Jadi Zona Pembantaian Tak Layak Huni, Israel Duduki 50 Persen Tanah Gaza

Tank milik tentara penjajah Israel. (Foto: Ohad Zwigenberg)

Gaza, SPNA – Tentara penjajah Israel kini menduduki 50 persen wilayah Jalur Gaza dan telah melipatgandakan ukuran zona penyangga sejak melancarkan kembali serangan militernya ke Jalur Gaza bulan lalu.

Akibatnya, Israel secara drastis memperluas pendudukannya di Gaza dan “memaksa penduduk Palestina tinggal di wilayah yang semakin sempit,” demikian dilaporkan Associated Press (AP) pada 7 April.

Zona penyangga ini, tempat tentara Israel menghancurkan rumah, lahan pertanian, dan infrastruktur Palestina hingga tak layak huni, kini membentang hingga sejauh tiga kilometer ke dalam wilayah Gaza di beberapa titik, berdasarkan peta yang dirilis oleh militer Israel.

Pasukan Israel juga menduduki Koridor Philadelphia, yaitu jalur tanah di sepanjang perbatasan Gaza–Mesir, serta Koridor Netzarim, yang membelah Gaza dari utara ke selatan.

Pekan lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa pasukannya akan menduduki koridor ketiga bernama “Morag,” yang akan semakin membelah Gaza dan memutus kota Rafah di perbatasan Mesir dari kota Khan Younis.

Israel berdalih bahwa pendudukan wilayah baru ini bertujuan untuk menekan Hamas agar membebaskan para sandera yang masih ditahan sejak 7 Oktober 2023. Namun, menurut AP, lahan yang kini diduduki Israel berpotensi dimanfaatkan untuk mengendalikan Gaza dalam jangka panjang.

Netanyahu menyatakan pekan lalu bahwa meski Hamas berhasil dikalahkan, Israel akan tetap mempertahankan kendali keamanan di Gaza dan mendorong pemindahan paksa penduduk Palestina dari wilayah tersebut.

“Pendudukan kembali ini bisa saja melampaui tujuan resmi perang Israel dan menjadi dalih untuk memaksa penduduk Palestina meninggalkan Gaza,” lapor jurnalis Axios dan mantan anggota Unit 8200, Barak Ravid, pada 31 Maret, mengutip pernyataan seorang pejabat senior yang tak disebutkan namanya.

Skema ini sudah dimulai dengan pengusiran paksa penduduk Palestina yang sempat kembali ke rumah mereka setelah gencatan senjata pada Januari lalu. Jika tak ada kesepakatan baru, para pejabat mengatakan militer bisa menduduki sebagian besar wilayah Gaza dan memaksa lebih dari dua juta orang pindah ke “zona kemanusiaan” yang kecil.

Penghancuran wilayah dekat perbatasan Israel dan perluasan sistematis zona penyangga, yang dulunya dihuni ratusan ribu penduduk Palestina, dimulai sejak awal perang Gaza 18 bulan lalu.

“Mereka hancurkan apa pun yang bisa dihancurkan, mereka tembak apa pun yang masih berfungsi. (penduduk Palestina) tidak akan bisa kembali, dan memang tidak akan kembali, selamanya,” ujar seorang tentara yang bertugas bersama regu tank untuk melindungi tim penghancur kepada AP.

Ia juga menyebut zona penyangga kini menjadi “zona tembak mati.” Siapa pun yang berada dalam jarak 500 meter dari tank akan ditembak, termasuk wanita dan anak-anak.

“Saya datang ke sana karena mereka membunuh kami dan sekarang kami akan membunuh mereka. Tapi saya menyadari bahwa kami tidak hanya membunuh mereka. Kami membunuh mereka, istri mereka, anak-anak mereka, kucing mereka, anjing mereka, dan kami hancurkan rumah-rumah mereka,” kata tentara tersebut.

Citra satelit menunjukkan bahwa kawasan permukiman yang dulunya padat kini rata dengan tanah.

“Butuh 20 tahun untuk membangun rumah itu, dan dalam lima menit, mereka hancurkan semua impian saya dan impian anak-anak saya,” ujar Nidal Alzaanin, yang rumahnya terletak di tepi zona penyangga sebelum dihancurkan oleh tentara Israel.

Pasukan penjajah Israel menggunakan buldozer lapis baja untuk menghancurkan lahan pertanian, pipa irigasi, tanaman, pepohonan, serta ribuan bangunan tempat tinggal dan fasilitas umum.

Beberapa tentara Israel mengaku bahwa mereka telah menghancurkan cukup banyak bangunan yang tidak bisa lagi mereka hitung.

(T.FJ/S: The Cradle)

 

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya