angka tertinggi sepanjang sejarah dalam jumlah personel militer Israel yang membutuhkan perawatan medis dan dukungan psikiatris.

Rekor Baru Korban Luka

Secara total, hingga September ini terdapat 81.700 tentara dan personel keamanan Israel yang sedang berada dalam penanganan Departemen Rehabilitasi. Sebanyak 31 ribu orang atau 38%  diantaranya,  menderita gangguan kejiwaan akibat perang Gaza maupun konflik sebelumnya.

Departemen Rehabilitasi juga mencatat rata-rata 1.000 tentara baru masuk setiap bulan selama perang Gaza, dengan tambahan 600 permohonan dari veteran perang sebelumnya yang meminta pengakuan resmi atas luka mereka.

Lonjakan Anggaran Rehabilitasi

Besarnya jumlah korban memaksa pemerintah Israel melipatgandakan anggaran. Tahun ini, alokasi dana Departemen Rehabilitasi melonjak menjadi 8,3 miliar syikal  atau sekitar Rp34,8 triliun. Dari jumlah itu, 4,1 miliar syiskal diarahkan khusus untuk penanganan prajurit dengan gangguan psikologis.

“Lonjakan kasus gangguan stres pasca trauma (PTSD) di kalangan prajurit menjadi hambatan besar. Kami harus memperluas layanan rehabilitasi mental dan dukungan keluarga,” kata seorang pejabat Departemen Pertahanan Israel yang dikutip media setempat.

Laporan yang sama menunjukkan, 92 persen tentara yang tengah menjalani rehabilitasi adalah laki-laki. Dari total 20 ribu korban perang Gaza, hampir 10 ribu berusia di bawah 30 tahun, sementara 64 persen berasal dari pasukan cadangan. Rinciannya, 45 persen mengalami cedera fisik, 35 persen menderita gangguan kejiwaan, dan 20 persen lainnya mengalami kombinasi keduanya.

Sebagian luka tergolong berat: 56 orang mengalami cacat permanen 100 persen, 24 orang lainnya kehilangan kemampuan kerja sepenuhnya, dan 99 tentara mengalami amputasi anggota tubuh. Tak kurang dari 16 orang kini terpaksa hidup di kursi roda, sementara 168 orang mengalami cedera kepala berat dan membutuhkan pendampingan medis jangka panjang.

Departemen Rehabilitasi memperkirakan, pada 2028 mendatang, jumlah prajurit Israel yang berada di bawah pengawasan mereka akan menembus 100 ribu orang. 

Kondisi ini menambah beban sosial dan politik bagi pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Selain menghadapi tekanan internasional akibat gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ), Israel kini juga menghadapi krisis internal berupa melonjaknya jumlah korban luka perang, khususnya pada generasi muda tentaranya.

Agresi militer Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 64.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak. Di sisi lain, data resmi Israel jarang mengungkap total korban di pihak militernya. Laporan Kementerian Pertahanan kali ini menunjukkan perang yang berkepanjangan tidak hanya menggerus infrastruktur Gaza, tetapi juga meninggalkan jejak luka mendalam pada tentara Israel sendiri.

(T.RS/S:Maannews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya