Gaza, SPNA – Militer Israel menghancurkan sejumlah menara pemukiman tinggi yang menampung ribuan pengungsi di Kota Gaza pada akhir pekan lalu, dalam eskalasi terbaru operasi pendudukan penuh kota tersebut dan upaya pembersihan etnis terhadap penduduk Palestina.
“Mata badai yang dahsyat akan menghantam langit Kota Gaza. Atap-atap menara teror akan berguncang,” tulis Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, di platform X pada Senin (08/09/2025).
Militer Israel sebelumnya mengklaim bahwa pejuang perlawanan Palestina menggunakan menara-menara pemukiman tersebut sebagai “pusat komando dan kendali,” akan tetapi tidak menyertakan bukti pendukung. Klaim serupa juga digunakan Israel untuk membenarkan serangan terhadap rumah sakit, sekolah, dan infrastruktur sipil lainnya di Gaza.
Pada Jumat lalu (05/09), juru bicara militer Israel untuk media berbahasa Arab, Avichay Adraee, menyatakan bahwa pihaknya akan menyerang bangunan-bangunan yang disebut telah diubah menjadi “infrastruktur teroris”, termasuk kamera, ruang pemantauan, lokasi penembak jitu, peluncur rudal anti-tank, serta pusat komando dan kontrol.
Adraee juga merilis video ilustratif yang menampilkan ratusan bangunan di peta Kota Gaza yang disorot merah, menandakan bahwa bangunan tersebut akan menjadi target pemboman.
Pada hari yang sama, militer Israel membom Menara Mushtaha, dan beberapa jam kemudian, warga Menara Mecca diperintahkan untuk mengungsi sebelum gedung itu juga dihancurkan.
Wilayah Barat Kota Gaza Jadi Sasaran Baru
Dalam perluasan ofensifnya, militer Israel telah menghancurkan total wilayah permukiman di bagian timur Kota Gaza, termasuk lingkungan Zeitoun, al-Shuja’iyya, al-Tuffah, dan Sabra. Serangan kini bergerak ke arah barat kota, tempat ribuan penduduk Palestina dari timur dan utara Gaza telah mengungsi.
Wilayah-wilayah tersisa tersebut kini menampung puluhan ribu pengungsi Palestina yang berdesakan di pusat-pusat pengungsian dan berada di bawah bombardir intensif. Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, menyatakan bahwa penargetan gedung-gedung tinggi bukanlah tindakan kebetulan.
“Itu adalah bagian dari kebijakan pemindahan paksa terhadap warga sipil. Seluruh keluarga diusir ke jalanan, kehilangan tempat tinggal dan perlindungan,” ujarnya dalam pernyataan.
Gedung-gedung tinggi itu sebelumnya menjadi satu-satunya bangunan yang masih layak dan mampu menampung ribuan pengungsi. Basal menyebut penghancuran terencana ini mencerminkan niat Israel untuk memicu eksodus massal penduduk Palestina di Gaza yang kini tak memiliki tempat tujuan.
Penduduk Palestina dari wilayah timur dan utara Kota Gaza dipaksa mengungsi ke lingkungan Sudaniyya, Shanti, dan al-Rimal di bagian barat kota, serta ke kamp pengungsi Shati dan Nabulsi, dan koridor Netzarim. Lokasi-lokasi ini kini dipenuhi tenda dan pengungsi yang hidup dalam kondisi penuh sesak.

Penduduk Sipil Jadi Target di Jalanan
Direktur Layanan Darurat dan Ambulans Gaza, Faris Afana, mengatakan bahwa perintah evakuasi juga mencakup wilayah utara kota seperti Abu Iskandar, Jabalia al-Nazla, al-Jalaa, dan Jalan al-Nafaq. Menurutnya, seluruh wilayah utara Gaza kini sangat berbahaya, dan penduduk tidak bisa lagi berjalan di sana.
Ia juga mengungkapkan bahwa militer Israel menggunakan drone quadcopter untuk menembaki warga sipil yang masih berada di jalanan.
“Tentara juga memasang derek baru dengan senapan otomatis yang menembaki orang-orang di jalan,” tambahnya.
Sebagian penduduk Palestina yang berusaha mengungsi terhambat oleh biaya. “Harga sebuah tenda bisa mencapai lebih dari seribu dolar,” kata Afana. “Belum lagi biaya transportasi.” Banyak penduduk akhirnya memilih berjalan kaki ke arah selatan, meninggalkan rumah dan harta benda mereka karena tak mampu membayar ongkos transportasi.
“Sejak Israel mengumumkan niatnya untuk menginvasi Kota Gaza, tentara langsung melancarkan serangan penuh ke lingkungan Zeitoun dan Sabra, menghancurkan lebih dari 80% kawasan itu. Kemudian mereka bergerak ke Abu Iskandar di utara, hampir mengosongkan seluruh wilayah dan melakukan serangan malam hari,” lanjutnya.
Hal yang terjadi kini adalah pengepungan efektif terhadap seluruh Kota Gaza. Pasukan Israel telah menempatkan diri di berbagai penjuru kota, secara perlahan bergerak dari utara, selatan, dan timur ke arah pusat kota.
“Kami Hanya Ingin Lindungi Anak-Anak Kami”
Abdullah Abu Daf, ayah enam anak perempuan, mengungsi dari daerah al-Maghrebi di barat Kota Gaza setelah ledakan terjadi di sekitarnya. Ia mengatakan bahwa tentara memerintahkan penduduk Palestina untuk mengungsi ke selatan.
“Saya berharap tentara (Israel) berkata jujur dan tidak membom kami setelah kami meninggalkan rumah,” ujarnya.
Ia mengaku tak takut mati, tetapi ingin melindungi anak-anaknya.
“Kami sudah berulang kali menyaksikan kematian dalam perang ini, jadi kami tidak takut lagi. Ketika tentara memerintahkan kami untuk pergi, kami pergi bukan untuk diri kami sendiri, tapi untuk melindungi anak-anak. Mereka tidak layak dibakar hidup-hidup atau dimakan anjing. Itulah yang terjadi pada tetangga dan kerabat kami di Kota Gaza,” cerita Abu Daf.
Abu Daf juga menceritakan kisah tetangganya yang meninggal dunia di dalam rumah, ada yang terbakar hidup-hidup bersama keluarganya, dan ada pula yang jasadnya masih tertimbun puing-puing karena tim penyelamat tidak dapat menjangkaunya. Ia tidak ingin anak-anaknya bernasib sama.
Gaza Jadi “Rumah Jagal” bagi Warga Sipil
Sepanjang akhir pekan, jumlah warga yang mengungsi dari kota terus meningkat seiring pemboman mendekati pusat kota, menyasar tempat perlindungan dan bangunan yang masih berdiri.
Hassan al-Hawi, warga Sheikh Radwan di barat Kota Gaza, mengatakan ia melarikan diri bersama keluarganya ke Deir al-Balah di Gaza tengah karena drone quadcopter mulai menembaki rumah-rumah dan warga di wilayahnya.
“Kami menghabiskan tiga hari mencari tempat tinggal, dan akhirnya terpaksa mengungsi ke sekolah UNRWA di Deir al-Balah. Drone itu mendekati rumah kami dan dari pengeras suara mereka memaki serta mengancam kami agar segera pergi. Mereka bahkan menembaki kami dari jendela dan kadang masuk melalui jendela itu,” ujarnya.
Hassan al-Hawi tidak tahu apakah ia bisa tetap tinggal atau akan diperintahkan pergi lagi setelah Israel menyelesaikan operasi penghancuran di Kota Gaza.
“Gaza telah menjadi rumah jagal bagi penduduk sipil. Israel bukan sedang membom Hamas atau pejuang perlawanan, tetapi menargetkan penduduk sipil tak berdaya yang terkepung dan kekurangan makanan serta air,” ujarnya.
Sejak Israel melancarkan genosida di Gaza sejak Oktober 2023, ratusan ribu penduduk Palestina telah dipaksa mengungsi dari rumah mereka di Gaza. Jumlah korban jiwa kini telah melampaui 64.300 orang, sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak. Beberapa laporan menyebut angka tersebut masih konservatif; jurnal medis, The Lancet, memperkirakan jumlah korban sebenarnya bisa melebihi 186.000 jiwa.
(T.FJ/S: Mondoweiss)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!