Jalur Gaza, SPNA – 60.000 anak di Jalur Gaza kini berada dalam kondisi kekurangan gizi parah dan menghadapi risiko kematian akibat blokade brutal Israel yang terus mencegah masuknya bantuan kemanusiaan, termasuk makanan dan obat-obatan.
Kementerian Kesehatan Gaza, Rabu (09/04/2025), menyampaikan bahwa sudah lebih dari sebulan, sejak 2 Maret, tak ada satupun bantuan yang berhasil masuk ke Gaza.
Israel menutup semua arus lalu lintas di perbatasan, melarang masuk bahan logistik penting mulai dari makanan, air bersih, vaksin, hingga bahan bakar. Akibatnya, 21 pusat gizi terpaksa ditutup, memutus akses perawatan bagi sekitar 350 anak yang sudah mengalami gizi buruk kronis.
Blokade ini bukan hanya bentuk kekejaman, tapi juga strategi militer Israel yang menggunakan kelaparan sebagai senjata. Badan Dunia Pangan (WFP) memperingatkan bahwa ratusan ribu warga Gaza kini berada di ambang kematian akibat kelaparan, sementara stok makanan yang tersisa hanya cukup untuk dua minggu ke depan.
“Semua persediaan bahan pokok hampir habis,” kata Juliette Touma dari UNRWA. “Anak-anak tidur dalam keadaan lapar. Setiap hari tanpa bantuan membuat anak-anak Gaza semakin dekat dengan kematian.”
Israel, yang selama 18 bulan terakhir telah menggempur Gaza tanpa henti, terus berdalih bahwa bantuan “disalahgunakan” oleh Hamas, klaim yang dibantah langsung oleh pejabat senior kemanusiaan PBB, Jonathan Whittall. “Tidak ada bukti bantuan dialihkan ke Hamas,” tegasnya.
Lebih buruk lagi, pekan lalu militer Israel menghentikan pasokan air dari perusahaan nasional ke Gaza, memutus hingga 70% suplai air untuk seluruh wilayah. Pipa utama di lingkungan Shejaiya, Gaza Timur, terkena dampak langsung serangan Israel, dan hingga kini belum jelas apakah rusaknya karena pengeboman atau pemutusan disengaja. Yang jelas, konsekuensinya fatal.
(T.RS/S:MEMO)