Jalur Gaza, SPNA – Serangan brutal kembali dilancarkan Israel terhadap warga sipil di Gaza, dan kali ini menyasar mereka yang berdiri di garis depan demi menyampaikan kebenaran, yaitu para jurnalis.
Dalam tragedi terbaru, jurnalis Palestina Ahmed Mansour menjadi korban. Dia gugur setelah menderita luka bakar parah akibat serangan udara Israel yang menargetkan sebuah tenda wartawan di dekat Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, Gaza selatan.
Dilansir Al-Jazeera, Rabu (09/04/2024), Ahmed Mansour, ayah dari tiga anak dan jurnalis di kantor berita Palestine Today, sempat menjalani perawatan intensif setelah diselamatkan dari kobaran api oleh rekan-rekannya.

Tubuhnya yang hangus menyisakan luka-luka mengerikan yang tak bisa ditangani oleh fasilitas medis yang kini hampir lumpuh total akibat blokade dan kehancuran sistem kesehatan Gaza. Upaya untuk mengevakuasinya ke luar negeri gagal. Ia menghembuskan napas terakhirnya pada Selasa dini hari.
Terbakar Hidup-Hidup Karena Membawa Kamera, Bukan Senjata
Rekaman video saat tubuh Mansour terbakar hidup-hidup telah menyebar luas di media sosial. Seorang jurnalis Palestina Abdul Rauf Shaath, yang berada di lokasi saat serangan terjadi, menggambarkan detik-detik saat ia mencoba menyelamatkan Mansour dari kobaran api. “Saya melihat tubuhnya dilalap api, dan saya langsung berlari ke dalam tenda. Saya menarik kakinya, tapi kulitnya meleleh di tangan saya. ini bukan hanya api. Ini adalah neraka.”
Selain Mansour, serangan itu juga membunuh jurnalis lain bernama Helmi Al-Faqaawi serta seorang warga sipil bernama Yousef Al-Khazindar. Sembilan jurnalis lainnya mengalami luka bakar serius, beberapa diantaranya kini dalam kondisi kritis.
Mereka tidak berada di zona tempur, bukan di markas militer, mereka hanya berada di sebuah tenda media, mengenakan rompi bertuliskan “PRESS”, di sebuah kompleks rumah sakit.
Israel Akui Serangan, Tapi Tuduh Korban Sebagai “Teroris”
Militer Israel tak menampik telah melancarkan serangan tersebut. Mereka mengklaim bahwa target mereka adalah seseorang bernama Hasan Salah, yang disebut sebagai anggota Brigade Khan Younis dan diduga “menyamar” sebagai jurnalis. Tuduhan yang kerap digunakan Israel untuk menjustifikasi pembunuhan terhadap wartawan. Namun komunitas pers internasional menolak mentah-mentah alasan itu.
211 Jurnalis Gugur Sejak 7 Oktober
Sejak dimulainya perang pada 7 Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 211 jurnalis di Gaza, seperti dilaporkan Kantor Media Pemerintah di Gaza. Dari jumlah ini, mayoritas adalah jurnalis lokal yang bekerja tanpa perlindungan internasional dan berada di garda terdepan meliput berita. Perang di Gaza telah menjadi konflik paling mematikan bagi jurnalis dalam sejarah modern.
Israel selama ini menolak akses jurnalis asing ke Jalur Gaza dan secara aktif membungkam media lokal. Serangan ke tenda pers hanyalah salah satu dari banyak upaya untuk membunuh narasi. Ketika jurnalis seperti Ahmed Mansour menggunakan kamera untuk memperlihatkan penderitaan warga sipil, anak-anak yang kelaparan, dan rumah sakit yang dihancurkan, Israel menjawabnya dengan rudal.