Laporan Prem Thakker
Zeteo
Jalur Gaza, SPNA – Dokumenter Screams Before Silence karya Sheryl Sandberg, mantan eksekutif Meta dan tokoh feminis terkemuka, kini berada dalam sorotan tajam setelah salah satu narasumber utamanya, Rami Davidian, dituding menyebarkan cerita bohong tentang kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh Hamas pada 7 Oktober 2023.
Davidian, seorang petani Israel yang juga disebut-sebut sebagai pahlawan penyelamat di Festival Nova, mengklaim bahwa ia menyaksikan pemerkosaan brutal terhadap puluhan perempuan oleh anggota Hamas.

Dalam dokumenter tersebut, Davidian mengajak Sandberg berjalan di sebuah hutan di Israel, menunjukkan pohon-pohon tempat ia mengaku menemukan lebih dari 30 perempuan yang diperkosa dan dibunuh.
Ia menunjukkan tali yang masih terikat di batang pohon sebagai “bukti”, sambil berkata dengan suara bergetar, “Siapapun yang melihat ini langsung tahu para gadis itu telah disiksa.” Adegan ini diiringi musik piano dramatis dan ditutup dengan pelukan emosional antara Davidian dan Sandberg.
Dokumenter tersebut diputar di berbagai platform ternama, termasuk The New York Times, The Washington Post, dan bahkan ditayangkan di Capitol Hill serta Gedung Putih dalam acara khusus yang dihadiri Wakil Presiden Kamala Harris.
Film ini juga mendapatkan dukungan luas dari politisi sayap kanan seperti Donald Trump dan tokoh media seperti Chris Cuomo. Davidian bahkan disebut-sebut telah bertemu dengan anggota Kongres AS dan dijadwalkan dalam beberapa pertemuan resmi, seperti yang tercantum dalam dokumen pengungkapan publik House Clerk AS.
Namun, sebuah laporan investigatif terbaru oleh jurnalis Raviv Drucker dari Channel 13 Israel meragukan seluruh narasi Davidian. Drucker mempertanyakan apakah klaim heroik Davidian benar-benar terjadi. Namun hanya beberapa hari sebelum penayangannya, laporan itu secara misterius dibatalkan oleh CEO Channel 13, Emiliano Calemzuk, yang diduga khawatir terhadap reaksi publik dan tekanan politik. Drucker menyayangkan keputusan tersebut dan menyebut materi yang dikumpulkannya sangat kuat dan layak ditayangkan.

“Cerita-cerita ini dibuat-buat dari awal sampai akhir. Cerita yang mencengangkan, tetapi tidak pernah terjadi,” kata Drucker.
Sementara itu, editor acara, Itay Rom, juga ikut bersuara melalui media sosial, mengatakan bahwa mereka menemukan adegan-adegan sinematik yang memukau, tapi tidak memiliki kaitan sedikitpun dengan kenyataan di lapangan.
Rom juga menyayangkan bagaimana publik menyambut cerita Davidian dengan air mata dan tepuk tangan, padahal banyak yang ternyata hanya fiksi.
Lebih dari itu, Drucker menegaskan bahwa kebohongan mengenai kekerasan seksual memiliki dampak yang sangat serius. “Setiap kebohongan mengenai kejahatan seksual menjebak Israel dalam krisis kepercayaan global, memperkuat narasi penyangkalan atas pembantaian yang sebenarnya terjadi, dan merusak kesaksian serta bukti sah dari para korban dan saksi yang jujur,” tegasnya.
Laporan dari media Israel Walla mengonfirmasi bahwa sejumlah eksekutif Channel 13 sejak awal telah menentang penayangan investigasi tersebut karena khawatir akan dampak politiknya.
Sampai saat ini, tim dokumenter Screams Before Silence maupun Sandberg belum memberikan komentar resmi atas tuduhan tersebut.
Skandal ini bukan hanya mengguncang kredibilitas dokumenter yang telah dipromosikan sebagai “karya terpenting” oleh Sheryl Sandberg sendiri, tetapi juga memperdalam krisis kepercayaan terhadap narasi Israel mengenai peristiwa 7 Oktober. Mengingat bahwa film ini dijadikan dasar untuk memperkuat dukungan internasional, khususnya dari Amerika Serikat, terhadap agresi militer besar-besaran di Gaza yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil, tuduhan ini bisa berdampak besar pada persepsi publik dunia.
Dengan semakin banyaknya suara dari dalam Israel sendiri yang mulai mempertanyakan keabsahan narasi resmi mengenai peristiwa 7 Oktober, laporan ini dapat menjadi titik balik dalam mengungkap manipulasi informasi yang selama ini menjustifikasi kekerasan berskala besar terhadap rakyat Palestina.