Daftar Cerita Palsu yang Dijual Israel untuk Menghalalkan Genosida

Tangkapan layar dari investigasi Le Monde terkait manipulasi informasi yang dilakukan Israel dan disebarkan ke berbagai platform media

Jalur Gaza, SPNA – Dalam perang yang tidak kunjung berakhir di Gaza, Israel telah menggunakan berbagai strategi militer, namun dibalik itu semua, ada satu strategi yang tak kalah penting dalam memperpanjang perang, yaitu “kebohongan dan pemalsuan informasi”. 

Dari klaim-klaim palsu hingga propaganda yang dirancang dengan cermat, Israel telah berulang kali menyebarkan kebohongan besar yang bertujuan untuk mengelabui dunia, memperpanjang perang, dan membenarkan perilaku tak manusiawi militer IDF terhadap warga sipil di Gaza. 

Dari Terowongan Gelap ke Saluran Pembuangan: Kisah Israel Memutarbalikkan Fakta

Pada Agustus 2024, tentara Israel mengklaim telah menemukan jaringan terowongan yang digunakan oleh Hamas di bawah tanah Gaza, yang terletak di sepanjang koridor selatan Gaza dekat dengan perbatasan Mesir. Dalam laporan yang tersebar luas, mereka menyebutkan bahwa terowongan ini merupakan “struktur besar” yang memiliki kedalaman hingga puluhan meter ke dalam tanah, berfungsi sebagai jalur utama untuk penyelundupan senjata dari Mesir ke Gaza.

Terowongan yang diklaim Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sebagai terowongan Hamas di wilayah perbatasan Gaza-Mesir (Sumber: The Times of Israel)
Terowongan yang diklaim Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sebagai terowongan Hamas di wilayah perbatasan Gaza-Mesir (Sumber: The Times of Israel)

Namun, hal ini dibantah langsung oleh Yoav Galant, mantan Menteri Pertahanan Israel, yang dengan terpaksa mengakui bahwa apa yang sebenarnya ditemukan bukanlah terowongan yang dalam, melainkan sekadar parit kecil dengan kedalaman sekitar satu meter, yang berfungsi sebagai saluran pembuangan air. 

Berita palsu ini dengan sengaja disebarkan untuk memperkuat narasi bahwa Gaza dipenuhi terowongan-terowongan gelap yang konon digunakan untuk menyelundupkan senjata. Namun, akhirnya terungkap bahwa Israel tak segan memutarbalikkan fakta sebagai bagian dari taktik manipulasi yang licik, bertujuan untuk meyakinkan dunia bahwa Gaza adalah sarang teroris yang harus dihancurkan.

Paramedis Berjubah Putih Mengendarai Ambulans Adalah Teroris Hamas

Warga Palestina memeriksa kerusakan di sebuah tempat perbaikan ambulans yang terkena serangan udara Israel di Jalur Gaza tengah pada 24 Maret 2025. (France24: Eyad Baba)
Warga Palestina memeriksa kerusakan di sebuah tempat perbaikan ambulans yang terkena serangan udara Israel di Jalur Gaza tengah pada 24 Maret 2025. (France24: Eyad Baba)

Lebih lanjut, Israel kembali terbukti ahli dalam seni manipulasi, kali ini terkait serangan terhadap paramedis. Pada 23 Maret 2025, Israel melancarkan serangan di Rafah yang merenggut nyawa 15 paramedis. Militer Israel dengan cepat memberikan pernyataan bahwa mereka menargetkan kendaraan Hamas. Namun, tak lama kemudian, The New York Times memposting sebuah video yang diambil dari ponsel seorang paramedis.

Cuplikan dari video yang dipublikasikan oleh The New York Times, memperlihatkan ambulans yang bertanda jelas serta para petugas medis.
Cuplikan dari video yang dipublikasikan oleh The New York Times, memperlihatkan ambulans yang bertanda jelas serta para petugas medis.

Dalam video itu, ternyata mobil yang diserang adalah sebuah ambulans, bukan kendaraan militan Hamas. Klaim Israel yang menyebutkan serangan itu sebagai upaya “menargetkan teroris” justru terbongkar sebagai kebohongan besar, karena yang mereka serang adalah para pejuang medis yang tengah menyelamatkan nyawa, bukan orang-orang bersenjata. 

Malangnya Nasib 40 Bayi Israel: Tak Pernah Dilahirkan, Tapi Sudah Terpenggal di Kepala Pembaca

Salah satu kisah horor paling sensasional yang dijajakan Israel kepada dunia adalah dongeng tentang pemerkosaan massal dan pemenggalan 40 bayi oleh pejuang Hamas, narasi gelap yang diluncurkan pada 7 Oktober 2023 dan segera dikemas sebagai “fakta” oleh media internasional.

Tak butuh waktu lama, Presiden AS Joe Biden pun ikut membaca naskah propaganda ini dalam pidato publik, mengecam kejahatan yang ternyata tidak pernah terjadi.

Seiring berjalannya waktu dan hawa panas euforia mulai mereda, kebohongan ini mulai terkuak. Sarah Sidner dari CNN, salah satu jurnalis yang sempat ikut menyebarluaskan kisah horor ini, akhirnya mengakui kekeliruannya.

Cuitan Sara Sidner, jurnalis CNN, akhirnya meminta maaf setelah Israel menarik kembali klaim tentang pemenggalan bayi oleh Hamas. (X)
Cuitan Sara Sidner, jurnalis CNN, akhirnya meminta maaf setelah Israel menarik kembali klaim tentang pemenggalan bayi oleh Hamas. (X)

Klaim bahwa Hamas memenggal bayi dan memperkosa wanita secara massal ternyata tidak didukung bukti apa pun, selain dari sumber resmi Israel, yang seperti biasa, ternyata lebih jago mendongeng ketimbang membuktikan.

Bahkan pemerintah Israel sendiri kemudian menyatakan tidak bisa mengkonfirmasi adanya pemenggalan bayi. Joe Biden pun terpaksa meralat ucapannya, walau tentu saja, koreksi seperti ini tidak pernah memperoleh panggung sebesar sensasinya.

Klaim soal pemerkosaan massal masih menggantung di udara, digunakan sebagai senjata psikologis dalam medan propaganda, namun hingga kini tidak dibarengi bukti yang sahih.

Tikus Terowongan Bernama Yahya Sinwar

Salah satu kebohongan lain yang dipropagandakan oleh Israel adalah cerita tentang Yahya Sinwar, kepala militer Hamas di Gaza, yang digambarkan sebagai pemimpin pengecut, hanya mampu bersembunyi di balik terowongan dan menjadikan warga Gaza sebagai perisai manusia. 

Menurut Israel, Sinwar dan keluarganya bahkan tinggal di dalam terowongan, bersembunyi seperti tikus di lorong-lorong gelap yang mereka bangun sebelum pertempuran besar dimulai pada Oktober 2023. Ini adalah narasi yang begitu sempurna, sebuah cerita horor yang mengesankan Sinwar sebagai tikus yang bersembunyi di bawah tanah, meninggalkan warganya yang tak bersalah untuk menjadi tameng hidup bagi serangan udara Israel.

Namun, kenyataan jauh lebih mengejutkan dan tak sesuai dengan naskah sinetron yang diproduksi oleh divisi propaganda militer Israel. 

Pada awal Oktober 2023, Sinwar justru muncul di medan pertempuran dengan gagah berani, bertempur di garis depan bersama pasukannya. Tanpa terowongan atau perisai manusia, ia memilih untuk menghadapi takdirnya secara langsung. Dan akhirnya, Sinwar pun gugur dalam pertempuran tersebut. 

Yahya Sinwar, pemimpin Hamas di Gaza, tewas pada 16 Oktober 2024 dalam baku tembak sengit dengan pasukan Israel di Rafah, selatan Gaza, setelah menjadi sasaran operasi militer yang intens. Dalam video yang beredar, Sinwar terlihat duduk di sofa di sebuah apartemen yang hancur, wajah dan kepalanya tertutup dengan syal, dikelilingi reruntuhan akibat serangan artileri. Sinwar tampak tertutup debu dengan lengan kanannya terluka parah. Ketika drone Israel mendekat, ia terlihat melemparkan tongkat atau papan kayu ke arah pesawat tersebut. Kematian Sinwar, yang dipastikan melalui identifikasi DNA dan rekaman gigi, dianggap sebagai titik balik dalam konflik, meskipun dampaknya terhadap jalannya perang masih diperdebatkan. (New York Times)
Yahya Sinwar, pemimpin Hamas di Gaza, tewas pada 16 Oktober 2024 dalam baku tembak sengit dengan pasukan Israel di Rafah, selatan Gaza, setelah menjadi sasaran operasi militer yang intens. Dalam video yang beredar, Sinwar terlihat duduk di sofa di sebuah apartemen yang hancur, wajah dan kepalanya tertutup dengan syal, dikelilingi reruntuhan akibat serangan artileri. Sinwar tampak tertutup debu dengan lengan kanannya terluka parah. Ketika drone Israel mendekat, ia terlihat melemparkan tongkat atau papan kayu ke arah pesawat tersebut. Kematian Sinwar, yang dipastikan melalui identifikasi DNA dan rekaman gigi, dianggap sebagai titik balik dalam konflik, meskipun dampaknya terhadap jalannya perang masih diperdebatkan. (New York Times)

Dengan serangkaian kebohongan yang telah terbukti, dari klaim tentang terowongan dan pembunuhan massal hingga penuturan ulang cerita tentang pemimpin Hamas, Israel tidak hanya membahayakan reputasi mereka di dunia internasional, tetapi juga menyebabkan kerusakan dan krisis kemanusiaan terhadap  warga sipil Gaza. 

Manipulasi informasi ini, bersama dengan kebijakan militer yang brutal, menunjukkan bahwa Israel terus mengabaikan perdamaian demi ambisi politik dan militer. Dunia tidak boleh lagi terjebak dalam narasi yang dibangun oleh kebohongan, fakta harus didorong ke garis depan, sementara mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya