Jalur Gaza, SPNA – Genosida terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza menyebabkan keretakan dalam kepemimpinan politik dan militer Israel. Di tengah tekanan global dan meningkatnya aksi protes dari dalam negeri, Pasukan Penjajah Israel (IOF) kini harus menghadapi masalah serius: Krisis jumlah pasukan.
Dalam laporan sejumlah media Israel, IDF disebut mengalami kekurangan sekitar 7.500 tentara. Untuk menutup kekosongan ini, militer Israel telah memanggil kembali ribuan tentara cadangan, membentuk batalyon tambahan, serta memperkuat korps lapis baja dan Komando Front Dalam Negeri.
Namun, langkah-langkah ini masih jauh dari cukup. Ketika pasukan cadangan mulai menolak perintah dengan alasan moral dan kelelahan, IDF mengambil langkah drastis dengan mengirimkan rekrutan baru yang bahkan belum menyelesaikan pelatihan lanjutan ke Jalur Gaza. Mereka adalah tentara muda yang baru bergabung pada Desember lalu, dan kini ditempatkan di zona tempur aktif, sebuah tindakan yang memicu kemarahan luas di masyarakat Israel dan dunia militer.
Roee Sharon, seorang analis militer dari Channel 12 Israel, menyatakan bahwa pengiriman pasukan yang tidak terlatih ini menunjukkan sikap sembrono pemerintahan Netanyahu yang dapat membahayakan keselamatan tentara muda tersebut.
Sharon juga menyoroti fenomena penolakan dari pasukan cadangan yang kini mulai terbuka, dengan banyak tentara yang merasa pemerintah tidak lagi memprioritaskan keselamatan mereka, melainkan menggunakan genosida sebagai alat bertahan di kursi empuk jabatan politik.
Salah satu pemicu utama kemarahan adalah kebijakan pemerintah terkait sandera yang masih ditahan oleh Hamas. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich secara terang-terangan menyatakan bahwa pemulangan sandera bukanlah prioritas utama pemerintah.
Pernyataan ini memicu kemarahan dari keluarga sandera dan masyarakat luas, yang menilai bahwa pemerintah telah mengabaikan nasib warga negaranya sendiri demi agenda politik lainnya. Pernyataan Smotrich juga memicu kritik dari tokoh-tokoh politik lainnya, termasuk Benny Gantz dan Yair Lapid, yang menekankan bahwa pemulangan sandera adalah kewajiban moral negara.
Lebih dari itu, Hamas tetap mampu melancarkan serangan dari jantung perlawanan di Khan Younis dan wilayah padat penduduk lainnya. Mereka memanfaatkan celah pertahanan Israel dan lemahnya perlindungan terhadap persenjataan strategis.
Genosida yang terus berlanjut ini juga telah menyebabkan bencana kemanusiaan besar di Gaza. Blokade ketat Israel menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan selama berminggu-minggu, membuat lebih dari dua juta warga sipil, termasuk anak-anak, terjebak dalam krisis kelaparan dan kekurangan bantuan medis.
Lembaga internasional mulai mempertanyakan legitimasi moral Israel dalam menjalankan operasi militer skala besar di Gaza.
Dengan arah perang yang kabur, tekanan internal dari militer, dan meningkatnya kecaman global, Israel kini tidak hanya menghadapi kebuntuan militer, tapi juga krisis legitimasi politik.
Namun, alih-alih mengevaluasi arah kebijakan, Netanyahu dan koalisinya justru menggandakan kekuatan, memperpanjang durasi perang yang kian tampak sebagai alat penyelamat kekuasaan pribadi, bukan keselamatan bangsa.
(T.RS/S:Channel12)