Mantan PM Israel Ini Ajak Warga Israel Gulingkan Benjamin Netanyahu: “Dia Tidak Layak Memimpin!”

Ehud Barak; Benjamin Netanyahu (AP/Charles Krupa/Ronen Zvulun)

Tel Aviv, SPNA – Mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak menyerukan warga Israel untuk melengserkan Benjamin Netanyahu dari kursi kekuasaan. 

Dalam wawancara tajam dengan media Israel, seperti dilansir Palinfo (minggu 04/05/2025), Barak menyebut Perdana Menteri Israel itu sebagai biang kerok kehancuran negara. “Israel berada di ambang kehancuran, sementara Netanyahu terus menghindari tuntutan hukum.  

“Israel berada di tepi jurang. Demokrasi lumpuh, kedudukan Israel di dunia internasional runtuh, dan Netanyahu sedang menyeret seluruh negeri ke dalam kehancuran demi menyelamatkan dirinya dari tuntutan hukum. Jika Saya Memimpin, Saya Sudah Menyepakati Pertukaran Sandera Sekarang Juga”

Kemarahan Barak memuncak setelah Hamas merilis video tawanan Israel Maxim Herkin. Dalam tanggapannya, Barak mengkritik keputusan Netanyahu yang terus memperpanjang perang dan menolak solusi diplomatik demi menyelamatkan para sandera. 

Ehud Barak adalah mantan Perdana Menteri Israel dan jenderal paling berprestasi dalam sejarah militer Israel, lahir pada 12 Februari 1942 di Mishmar HaSharon. Ia menjabat sebagai Kepala Staf IDF (1991–1995) dan terlibat dalam berbagai operasi militer rahasia. Setelah pensiun dari militer, Barak terjun ke dunia politik lewat Partai Buruh, menjadi Perdana Menteri pada 1999, dan mencoba mendorong perdamaian dengan Palestina melalui KTT Camp David 2000 yang gagal. Ia kemudian menjabat sebagai Menteri Pertahanan (2007–2013), termasuk di bawah Netanyahu, sebelum akhirnya menjadi pengkritik kerasnya. Barak mengecam Netanyahu sebagai sosok yang menghancurkan demokrasi Israel demi menyelamatkan diri dari proses hukum. Dikenal cerdas dan tegas, Barak menempuh pendidikan tinggi di Universitas Ibrani Yerusalem dan Stanford University, serta fasih berbicara dalam isu-isu strategis global dan keamanan nasional.
Ehud Barak adalah mantan Perdana Menteri Israel dan jenderal paling berprestasi dalam sejarah militer Israel, lahir pada 12 Februari 1942 di Mishmar HaSharon. Ia menjabat sebagai Kepala Staf IDF (1991–1995) dan terlibat dalam berbagai operasi militer rahasia. Setelah pensiun dari militer, Barak terjun ke dunia politik lewat Partai Buruh, menjadi Perdana Menteri pada 1999, dan mencoba mendorong perdamaian dengan Palestina melalui KTT Camp David 2000 yang gagal. Ia kemudian menjabat sebagai Menteri Pertahanan (2007–2013), termasuk di bawah Netanyahu, sebelum akhirnya menjadi pengkritik kerasnya. Barak mengecam Netanyahu sebagai sosok yang menghancurkan demokrasi Israel demi menyelamatkan diri dari proses hukum. Dikenal cerdas dan tegas, Barak menempuh pendidikan tinggi di Universitas Ibrani Yerusalem dan Stanford University, serta fasih berbicara dalam isu-isu strategis global dan keamanan nasional.

“Kalau saya yang memimpin, saya sudah menyetujui kesepakatan, meskipun harus mengakhiri perang. Nyawa rakyat lebih penting daripada ego politik,” ujarnya. 

Barak menegaskan bahwa Hamas memiliki kemampuan untuk melawan militer Israel selama 50 tahun, dan bahwa konflik ini tidak bisa diakhiri dengan kekuatan militer semata. Ia secara terbuka mengusulkan agar kekuatan Arab, bukan militer Israel, mengambil alih kendali sementara atas Gaza, hal ini menunjukkan skeptisisme terhadap strategi militer Netanyahu yang ia nilai tidak punya arah dan tanpa akhir.

Berbicara di kanal Channel 13 Israel, Barak menyerukan aksi demo sipil kolektif dan mengajak rakyat Israel untuk melawan Netanyahu secara hukum dan politik. 

“Kita harus memaksanya turun. Ia tidak layak memimpin,” tegas Barak, yang menuduh Netanyahu sedang mengacaukan segala proses hukum demi bertahan di tampuk kekuasaan. 

Barak juga membongkar ilusi kedekatan Netanyahu dengan mantan Presiden AS Donald Trump. Ia menyebut bahwa Trump tidak lagi berdiri di pihak Netanyahu, baik dalam isu Gaza maupun Iran. 

“Trump sudah lama meninggalkan gagasan ‘Riviera Gaza’” dan kini fokus pada prioritas lain. Komentar ini menampar klaim Netanyahu yang berulang kali menggunakan kartu kedekatan dengan Trump untuk meraih simpati dalam negeri. Kenyataan politik menunjukkan bahwa Netanyahu kini sendirian, diasingkan di luar dan dirongrong di dalam negeri.

Pernyataan Barak muncul di tengah kehancuran total yang melanda Gaza sejak 7 Oktober 2023 yang menelan nyawa lebih dari 52.000 korban jiwa. Sebagian besar perempuan dan anak-anak, telah tercatat. Lebih dari 11.000 orang masih hilang, banyak diantaranya diyakini terkubur di bawah puing-puing bangunan. Gaza dilanda kelaparan massal, tanpa sistem kesehatan, dan dikepung dari udara, laut, dan darat. 

Sementara Gaza terbakar, politik Israel juga meledak dari dalam. Barak adalah suara keras dari kalangan elite militer dan politik yang menyadari bahwa perang ini bukan hanya gagal, tetapi juga sedang menghancurkan kredibilitas dan eksistensi Israel itu sendiri.

(T.RS/S:Palinfo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya