Peran Google dan Microsoft dalam Mendukung Mesin Perang Israel di Palestina

Ditulis oleh: Refaat Ibrahim*

Gaza, SPNA – Di tengah meningkatnya kekhawatiran dunia terhadap kejahatan terhadap penduduk sipil Palestina di Gaza dan seruan global untuk menghentikan genosida yang dilakukan oleh Israel, muncul kabar mengejutkan mengenai peran besar perusahaan teknologi dalam mendukung perang tersebut.

Pada Juli 2024, Alphabet, perusahaan induk Google, mengumumkan bahwa mereka telah resmi mengakuisisi perusahaan Israel bernama Wiz dengan nilai fantastis. Senilai 32 miliar dolar AS atau sekitar 512 triliun rupiah, secara tunai. Akuisisi ini merupakan yang terbesar dalam sejarah Google.

Kesepakatan ini bukan sekadar investasi bisnis biasa. Hal ini menunjukkan betapa dalam keterlibatan moral dan teknis perusahaan teknologi Silicon Valley dalam mendukung ekonomi pendudukan Israel, bahkan dalam pembiayaan militer dan intelijennya.

Pertanyaan besar pun muncul: Apa hubungan antara Wiz dan intelijen militer Israel? Mengapa Google rela menggelontorkan miliaran dolar kepada sebuah startup yang didirikan oleh mantan perwira unit siber militer Israel, Unit 8200? Dan bagaimana investasi ini berkontribusi pada pendudukan dan serangan terhadap penduduk sipil Palestina?

Akuisisi Terbesar dalam Sejarah Google

Pada 14 Juli 2024, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Alphabet telah menyelesaikan akuisisi Wiz dengan nilai 32 miliar dolar, setelah tawaran awal sebesar 23 miliar (sekitar 368 triliun rupiah), ditolak. Langkah ini bukan hanya untuk investasi, tetapi sebagai strategi Google untuk memperkuat teknologi keamanannya, terutama dalam persaingan dengan Microsoft dan Amazon.

Wiz adalah salah satu perusahaan perangkat lunak dengan pertumbuhan tercepat di dunia, menghasilkan pendapatan 700 juta dolar (sekitar 11,2 triliun rupiah) pada 2024 dan diperkirakan mencapai 1 miliar dolar (sekitar 16 triliun rupiah), pada 2025. Perusahaan ini didirikan oleh empat warga Israel. Assaf Rappaport, Yinon Costica, Roy Reznik, dan Ami Luttwak. Semuanya adalah alumni Unit 8200.

Sebelumnya, mereka juga mendirikan Adallom, yang dijual ke Microsoft pada 2015 seharga 320 juta dolar (sekitar 5,12 triliun rupiah). Wiz sendiri didirikan pada Maret 2020 dan dengan cepat tumbuh menjadi pemain besar di pasar keamanan cloud. Pasar keamanan cloud (cloud security market) adalah sektor industri teknologi yang menyediakan layanan dan solusi untuk melindungi data, aplikasi, dan infrastruktur yang disimpan di layanan cloud (komputasi awan) dari ancaman digital seperti peretasan, pencurian data, dan serangan siber.

Teknologi Israel Berasal dari Militer

Banyak perusahaan teknologi Israel, termasuk Wiz, berakar dari unit militer elit seperti Unit 8200 dan Unit 81. Unit ini berfungsi sebagai pusat pelatihan rahasia untuk peretasan, analisis data besar, dan pengembangan teknologi pengawasan. Teknologi yang dikembangkan dalam unit militer ini kemudian dikomersialkan oleh mantan anggotanya melalui startup teknologi.

Contoh paling terkenal adalah NSO Group, pembuat perangkat lunak Pegasus, yang digunakan untuk memata-matai aktivis hak asasi manusia di Palestina serta jurnalis dan oposisi politik di seluruh dunia.

Beberapa perusahaan teknologi Israel lainnya yang mendapat investasi besar dari luar negeri termasuk: Argus Cyber Security, Check Point Software, dan Cybereason.

Investasi Google di Perusahaan Israel

Google sudah lama berinvestasi di perusahaan teknologi Israel. Pada 2013, Google membeli aplikasi navigasi Waze seharga 1,1 miliar dolar (17,6 triliun rupiah). Di tahun-tahun berikutnya, Google juga mengakuisisi perusahaan seperti SlickLogin, Simplicity, Siemplify, dan Orbitera, sebagian besar bergerak di bidang keamanan siber dan kecerdasan buatan.

Google bukan satu-satunya. Microsoft juga berperan besar, termasuk membeli Adallom, Hexadite, dan CyberX. Microsoft bahkan menandatangani kontrak senilai 133 juta dolar dengan Kementerian Pertahanan Israel untuk menyimpan data militer dan proyek sensitif lainnya di layanan cloud Azure. Ini termasuk data untuk “bank target” dan “registrasi penduduk Palestina”, yang digunakan untuk mendukung operasi militer di Gaza.

Reruntuhan di Gaza akibat serangan Israel. (Foto: Motasem Murtaja)

Teknologi untuk Genosida di Gaza

Peran perusahaan teknologi raksasa kini tak bisa dilepaskan dari konflik yang sedang berlangsung. Israel telah menghabiskan lebih dari 67 miliar dolar (1.072 triliun rupiah) untuk perang di Gaza, dan sebagian besar dana tersebut berasal dari investasi asing di sektor teknologi.

Baru-baru ini, keterlibatan Microsoft dalam menyediakan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung genosida yang sedang berlangsung di Gaza terungkap setelah video viral yang menunjukkan dua insinyur Microsoft, Ibtihal Aboussad dan Vaniya Agrawal, masing-masing mengganggu dua acara Microsoft yang berbeda sebagai bentuk protes atas keterlibatan perusahaan tersebut dalam genosida tersebut.

Pada dua acara terpisah pada 4 April, Aboussad menghadapi CEO AI Microsoft, Mustafa Suleyman, sementara Agrawal menghadapi mantan CEO Bill Gates dan Steve Ballmer saat mereka berbicara dengan CEO saat ini, Satya Nadella. Kedua insinyur tersebut kemudian dipecat.

Perusahaan teknologi besar seperti Microsoft dan Google tidak hanya bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan Israel, tetapi juga sangat bergantung pada mereka untuk kemajuan teknologi. Ini mengarah pada pengalihan miliaran dolar ke ekonomi Israel, yang memperkuat kemampuan teknologi mereka, dan kemampuan ini pada gilirannya digunakan untuk tujuan militer dan intelijen, seperti untuk melancarkan genosida di Gaza.

Google dan Pembiayaan Perang Israel

Investasi besar-besaran ini terjadi pada saat Israel membutuhkan dana yang signifikan, setelah menghabiskan lebih dari puluhan miliar dolar AS untuk perang di Gaza. Investasi ini tidak hanya digunakan untuk mengganti kerugian perang, tetapi juga untuk membiayai pertumbuhan terus-menerus kemampuan militer Israel, termasuk senjata dan peralatan yang digunakan melawan penduduk sipil Palestina.

Hal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang komitmen etis perusahaan multinasional seperti Google terkait dengan investasi mereka, terutama ketika ekonomi yang mereka investasikan langsung terkait dengan pembiayaan tentara yang melakukan kejahatan perang dan genosida. Apakah perusahaan seperti Google dan Microsoft sadar bahwa investasi mereka membantu pendanaan perang dan genosida terhadap penduduk sipil Palestina?

Di tengah perayaan resmi yang diadakan oleh Microsoft, Ibtihal Aboussad menuduh CEO Microsoft telah memanfaatkan kecerdasan buatan untuk genosida. “Anda mengklaim peduli tentang penggunaan kecerdasan buatan untuk kebaikan, tetapi Microsoft menjual senjata AI kepada tentara Israel. 50.000 orang telah meninggal, dan Microsoft mendukung genosida ini di wilayah kami”.

Aboussad menjelaskan bahwa Microsoft telah menandatangani kontrak senilai 133 juta dolar AS (sekitar 2,128 triliun rupiah) dengan Kementerian Pertahanan Israel untuk menyimpan data dalam jumlah besar melalui layanan “Azure”, yang secara langsung berkontribusi pada pengawasan terhadap Palestina dan operasional proyek-proyek paling sensitif Israel, seperti “bank target” dan “daftar penduduk Palestina,” yang digunakan oleh sistem AI untuk mempermudah pembantaian di Gaza.

Ketergantungan perusahaan teknologi besar, termasuk Microsoft dan Google, untuk menerapkan inovasi mereka guna melayani penjajahan Palestina ini bukan lagi sekadar masalah moral, tetapi telah menjadi keterlibatan langsung dalam proyek genosida di Gaza.

Protes dan Perasaan Aboussad dan Agrawal

Dalam email internal kepada staf, Aboussad menulis: “Selama lebih dari satu setengah tahun, saya menyaksikan genosida terhadap rakyat saya di Palestina. Saya menyadari bahwa sebagian dari pekerjaan saya digunakan untuk membunuh anak-anak, dokter, jurnalis, dan warga sipil. Saya tidak bisa diam saja”.

Argawal menyampaikan perasaan serupa dalam wawancara media dengan Middle East Eye: “Semakin lama, saya semakin merasa kesulitan untuk terus memberikan waktu, energi, dan perhatian saya kepada perusahaan yang jelas-jelas berada di sisi yang salah dalam sejarah”.

___

*Refaat Ibrahim adalah penulis Palestina yang berasal dari Gaza. Ia menulis tentang isu-isu kemanusiaan, sosial, ekonomi, dan politik yang berkaitan dengan Palestina.

(T.FJ/S: Mondoweiss)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya