Saat Dunia Menjadi Penonton Bisu atas Kehancuran Gaza di Tangan Netanyahu

Foto: 3 Mohammed (Hamoud) bermain dengan gembira, ditonton oleh kedua keluarganya. Foto: Al Jazeera.

Jalur Gaza, SPNA – Sudah saatnya dunia berhenti berpura-pura. Semua kebohongan Israel tentang “hak membela diri”, semua dalih tentang “operasi militer terbatas”, semua propaganda tentang “membebaskan sandera” kini runtuh oleh pernyataan resmi pemerintah Israel sendiri bahwa Gaza akan dijajah secara permanen. 

Tidak akan ada lagi tempat untuk warga Palestina. Benjamin Netanyahu, sang arsitek genosida ini, tak lagi peduli siapa yang melihat, siapa yang mengutuk, atau siapa yang mati.

Pendudukan total terhadap Gaza bukan prediksi, namun sudah menjadi  kebijakan yang dikukuhkan dalam sidang kabinet keamanan Israel, Senin (05/05/2025),  dan dilaksanakan tanpa malu oleh mesin militer Israel. Pendudukan penuh. Tanpa batas waktu. Dengan kehancuran total sebagai target. 

Mari kita berhenti berilusi. Israel tidak hanya ingin memburu Hamas, tapi membumihanguskan Gaza sampai tak ada lagi yang bisa pulang, tinggal, atau hidup di sana.

Ketika Kenneth Roth, mantan Direktur Eksekutif Human Rights Watch dan putra pengungsi Yahudi dari Nazi, menggunakan kata “genosida” untuk menggambarkan apa yang terjadi di Gaza, ia melakukannya bukan karena dorongan emosional, tapi karena bukti yang terus bertumpuk dimulai dari kebijakan sistematis membuat rakyat Gaza kelaparan, penghancuran rumah dan kediaman mereka, hingga membunuh mereka dengan serangan bom. 

Apa yang Membuat Dunia Diam?

Jawabannya adalah politisi yang tak punya nyali, media arus utama yang manipulatif, dan opini publik yang dibanjiri distraksi. Kita diminta lebih peduli dengan hal-hal yang tidak berguna daripada menghadapi kenyataan bahwa anak-anak di Gaza sedang menghadapi bencana kelaparan, mereka mati dengan tubuh kering kerontang atau  akibat hujan bom yang dijatuhkan dari langit.

Narasi terus diatur. Kritik terhadap Israel dicap sebagai antisemitisme. Seruan untuk keadilan dilabeli ekstremisme. Dan semua itu menjadi karpet merah bagi Netanyahu untuk melanjutkan proyek pembersihan etnis, selagi dunia menunduk dan mengalihkan pandangan.

Kekuasaan Netanyahu Berdiri di Atas Mayat Anak-Anak

Pendudukan permanen terhadap Gaza bukan cuma kebijakan luar negeri Israel, namun telah menjadi strategi kelangsungan politik Netanyahu. Ia tahu bahwa jika perang berakhir, jika sandera dibebaskan, jika gencatan senjata diberlakukan, maka dunia akan menyorotnya akibat kasus korupsi. Maka perang harus abadi. Gaza harus hancur. Dan setiap kritik harus dibungkam demi mengamankan kursi jabatan Netanyahu.

Ironisnya, yang paling dikhianati bukan hanya rakyat Palestina, tapi juga mereka yang selama ini membela Israel atas nama “hak membela diri”. Mereka yang berkata “Israel tidak akan pernah menduduki Gaza.” Kini Netanyahu tertawa di atas puing-puing janji mereka.

Jika pendudukan permanen atas Gaza bukan genosida, maka kata itu sudah kehilangan maknanya. Jika pembiaran terhadap kebijakan ini terus berlanjut, maka hukum internasional hanyalah sandiwara. 

Waktunya sudah habis untuk diplomasi basa-basi. Dunia harus jujur menyebut apa yang dilakukan Israel sebagai “Genosida!”. Dunia harus bertindak. Jika tidak, maka Netanyahu bukan satu-satunya yang berdarah tangan, namun kita semua ikut memegang belati.

(T.RS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya