Kesaksian Tentara Israel: Netanyahu Targetkan Pemusnahan Warga Gaza Sejak Awal

Serangkaian kesaksian dari tentara Israel yang dihimpun oleh kelompok hak asasi Breaking the Silence mengungkap bahwa operasi militer Israel di Gaza sejak Oktober 2023 dilakukan dengan tujuan sistematis untuk menghancurkan wilayah tersebut demi menciptakan “zona penyangga” permanen. Zona ini mencakup hingga 16% wilayah Gaza dan menggerus 35% lahan pertanian, seluruhnya berada di dalam wilayah Palestina yang diduduki. Para tentara menggambarkan bagaimana kehancuran dilakukan secara rutin dan terencana, dengan menggunakan buldoser lapis baja dan peledak untuk meratakan rumah-rumah, fasilitas sipil, hingga rumah kaca. 

Jalur Gaza, SPNA – Serangkaian kesaksian mengejutkan dari tentara Israel telah mengungkap bagaimana operasi militer besar-besaran di Gaza dilakukan dengan niat untuk menghancurkan wilayah tersebut secara total demi menciptakan “zona penyangga”. 

Laporan terbaru dari kelompok hak asasi Israel, Breaking the Silence, Kamis (10/04/2025), merinci pengakuan para prajurit yang secara langsung terlibat dalam kehancuran sistematis di Jalur Gaza.

Zona penyangga baru ini membentang dari pantai utara Gaza hingga perbatasan selatan dengan Mesir, seluruhnya berada di dalam wilayah Palestina yang diduduki, melampaui batas internasional yang diakui untuk Israel. Dengan lebar antara 800 hingga 1.500 meter,  mencakup sekitar 55 hingga 58 kilometer perseg, setara dengan sekitar 16% wilayah Gaza dan menggerus 35% lahan pertanian. 

Menurut kesaksian yang dihimpun, zona ini bukan sekadar wilayah kosong antara dua entitas, melainkan wilayah yang secara aktif dihancurkan dengan sengaja. “Zona ini pada dasarnya berarti meratakan seluruh wilayah. Lewat penghancuran besar-besaran dan disengaja, militer Israel mempersiapkan pijakan untuk menguasai Gaza lebih jauh lagi,” tulis laporan tersebut.

Pengakuan yang lebih mengerikan datang dari seorang perwira dari Divisi Gaza Utara yang mengatakan bahwa sejak November 2023, mereka sudah diberi tahu bahwa perang ini dirancang untuk berlangsung satu tahun penuh dan membersihkan dari seluruh penduduk Gaza.”

“Tidak boleh ada warga sipill. Mereka semua adalah teroris. Tidak ada yang tak bersalah,” ujarnya. Instruksi tempur mereka sangat jelas: “Kami masuk, dan jika kami mengidentifikasi tersangka, kami tembak.”

Ia juga menggambarkan penghancuran yang dilakukan menggunakan buldoser lapis baja D9. Mesin yang dijuluki “beruang” itu melindas segalanya, benar-benar segalanya.” Saat ditanya apa yang termasuk dalam “segalanya”, ia menjawab: “Segalanya. Apapun yang dibangun, seperti Hiroshima.”

Seorang sersan dari Batalyon Cadangan 5 yang bertugas di Khuza’ah, Khan Younis, antara Desember 2023 hingga Januari 2024 mengatakan bahwa tugas utama mereka adalah menghancurkan Gaza secara total. 

Dia menjelaskan bahwa Militer Israel menggunakan kode warna untuk memetakan kehancuran: warna hijau berarti lebih dari 80 persen bangunan di kawasan itu telah dihancurkan. “Bangunan tempat tinggal, rumah kaca, gudang, pabrik, semuanya harus diratakan.”

Seorang sersan dari Korps Rekayasa Tempur yang bertugas di Gaza Utara pada November 2023 menambahkan, “Kami merobohkan rumah-rumah, menjatuhkannya sampai tak ada satupun yang tersisa, hanya puing-puing.” 

Ia menyebut penghancuran itu sebagai tugas rutin harian: “Pagi-pagi kami bangun, terima lokasi, lalu mulai kerja, kecuali kalau kehabisan bahan peledak. Dalam seminggu, satu peleton bisa menghancurkan hingga 50 rumah. Satu rumah hanya butuh setengah jam,” katanya tanpa rasa bersalah.

Seorang perwira artileri cadangan mengungkap bahwa para komandan memiliki keleluasaan mutlak untuk menentukan sasaran. “Tidak ada sistem pertanggungjawaban. Siapa pun yang melintasi garis yang kami tentukan dianggap ancaman dan dijatuhi hukuman mati.”

Militer Israel melanjutkan agresi brutalnya di Gaza sejak 18 Maret 2025, yang telah menewaskan hampir 1.400 orang dan melukai lebih dari 3.400 lainnya hanya dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Ini terjadi di tengah kehancuran yang telah berlangsung selama enam bulan terakhir, di mana lebih dari 50.000 warga Palestina dilaporkan telah terbunuh sejak dimulainya serangan pada Oktober 2023.

Laporan ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa penghancuran Gaza bukan sekadar dampak sampingan perang, tetapi bagian dari strategi militer yang terencana, terstruktur, dan sistematis. Kehancuran terhadap rumah warga, lahan pertanian, fasilitas sipil, hingga pembantaian massal terhadap rakyat sipil disamakan oleh pelaku sendiri sebagai setara dengan “Hiroshima”.

(T.RS/S:TRT,Breaking the Silence)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya