Oleh: Mustafa Barghouti

Dr. Mustafa Barghouti adalah seorang aktivis terkemuka, dokter, dan pendiri Palestinian National Initiative. Sebagai pemimpin yang teguh dalam memperjuangkan kebebasan dan hak-hak dasar rakyat Palestina, Barghouti dikenal karena suara independennya yang lantang dan konsisten dalam menuntut keadilan. Ia memiliki peran penting dalam merumuskan Deklarasi Beijing, yang menyerukan kesatuan seluruh faksi Palestina untuk bersatu dalam perjuangan, mengesampingkan perbedaan sektarian demi hak-hak mereka. Barghouti juga merupakan kritikus tajam terhadap kebijakan-kebijakan yang menindas Palestina, baik yang diterapkan oleh Israel maupun yang disokong oleh kekuatan internasional yang sering kali mengabaikan penderitaan rakyat Palestina.
Jalur Gaza, SPNA – Dunia barat, pers internasional, dan politisi-politisi oportunis kerap memulai cerita Palestina pada tanggal 7 Oktober 2023, seolah itulah awal mula kekerasan. Seolah-olah pada pagi itu, kekacauan turun dari langit tanpa sebab, dan Israel adalah korban yang tak berdosa. Begitulah propaganda bekerja; memangkas sejarah, menghapus konteks, dan membungkus penjajahan dalam narasi “membela diri”.
Sebab utama dari perang ini bukanlah 7 Oktober, bukan pula satu faksi atau satu kelompok. Akar konflik adalah “kolonialisme Israel, yang selama 75 tahun telah mengusir, membunuh, dan merampas hak dasar rakyat Palestina”. Rakyat Palestina hidup dalam sistem apartheid, dibelenggu oleh blokade, di bawah moncong senapan, dan diabaikan oleh dunia.
Gaza, bahkan sebelum perang terakhir ini, adalah penjara terbuka yang dikelola oleh Israel. Sudah 17 tahun lamanya dua juta lebih penduduk Gaza hidup di bawah blokade total, tidak ada kebebasan bergerak, tidak ada hak atas air bersih, listrik, pekerjaan, atau masa depan.
UNICEF menyebut bahwa 80% anak-anak Gaza hidup dalam trauma berkepanjangan. PBB bahkan telah menyatakan sejak 2020, Gaza akan menjadi wilayah “tak layak huni”.
Tapi siapa yang peduli? Tidak ada panggilan darurat dari Barat. Tidak ada sanksi. Tidak ada embargo terhadap Israel. Karena pelakunya adalah “sekutu”.
Di Tepi Barat, penjajahan bersalin rupa. Permukiman ilegal yang terus menyebar seperti sel kanker, lebih dari 700.000 penduduk Yahudi bersenjata mencaplok tanah Palestina. Mereka bebas melakukan kejahatan secara brutal tanpa khawatir dengan jerat hukum karena dilindungi tentara IDF.
Tidak ada Hamas di Tepi Barat, namun IDF berulang kali melakukan eksekusi mati terhadap warga Palestina di jalanan, di ladang zaitun, di dalam rumah, di Jenin, di Nablus dan Hebron. Etnisitas Palestina menjadi dalih penindasan dan pembunuhan. Sejak awal 2023 saja, ribuan warga ditahan tanpa dakwaan melalui “penahanan administratif”, nama sopan untuk penculikan Israel tanpa sebab.
Namun semua ini luput dari headline media-media arus utama. Mengapa? Karena korbannya adalah Palestina. Dunia hanya menangis saat yang menderita bukan orang Palestina.
Netanyahu sendiri berkata: “Tidak ada tempat untuk Hamas, tidak untuk Fatah, tidak untuk PLO, dan tidak untuk entitas Palestina mana pun.” Dengan kata lain, yang ditolak adalah hak rakyat Palestina untuk hidup merdeka di tanahnya sendiri.
Ketika Palestina bersuara meminta keadilan mereka akan dituduh ekstremis, ketika melawan dituduh “teroris”. Sekarang, pasca 7 Oktober, dunia kembali mempercayai narasi yang sama, bahwa Israel hanya “membalas serangan”. Tapi saya ingin bertanya: Balasan macam apa yang membunuh lebih dari 52.000 lebih nyawa manusia, 70% di antaranya adalah perempuan dan anak-anak?
Balasan macam apa yang menghancurkan lebih dari 70% infrastruktur sipil, rumah sakit, sekolah, kamp pengungsi?
Balasan macam apa yang menggunakan kelaparan sebagai senjata, memblokir bantuan kemanusiaan, dan mengebom pengungsi yang sedang mengantri untuk mengambil sejumput roti?
Menurut laporan WHO dan UNRWA, lebih dari 1,1 juta penduduk Gaza kini terancam mati kelaparan. Lebih dari 14.000 anak tewas dibombardir.
Rata-rata, setiap 10 menit, satu anak Palestina terbunuh. Jika ini bukan pembantaian, maka barangkali kamus dunia telah diganti diam-diam oleh para lobi-lobi handal Israel.
Ironisnya, saat Palestina yang menyerukan penyelidikan dan akuntabilitas, dituduh “mengganggu proses perdamaian” yang bahkan tidak pernah dimulai. Palestina hanya meminta satu hal: Keadilan! Tapi tampaknya, keadilan juga telah dijajah.
Jangan tertipu oleh narasi yang dimulai dari tengah. Jangan biarkan penjajah yang menentukan tanggal awal sejarah. Dan jangan biarkan dunia mencuci tangan dari genangan darah yang mereka ciptakan, atas nama aliansi, investasi, dan “stabilitas kawasan”. Sejarah akan mencatat siapa yang diam, sementara Palestina, meskipun dihancurkan hari ini, akan tetap berdiri, karena kebenaran tidak bisa dipunahkan.
(T.RS)