Pil Mematikan dalam Karung Tepung: Gaza Ungkap Skandal Bantuan Palsu Israel

Warga Palestina berkumpul di titik distribusi bantuan yang didirikan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), dekat kamp pengungsi Nuseirat pada 25 Juni 2025 (Eyad Baba/AFP).

Jalur Gaza, SPNA – Pemerintah Gaza mengungkap temuan mengejutkan berupa pil narkotika jenis oxycodone di dalam karung-karung tepung bantuan yang disalurkan oleh pusat distribusi yang dioperasikan organisasi bantuan “Amerika-Israel” di Jalur Gaza. 

Temuan ini mencuat setelah empat warga memberikan kesaksian langsung mengenai keberadaan pil tersebut di dalam paket bantuan pangan yang mereka terima.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Jumat (27/6), Kantor Media Pemerintah Gaza memperingatkan kemungkinan bahwa sebagian zat narkotika tersebut tidak hanya disisipkan dalam bentuk pil, melainkan bisa saja telah dihancurkan dan dicampur langsung ke dalam tepung. 

Otoritas setempat sedang melakukan penyelidikan untuk memastikan seberapa luas kontaminasi ini menyebar dan dari mana sumbernya.

Oxycodone adalah obat opioid yang biasa digunakan untuk mengobati nyeri berat jangka panjang, terutama pada pasien kanker. Namun, obat ini dikenal sangat adiktif dan berisiko tinggi menyebabkan overdosis, gangguan pernapasan, gangguan kesadaran, serta ketergantungan akut. Penggunaan oxycodone secara tidak terkontrol juga dapat memicu gangguan mental serius, termasuk halusinasi.

Distribusi obat semacam ini di luar jalur medis resmi dilarang keras secara hukum, dan penggunaannya harus dilakukan dengan pengawasan ketat oleh tenaga kesehatan. Karena itulah, keberadaan oxycodone di dalam bantuan pangan memicu kekhawatiran serius mengenai potensi bahaya jangka panjang bagi kesehatan publik di Gaza, khususnya di kalangan anak-anak dan pengungsi.

Penemuan pil ini pertama kali ramai diperbincangkan di media sosial, disertai foto-foto yang menunjukkan pil bulat putih di antara butiran tepung. Omar Hamad, seorang apoteker di Gaza, menyebut temuan tersebut sebagai “bentuk paling licik dari genosida modern”.

Senada dengan itu, Dr Khalil Mazen Abu Nada, dokter yang aktif di Gaza, menulis di media sosial bahwa peredaran oxycodone di dalam bantuan pangan merupakan “upaya sistematis untuk merusak kesadaran sosial masyarakat Palestina” melalui penyebaran kecanduan dan degradasi mental.

Kecurigaan mengarah pada Gaza Humanitarian Foundation (GHF), sebuah organisasi bantuan yang beroperasi di Gaza dengan dukungan logistik dari Israel dan Amerika Serikat. GHF selama ini dikenal sebagai pengelola sejumlah pusat distribusi bantuan di wilayah selatan dan tengah Jalur Gaza.

Organisasi ini telah dikritik oleh berbagai kelompok HAM karena tidak transparan dan tidak akuntabel. Bahkan, pada Rabu (25/6), sebanyak 15 organisasi HAM dan hukum internasional menyerukan penghentian operasi GHF, dengan tuduhan bahwa lembaga tersebut terlibat dalam strategi relokasi paksa warga sipil dan melanggengkan struktur kekuasaan militer Israel atas Gaza.

Dalam pernyataan bersama, mereka menyebut GHF berpotensi terlibat dalam pelanggaran serius terhadap hukum internasional, termasuk kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida.

Pemerintah Gaza menyerukan kepada komunitas internasional dan badan-badan PBB untuk segera melakukan penyelidikan independen terhadap dugaan kontaminasi bantuan dengan zat narkotika. 

Selain itu, mereka menuntut dihentikannya seluruh operasi GHF dan menuntut transparansi penuh dalam proses distribusi bantuan kemanusiaan di Gaza.

“Bantuan seharusnya menyelamatkan, bukan membunuh secara diam-diam,” tegas juru bicara Kantor Media Pemerintah Gaza.

Bantuan Berbalut Racun di Tengah Blokade

Kasus ini menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza. Di tengah blokade total, keruntuhan sistem kesehatan, dan lonjakan angka kematian bayi akibat kelaparan dan penyakit, penemuan zat adiktif dalam bantuan pangan menjadi sinyal berbahaya. Bantuan yang seharusnya menjadi harapan, justru berubah menjadi senjata senyap.

Sampai laporan ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari GHF maupun pihak militer Israel terkait tuduhan ini.

(T.RS/S:MiddleEastMonitor)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya