Gaza Luka yang Tak Sembuh: Ketika Anak-anak Kehilangan Masa Depannya

Seorang gadis berusia 9 tahun dipenuhi luka serpihan peluru di Rumah Sakit Al Shifa, Kota Gaza (Foto: The Telegraph)

Jalur Gaza, SPNA – Di tengah reruntuhan bangunan dan dentuman yang sudah menjadi bagian dari rutinitas, Gaza bukan lagi sekadar zona perang. Ia kini menjelma menjadi kuburan bagi harapan, tempat di mana anak-anak tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga kehilangan masa depan. Ketika dunia melirik ke tempat lain, Gaza terus menangis dalam senyap.

Sejak Oktober 2023, perang tak berkesudahan telah mengubah kehidupan dua juta lebih penduduk Gaza menjadi mimpi buruk. Israel menggempur wilayah sempit ini dengan kekuatan militer penuh, mengklaim memburu kelompok bersenjata, namun yang hancur justru rumah-rumah, sekolah, rumah sakit, bahkan kamp pengungsian. Data dari PBB menyebut lebih dari 59.600 warga Palestina telah tewas, separuhnya adalah anak-anak dan perempuan. Namun angka itu hanya sebagian dari horor sesungguhnya. Di balik angka-angka itu, ada nama-nama kecil yang tak sempat tumbuh, dan ada jeritan ibu-ibu yang kehilangan segalanya.

Bukan hanya kematian yang menghantui warga Gaza. Lapar kini menjadi musuh harian. Badan Pangan Dunia (WFP) menyebutkan bahwa 9 dari 10 orang di Gaza tidak makan cukup dalam sehari. Mereka harus berbagi satu roti untuk lima orang, minum air yang keruh, dan menunggu bantuan yang tak kunjung datang. Di Rafah dan Jabalia, keluarga-keluarga menggali tanah untuk mencari sisa sayuran busuk atau menampung air hujan demi bertahan hidup. Tapi lebih menyedihkan lagi, banyak ibu yang rela tidak makan agar anak-anak mereka bisa bertahan satu hari lagi.

Trauma yang Tak Terobati: 70% Anak Gaza Derita PTSD

Namun derita Gaza tidak hanya fisik. Anak-anak, yang seharusnya bermain dan belajar, kini hidup dalam ketakutan terus-menerus. UNRWA mengungkapkan bahwa sekitar 70% anak-anak di Gaza menunjukkan gejala PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). Mereka kerap terbangun di malam hari karena mimpi buruk, menangis saat mendengar suara keras, dan menolak berbicara. Ada anak-anak yang bahkan tak bisa lagi tersenyum.

Seorang relawan kesehatan mental menceritakan kisah bocah bernama Ahmad, berusia 6 tahun, yang tak pernah mau melepas sepatunya meski sudah berada di dalam tenda pengungsian. Ketika ditanya, ia menjawab: “Aku takut jika bom datang, aku bisa lari lebih cepat.” Bayangkan beban pikiran itu ditanggung oleh seorang anak yang bahkan belum paham apa itu dunia.

Di banyak negara, anak-anak seusia Ahmad bermain di taman dan belajar menggambar di kelas. Tapi di Gaza, mereka belajar bagaimana menyelamatkan adik saat rumah roboh, atau bagaimana menyusuri puing untuk mencari air.

Rumah Sakit Tanpa Obat, Bantuan yang Dihalang-Halangi

Sistem kesehatan di Gaza benar-benar runtuh. Lebih dari separuh rumah sakit tidak berfungsi, dan rumah sakit yang masih bertahan kini menjadi tempat berkumpulnya ratusan ribu pengungsi. Dokter bekerja tanpa obat, tanpa alat, dan tanpa istirahat. Seorang dokter dari LSM MedGlobal berkata, “Kami tak bisa lagi memilih siapa yang dirawat. Terlalu banyak luka, terlalu sedikit alat.”

Ironisnya, ratusan truk bantuan yang membawa makanan, obat, dan air bersih terparkir di perbatasan Rafah dan Kerem Shalom selama berbulan-bulan. Israel membatasi masuknya bantuan dengan alasan keamanan, sementara anak-anak meninggal karena diare dan kekurangan gizi.

Sekjen PBB António Guterres berulang kali menyatakan bahwa situasi di Gaza adalah “bencana kemanusiaan buatan manusia”. Artinya, kelaparan dan penderitaan ini bukan takdir, melainkan akibat dari keputusan-keputusan politik yang disengaja. Dunia tahu, tapi dunia memilih bungkam.

Diam Adalah Kekejaman Lain

Gaza telah berubah dari tempat tinggal menjadi penjara terbuka, dari kampung halaman menjadi kuburan massal. Namun yang paling memilukan adalah kenyataan bahwa penderitaan ini bisa dihentikan tapi tidak dihentikan. Negara-negara besar berbicara tentang “hak membela diri”, tapi melupakan hak anak-anak untuk hidup. Mereka menggelar konferensi pers, namun tak menghentikan aliran senjata. Mereka mengirim dana kemanusiaan, namun tetap menjual bom dan rudal.

Hari ini, Gaza bukan hanya soal konflik Palestina-Israel. Gaza adalah ujian nurani bagi kemanusiaan. Dan ketika kita terus membiarkan anak-anak kelaparan, trauma, dan mati dalam diam, maka kita semua menjadi bagian dari kekejaman itu.

(T.RS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya