Tel Aviv, SPNA – Mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak menyerukan warga Israel untuk melengserkan Benjamin Netanyahu dari kursi kekuasaan.
Dalam wawancara tajam dengan media Israel, seperti dilansir Palinfo (minggu 04/05/2025), Barak menyebut Perdana Menteri Israel itu sebagai biang kerok kehancuran negara. “Israel berada di ambang kehancuran, sementara Netanyahu terus menghindari tuntutan hukum.
“Israel berada di tepi jurang. Demokrasi lumpuh, kedudukan Israel di dunia internasional runtuh, dan Netanyahu sedang menyeret seluruh negeri ke dalam kehancuran demi menyelamatkan dirinya dari tuntutan hukum. Jika Saya Memimpin, Saya Sudah Menyepakati Pertukaran Sandera Sekarang Juga”
Kemarahan Barak memuncak setelah Hamas merilis video tawanan Israel Maxim Herkin. Dalam tanggapannya, Barak mengkritik keputusan Netanyahu yang terus memperpanjang perang dan menolak solusi diplomatik demi menyelamatkan para sandera.

“Kalau saya yang memimpin, saya sudah menyetujui kesepakatan, meskipun harus mengakhiri perang. Nyawa rakyat lebih penting daripada ego politik,” ujarnya.
Barak menegaskan bahwa Hamas memiliki kemampuan untuk melawan militer Israel selama 50 tahun, dan bahwa konflik ini tidak bisa diakhiri dengan kekuatan militer semata. Ia secara terbuka mengusulkan agar kekuatan Arab, bukan militer Israel, mengambil alih kendali sementara atas Gaza, hal ini menunjukkan skeptisisme terhadap strategi militer Netanyahu yang ia nilai tidak punya arah dan tanpa akhir.
Barak juga membongkar ilusi kedekatan Netanyahu dengan mantan Presiden AS Donald Trump. Ia menyebut bahwa Trump tidak lagi berdiri di pihak Netanyahu, baik dalam isu Gaza maupun Iran.
“Trump sudah lama meninggalkan gagasan ‘Riviera Gaza’” dan kini fokus pada prioritas lain. Komentar ini menampar klaim Netanyahu yang berulang kali menggunakan kartu kedekatan dengan Trump untuk meraih simpati dalam negeri. Kenyataan politik menunjukkan bahwa Netanyahu kini sendirian, diasingkan di luar dan dirongrong di dalam negeri.
Pernyataan Barak muncul di tengah kehancuran total yang melanda Gaza sejak 7 Oktober 2023 yang menelan nyawa lebih dari 52.000 korban jiwa. Sebagian besar perempuan dan anak-anak, telah tercatat. Lebih dari 11.000 orang masih hilang, banyak diantaranya diyakini terkubur di bawah puing-puing bangunan. Gaza dilanda kelaparan massal, tanpa sistem kesehatan, dan dikepung dari udara, laut, dan darat.
Sementara Gaza terbakar, politik Israel juga meledak dari dalam. Barak adalah suara keras dari kalangan elite militer dan politik yang menyadari bahwa perang ini bukan hanya gagal, tetapi juga sedang menghancurkan kredibilitas dan eksistensi Israel itu sendiri.