Jalur Gaza, SPNA – Lahirnya seorang bayi perempuan tanpa otak menjadi tanda bahwa genosida di Gaza memasuki babak paling brutal. Serangan Israel tak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga menghancurkan kehidupan sebelum sempat dimulai.
Adalah Malak Ahmad Al-Qanou’, seorang bayi yang lahir tanpa otak di Rumah Sakit Al-Awda, Gaza Utara dan hanya bertahan hidup selama dua hari. Tubuh mungilnya, dengan kelainan fisik menjadi saksi bisu dari kehancuran yang ditanamkan secara sistematis di rahim-rahim perempuan Gaza.

Dugaan keras mengarah pada penggunaan senjata berdaya hancur tinggi oleh militer Israel, yang disinyalir mengandung bahan kimia, uranium terdeplesi, atau senyawa lain yang mengkontaminasi lingkungan dan tubuh manusia.
Semua ini terjadi dengan dukungan penuh dari negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, yang terus memasok senjata tanpa mempertanyakan akibat jangka panjangnya terhadap penduduk sipil.
Lonjakan Kelainan Janin Akibat Perang
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, dr. Munir Al-Barsh, menyebut kelahiran Malak sebagai “peristiwa yang menyayat hati”. Dia memperingatkan bahwa ada lonjakan signifikan kelainan janin selama perang berlangsung.
Hal sama pernah terjadi di Fallujah, Irak, pasca invasi AS, di mana cacat lahir meningkat drastis akibat kontaminasi senjata modern. Al-Barsh menegaskan perlunya investigasi internasional atas senjata yang digunakan Israel, yang diduga kuat bukan sekadar membunuh, tetapi juga merusak genetika manusia.
Data dari Rumah Sakit Nasser di Khan Younis mencatat 172 kasus cacat lahir hanya dalam rentang tiga bulan. Satu dari lima bayi meninggal dalam hitungan hari. Dan itu hanyalah puncak gunung es, karena sistem medis Gaza telah runtuh total sejak penghancuran Rumah Sakit Al-Shifa oleh militer Israel. Banyak kasus bahkan tidak pernah tercatat karena tidak ada fasilitas untuk memeriksa, mencatat, apalagi menolong.
Israel Jatuhkan 70.000 Ton Bahan Peledak, Gaza Jadi Zona Kontaminasi
Dokter Hatem Zuheir, Kepala Unit Neonatal di Rumah Sakit Al-Tahrir, menyatakan bahwa jenis-jenis cacat yang kini muncul semakin kompleks dan mengerikan, dimulai dari gangguan jantung, kelainan genital, kelumpuhan kaki, hingga kecacatan wajah.
“Ini adalah bencana kesehatan masyarakat yang belum pernah kami alami sebelumnya, ” keluhnya.
Sementara itu, Rami Abdu dari Euromed Human Rights Monitor mengungkap bahwa Israel telah menjatuhkan 70.000 ton bahan peledak ke Gaza sejak Oktober.
Ia memperingatkan bahwa kontaminasi jangka panjang dari bahan peledak tersebut, yang diduga mengandung elemen-elemen beracun, bisa menciptakan warisan racun yang tak terlihat namun mematikan.
Namun pemeriksaan laboratorium independen nyaris mustahil dilakukan karena Israel secara aktif memblokade akses masuk tim investigasi internasional.
UNFPA: Satu dari Lima Kelahiran di Gaza Disertai Komplikasi Berat
Tak hanya lingkungan yang tercemar, tubuh para ibu juga dalam keadaan krisis. Menurut laporan Dana Populasi PBB (UNFPA), lebih dari 55.000 ibu hamil di Gaza mengalami kelaparan akut, dan 20 persen dari kelahiran pada Februari dan Maret 2025 disertai komplikasi berat atau kelainan lahir.
Separuh dari seluruh kehamilan saat ini berada dalam kategori berisiko tinggi. Tidak hanya karena kurang gizi, tetapi juga karena stres luar biasa akibat trauma perang dan kehilangan orang tercinta.
Seruan untuk investigasi internasional telah bergema dari berbagai lembaga HAM dan Kementerian Kesehatan Palestina. Mereka menuntut agar PBB, WHO, dan lembaga forensik global segera mengirim tim ahli ke Gaza. Namun, dunia internasional tampak lumpuh oleh tekanan politik dan veto negara-negara besar yang terus melindungi Israel dari tuntutan hukum.
Kelahiran Malak Al-Qanou’ adalah bukti bahwa perang ini tidak hanya membunuh hari ini, tapi juga merampas masa depan. Ini bukan hanya pembunuhan, tapi juga pemusnahan. Jika dunia terus memilih diam, maka lebih banyak bayi-bayi Gaza akan mati tanpa pernah sempat menjalani hidup, dibunuh bahkan sebelum sempat menangis.
(T.S/S:Palinfo)