Brussel, SPNA – Polisi federal Belgia telah menangkap dan menginterogasi dua tentara Israel yang secara kredibel dituduh melakukan kejahatan perang di Gaza, demikian diumumkan oleh Hind Rajab Foundation (HRF) pada Senin (21/07/2025). Ini menandai pertama kalinya tersangka asal Israel yang terkait dengan kejahatan di Gaza dikenai penangkapan dan pemeriksaan resmi.
Tindakan ini dilakukan sebagai respons atas pengaduan hukum mendesak yang diajukan awal pekan ini oleh HRF bersama Jaringan Aksi Hukum Global (Global Legal Action Network/GLAN).
HRF saat ini memimpin kampanye hukum internasional terhadap tentara Israel yang terlibat dalam kejahatan perang, yang secara signifikan memaksa para tentara tersebut untuk menghindari perjalanan internasional demi menghindari risiko penangkapan.
Kedua tentara itu diidentifikasi dan ditangkap saat menghadiri festival musik Tomorrowland di kota Boom, Belgia.
“Setelah diamankan, mereka diinterogasi secara resmi dan kemudian dibebaskan. Kantor Kejaksaan Federal Belgia telah mengonfirmasi bahwa penyelidikan pidana sedang berlangsung,” ujar HRF dalam pernyataannya.
“Ini menunjukkan bahwa Belgia mengakui yurisdiksinya berdasarkan hukum internasional dan memperlakukan tuduhan tersebut dengan keseriusan yang layak,” tambah HRF.
Pada Januari lalu, liburan seorang tentara cadangan Israel di Brasil juga berakhir mendadak setelah muncul tuduhan bahwa ia terlibat dalam kejahatan perang di Jalur Gaza.
Yuval Vagdani melarikan diri secara tiba-tiba setelah HRF berhasil meyakinkan hakim federal di Brasil untuk membuka penyelidikan kejahatan perang atas dugaan keterlibatannya dalam penghancuran rumah-rumah sipil di Gaza.
Lembaga HRF dinamai berdasarkan seorang anak perempuan Palestina berusia enam tahun, Hind Rajab, yang dibunuh bersama sejumlah anggota keluarganya menggunakan tembakan tank Israel saat mereka berada di dalam mobil di Gaza pada Januari 2024.
Hind dan keluarganya terbunuh saat mencoba melarikan diri dari daerah tempat tinggal mereka di Kota Gaza, setelah militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi di wilayah tersebut. Jenazah mereka baru ditemukan 12 hari kemudian.
Investigasi oleh kelompok riset multidisipliner Forensic Architecture memetakan total 335 lubang peluru di mobil Kia Sedan tempat Hind dan keluarganya dibunuh tentara Israel.
Penyelidikan ini dilakukan bersama Earshot dan jurnalis dari program Fault Lines milik Al Jazeera. Temuan mereka menunjukkan bahwa dua petugas medis dari Bulan Sabit Merah Palestina (Palestine Red Crescent Society/PRCS) yang mencoba menyelamatkan Hind juga meninggal dunia akibat tembakan dari tank Israel.
Meskipun sebagian besar kematian penduduk sipil Palestina akibat serangan Israel dalam perang genosida di Gaza tak banyak mendapat perhatian, kematian Hind menarik perhatian dunia internasional setelah PRCS mempublikasikan rekaman suara panggilan darurat yang dilakukan oleh sepupunya, Layan Hamadeh (15 tahun).
Setelah semua orang dewasa di dalam mobil tertembak mati, Layan menggunakan ponsel untuk menghubungi petugas PRCS.
Layan berkata, “Mereka menembaki kami. Tank ada di sebelah saya. (Kami bersembunyi) di dalam mobil. Kami ada di dekat tank.”
Teriakan Layan terdengar sampai suaranya tiba-tiba hilang, hanya dua puluh detik setelah panggilan dimulai. Selama panggilan tersebut, terdengar 64 tembakan dalam waktu hanya enam detik.
(T.FJ/S: The Cradle)