Tentara Israel Bongkar Kebijakan Tembak Mati Warga Sipil Gaza

Jalur Gaza, SPNA – Seorang tentara cadangan Israel dalam sebuah wawancara dengan Sky News membongkar praktik mengerikan yang terjadi di dalam militer Israel selama operasi militer di Jalur Gaza. 

Berdasarkan keterangan prajurit yang tidak disebutkan namanya itu, mereka diperintahkan untuk menembak warga sipil tak bersenjata yang masuk ke zona larangan.

“Perintahnya jelas, siapa pun yang masuk wilayah itu harus mati. Tidak penting siapa dia, tidak penting apakah dia bersenjata atau tidak,” ungkapnya. 

Tentara tersebut adalah anggota Divisi 252 Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Ia sudah tiga kali dikirim ke Gaza sejak pecahnya perang besar pada Oktober 2023. Ia secara khusus ditugaskan di Koridor Netzarim, sebuah jalur buatan Israel yang memotong Gaza dari barat ke timur, tujuannya: membelah wilayah Gaza dan melemahkan pergerakan rakyat Palestina.

“Zona Larangan” yang Tak Terlihat: Warga Sipil Dijadikan Target

Menurut kesaksian tentara ini, militer Israel menetapkan zona-zona tertentu sebagai “wilayah larangan” atau no-go zones. Tapi yang mengerikan adalah tidak ada papan peringatan, tidak ada tanda batas, bahkan tidak diberitahu ke warga Gaza di lapangan. Batasnya hanya “garis imajiner” yang ditentukan sepihak oleh militer.

“Mereka bilang semua warga Gaza tahu batas itu. Tapi bagaimana bisa? Tidak ada peta, tidak ada peringatan. Namun siapapun yang lewat langsung ditembak. Bisa jadi cuma remaja naik sepeda, tapi dianggap musuh dan dibunuh begitu saja.”

Rumah-rumah warga Palestina yang kosong digunakan sebagai markas tentara Israel. Dari situlah zona “mematikan” ini dibuat. Bahkan menurutnya, para tentara diperintahkan untuk menembak siapa saja yang bergerak di luar rumah tersebut, termasuk mereka yang hanya mencari barang bekas atau mencoba kembali ke rumah mereka.

Militer Tanpa Aturan: Komandan Jadi Tuhan di Medan Perang

Lebih mengerikan lagi, tentara ini menjelaskan bahwa aturan tembak-menembak sepenuhnya bergantung pada suasana hati komandan di hari itu.

“Hari ini bisa jadi mereka diperintahkan ditangkap, besok bisa berubah, tembak semua yang lewat. Tidak ada konsistensi. Semua bergantung pada siapa komandannya, dan apa mood-nya hari it.”

Ia menyaksikan sendiri kejadian mengerikan di mana seorang pria ditembak mati karena melintasi zona tersebut. Ketika pria lain datang mendekat untuk melihat jenazah, ia hanya ditangkap. Namun, beberapa jam kemudian, perintah berubah lagi, siapa pun yang melintas harus langsung ditembak.

“Semua Warga Gaza Dianggap Teroris”

Pengakuan paling mengerikan dari tentara ini adalah soal doktrin yang ditanamkan kepada para prajurit bahwa semua warga Gaza dianggap sebagai musuh. Ia mengungkap bahwa banyak tentara Israel percaya bahwa tidak ada warga sipil tak bersalah di Gaza.

“Kalau mereka masih di Gaza, artinya mereka bagian dari musuh. Mereka pasti senang waktu kita diserang 7 Oktober. Jadi mereka layak mati. Inilah doktrin yang ditanamkan.”

Narasi itu dijadikan pembenaran atas pembantaian massal. Sejak 7 Oktober 2023, Israel membalas serangan Hamas dengan bombardir brutal ke Jalur Gaza. Lebih dari 57.000 warga Palestina dilaporkan gugur, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak dan perempuan. Sementara itu, lebih dari 75% infrastruktur Gaza kini rata dengan tanah, termasuk rumah sakit, sekolah, kamp pengungsian, dan pusat distribusi makanan.

Kenyataan di Lapangan: Bukan Perang, Tapi Pembantaian

Tentara ini juga mengisahkan bahwa ia pernah ditempatkan di sekitar wilayah Shujaiya, di mana ia melihat warga Palestina hanya mencoba mengumpulkan logam bekas dan panel surya dari bangunan yang hancur, jelas bukan aksi terorisme. Namun, dalam sistem militer Israel, tidak ada ruang untuk belas kasih.

“Setiap komandan bebas memutuskan sendiri apa yang akan dilakukan. Mau membunuh, mau membiarkan, semuanya terserah dia. Tak ada aturan. Tak ada yang dihukum. Ini bukan militer yang patuh hukum, ini sistem kejam yang membolehkan kejahatan perang.”

Bicara Kebenaran di Tengah Ancaman Sosial

Di Israel, militer dipuja sebagai simbol persatuan nasional. Mengkritik IDF bisa membuat seseorang dikucilkan dari keluarga, teman, dan masyarakat. Karena itulah, pengakuan ini sangat langka dan berani. Ia memilih anonim karena takut dicap pengkhianat.

“Saya merasa sudah terlibat dalam sesuatu yang buruk. Sekarang saya harus melawannya, walau hanya dengan bicara. Banyak orang Israel tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka pikir ini soal menyelamatkan sandera. Tapi mereka tidak tahu bahwa kita membunuh ribuan orang yang tak bersalah untuk itu.”

Respons Militer Israel: “Kami Patuh Hukum Internasional”

Ketika Sky News meminta tanggapan resmi, militer Israel hanya memberikan jawaban standar bahwa mereka beroperasi sesuai aturan keterlibatan dan hukum internasional dan tidak menargetkan warga sipil.

Mereka juga mengklaim telah memberikan peringatan kepada warga Gaza untuk meninggalkan daerah konflik. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa zona aman juga dibombardir, dan warga tidak punya tempat untuk lari. Bahkan, sejumlah laporan menyebut bahwa pengungsi ditembaki saat mengikuti perintah evakuasi.

Kesaksian ini membongkar wajah asli dari operasi militer Israel di Gaza: bukan sekadar serangan balasan, tetapi tindakan pembantaian sistematis yang disamarkan dengan dalih “keamanan” dan “anti-terorisme”.

Dengan tentara yang diberikan kekuasaan mutlak untuk menembak warga sipil tanpa dasar hukum, zona perang berubah menjadi zona pembunuhan, dan seluruh Jalur Gaza berubah menjadi ladang kematian yang sah dibombardir tanpa konsekuensi hukum.Israel selalu menolak tuduhan kejahatan perang. Namun kini, kesaksian dari dalam tubuh tentaranya sendiri membuktikan sebaliknya. 

(T.RS/S:SkyNews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya