Upaya Gencatan Senjata Israel-Hamas Kandas Akibat Ambisi Netanyahu

Jalur Gaza, SPNA – Proses negosiasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas kembali mengalami kebuntuan serius. Laporan terbaru dari CNN mengungkapkan bahwa perubahan komposisi tim negosiator Israel telah memperlambat kemajuan negosiasi damai antara Israel dan Hamas.

Dilansir Al-Jazeera, Jum’at (11/04/2025), sumber yang terlibat dalam proses negosiasi mengungkapkan bahwa keterlibatan langsung Menteri Urusan Strategis Israel, Ron Dermer orang kepercayaan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah mengubah dinamika negosiasi.

Dermer menggantikan posisi sebelumnya yang dipegang oleh kepala Mossad David Barnea dan mantan kepala Shin Bet Ronen Bar. Perubahan ini dinilai sebagai upaya Netanyahu untuk mengendalikan penuh arah negosiasi, namun justru menimbulkan frustrasi di kalangan mediator.

“Prioritas Israel telah bergeser. Tim negosiasi terlihat semakin dipolitisasi,” kata sumber CNN. Diketahui bahwa Barnea kini disingkirkan, sementara Bar dipecat, memicu protes keras di dalam negeri Israel.

Sumber di Hamas mengatakan kepada Al-Jazeera bahwa Hamas menyatakan keterbukaan terhadap semua inisiatif yang dapat mengarah pada penghentian agresi dan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengklaim bahwa ada “kemajuan nyata” dalam upaya pembebasan sandera Israel dari Gaza. Dalam pertemuan kabinet di Gedung Putih, Trump menyebut kembalinya para sandera sudah semakin dekat, dan menegaskan bahwa pemerintahannya terus menjalin kontak dengan kedua pihak.

Namun, sumber diplomatik menyebut bahwa kesabaran Washington mulai menipis. AS bersama mediator dari Mesir dan Qatar meningkatkan tekanan pada Israel dan Hamas untuk segera mencapai kesepakatan.

AS bahkan mengambil langkah tak lazim, dengan mengirim utusan sandera Adam Boehler untuk bertemu langsung dengan pejabat Hamas, meskipun AS secara resmi menganggap Hamas sebagai organisasi teroris. Langkah ini dikabarkan memicu kemarahan pejabat Israel, terutama Ron Dermer.

Boehler membela langkahnya dan menegaskan kepada CNN bahwa AS “bukan agen Israel”. Ia mengatakan bahwa pembicaraan diperlukan demi pembebasan semua sandera, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati.

Dalam usulan yang diajukan AS dan didukung Mesir-Qatar, Hamas bersedia membebaskan lima sandera termasuk warga negara AS, Edan Alexander. Namun, Israel menuntut pembebasan 11 sandera hidup sekaligus, hampir setengah dari 24 yang masih ditahan. Tuntutan ini dianggap sebagai langkah yang menggerus kartu tawar terkuat Hamas.

Protes di Israel dan Tekanan Internal

Keluarga para sandera di Israel menyampaikan kekecewaan mendalam atas lambannya kemajuan negosiasi. Dalam surat terbuka kepada Ron Dermer, mereka menyatakan merasa “ditinggalkan dalam kegelapan” dan menuntut transparansi serta keseriusan pemerintah.

Gal Hirsch, koordinator urusan sandera dan orang hilang di pemerintah Israel, mengakui bahwa proses negosiasi dilakukan dalam kerahasiaan tinggi. Meski tampak stagnan, ia menyebut ada dinamika yang terus berjalan di balik layar bersama para mediator internasional.

Sementara itu, media Israel seperti Yedioth Ahronoth dan Israel Hayom melaporkan bahwa AS tengah mendorong kesepakatan komprehensif yang bisa selesai dalam hitungan hari. Namun, laporan ini dibayangi oleh kekhawatiran bahwa tujuan utama Netanyahu bukanlah pembebasan sandera, melainkan penghancuran total Hamas, sebuah target yang juga menjadi tuntutan dari anggota sayap kanan dalam koalisi pemerintahannya.

(T.RS/S:Al-Jazeera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya