Gaza, SPNA – Umm Ibrahim Abu Shaar (49 tahun), duduk di Rumah Sakit Eropa di Khan Younis, di samping jasad anggota keluarganya yang berlumuran darah. Mereka dibunuh Israel dalam serangan udara di sebuah tenda perkemahan pengungsi di “zona aman” Mawasi di Khan Younis pada Kamis pagi (17/04/2025). Tenda-tenda itu terbakar dan penghuninya terbakar hidup-hidup. Pemandangan ini sudah menjadi kejadian biasa di Gaza.
Di lokasi pengeboman di sebelah barat Khan Younis, warga berkumpul di sekitar tenda-tenda yang dibom, yang telah berubah menjadi tumpukan abu dan serpihan bercampur darah. Mereka mencoba mengumpulkan sisa-sisa jasad para syuhada, berjalan di samping tenda-tenda yang dibom dengan sangat hati-hati dan waspada.
Penduduk Palestina dan tim penyelamat menemukan 15 jasad, termasuk delapan anak-anak. Semuanya hangus menghitam. Di antara mereka ada seorang ibu dan tiga anaknya yang terbakar hingga tak dapat dikenali, menurut saksi mata yang berbicara kepada Mondoweiss. Pertahanan Sipil menggambarkannya sebagai kejahatan keji yang merenggut nyawa 15 syuhada. Sebagian besar dari mereka adalah wanita dan anak-anak.
Yousef Abu al-Rus, seorang saksi mata pengeboman, mengatakan melalui kesaksian video untuk Mondoweiss bahwa tentara Israel menargetkan empat tenda yang dihuni oleh empat keluarga dengan satu rudal. Ia menggambarkan bagaimana rudal tersebut memicu kebakaran hebat yang tidak dapat dipadamkan oleh penduduk.
“Kami mendengar suara ledakan, dan kemudian api yang hebat dan kuat meletus,” kata Abu al-Rus. “Kami tidak bisa cukup dekat untuk membantu mereka. Kami berusaha sedekat mungkin, tetapi kami melihat wanita dan anak-anak terbakar dan sekarat tepat di depan mata kami. Kami melihat mereka, dan anak-anak kami melihat dan mendengar semuanya.”
Abu al-Rus melanjutkan dengan kisah yang mengerikan, menggambarkan bagaimana sebagian besar keluarga tetangga “mencium bau daging manusia yang terbakar,” dan bagaimana jenis rudal yang ditembakkan tentara Israel ke tenda-tenda itu tidak seperti yang pernah dia lihat sebelumnya, membakar segalanya, bahkan peralatan logam di dalam tenda. “Senjata-senjata itu mematikan. Mereka melelehkan peralatan masak aluminium di dalamnya. Bagaimana pengaruhnya terhadap tubuh anak kecil yang usianya tidak lebih dari tiga tahun?” kata Abu al-Rus.
“Mayat-mayat itu menghitam seluruhnya. Hanya kerangkanya yang tersisa. Bahkan tulang-tulangnya pun meleleh,” lanjutnya.
Abu al-Rus mencatat bahwa keluarga-keluarga itu tidur di tenda-tenda setelah kembali dari memberi selamat kepada seorang kerabat atas pernikahannya. Mereka kembali ke tenda-tenda mereka dan tidur, dan tidak pernah bangun lagi.
“Mereka mengatakan ini adalah zona aman tempat kami harus tinggal untuk menyelamatkan hidup kami,” seru Abu al-Rus. “Itu adalah jebakan untuk membunuh dan membakar kami. Ke mana kami harus pergi agar aman? Kami mengubur anak-anak kami sebagai kerangka dan tulang yang meleleh.”
Pengeboman Israel terhadap tenda-tenda dan pusat-pusat pengungsian di berbagai wilayah Jalur Gaza terus berlanjut sepanjang hari. Laporan harian Kementerian Kesehatan Gaza pada 17 April mengatakan bahwa 40 orang dibunuh Israel dalam 24 jam terakhir.
Pertahanan Sipil menyatakan bahwa kru penyelamatnya telah menemukan enam syuhada lainnya dan sejumlah korban luka di Beit Lahia di Gaza utara setelah sebuah tenda yang menampung para pengungsi juga menjadi sasaran pada hari yang sama. Hal ini diikuti dengan penargetan Sekolah al-Ayyoubiya di Gaza utara, selain puluhan pembantaian yang menargetkan keluarga yang terbunuh di rumah mereka di seluruh jalur tersebut.
Di antara para martir terdapat tiga anak dari keluarga al-Atal dalam pengeboman tenda Beit Lahia. Saksi mata dari tempat kejadian mengatakan kepada Mondoweiss melalui kesaksian yang direkam bahwa tentara Israel membunuh mereka dengan menjatuhkan bom di atas kepala mereka dari pesawat tanpa awak quadcopter.
Marwan al-Atal, seorang kerabat para martir di Beit Lahia, mengatakan bahwa sebagian besar martir adalah anak-anak dan mereka dipotong-potong.
“Mari kita asumsikan bahwa salah satu orang di tenda ini dicari oleh Israel; mengapa mereka membunuh anak-anak bersamanya?Tidak bisakah mereka membunuhnya di tempat lain, jauh dari anak-anak? Mengapa mengirim pesawat untuk membunuh anak-anak? Apakah ini yang dilakukan Netanyahu dan Israel, membunuh anak-anak yang tidur di tenda mereka? Apakah ini prestasi militer mereka?” tanya Marwan.
(T.FJ/S: Mondoweis)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!