Ditulis oleh: Qassam Muaddi*
Tel Aviv, SPNA – Israel saat ini tengah menghadapi krisis sosial dan politik internal. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berada di pusat krisis ini dan ia tengah mengonsolidasikan kekuasaan dengan mendukung pihak-pihak yang mendukungnya untuk keluar sebagai pemenang. Namun, bagian paling penting dari strateginya adalah eskalasi perangnya terhadap Gaza.
Kedua kutub krisis ini mewakili mereka yang mendukung kelanjutan serangan militer di Gaza dan mereka yang merasa tidak ada lagi alasan untuk melanjutkannya. Kelompok yang terakhir menuntut agar prioritas diberikan pada upaya pembebasan sandera Israel. Sementara itu, kelompok pertama yang diwakili oleh Netanyahu, melihat perang ini sebagai cara untuk menghindari krisis secara keseluruhan dan menghindari konsekuensinya.
Di balik perangnya, Netanyahu telah menggantikan pejabat-pejabat di posisi-posisi penting negara dengan orang-orang yang dekat dengannya, baik secara pribadi maupun ideologis. Secara paradoks, ini justru memberi oposisi lebih banyak alasan untuk bergerak melawan Netanyahu, yang membawa krisis politik ini ke puncaknya.
Masyarakat Israel yang Pecah
Pada hari Selasa (01/04/2025), Benjamin Netanyahu terjerat dalam skandal politik lainnya, kali ini melibatkan Qatar. Polisi Israel memanggil Netanyahu untuk diselidiki terkait tuduhan merekrut seorang pembantu dengan dana yang diberikan oleh negara Teluk tersebut, setelah dinas intelijen Israel menolak untuk merekrutnya.
Kolaborator Netanyahu, Eli Feldstein, yang sebelumnya telah ditangkap karena tuduhan membocorkan dokumen kepada media selama pembicaraan gencatan senjata, kini dituduh berkolusi dengan pemerintah asing, penyuapan, dan pencucian uang. Feldstein mengakui menerima pembayaran, akan tetapi ia mengklaim bahwa itu bukan suap atau berkolusi dengan pemerintah asing.
Setelah penyelidikan yang dilakukan oleh polisi Israel, Netanyahu merilis sebuah pernyataan video yang menyatakan bahwa penyelidikan tersebut adalah “political” dan dimotivasi oleh penentangan terhadap keputusan kontroversial terbarunya: pemecatan kepala intelijen domestik, Ronen Bar.
Pemecatan Bar menjadi contoh paling ikonik dari krisis yang tengah melanda Israel dalam beberapa pekan terakhir, terutama karena Bar merupakan salah satu pendukung paling vokal untuk mencapai gencatan senjata di Gaza dan membebaskan sandera Israel. Pemecatannya oleh Netanyahu dianggap oleh para lawannya sebagai bukti jelas dari upaya Netanyahu untuk mengonsolidasikan kontrol pribadinya atas pengambilan keputusan.
Ronen Bar baru-baru ini membuka penyelidikan terkait apa yang ia sebut sebagai “pengambilalihan oleh aliran Kahanis” atas lembaga-lembaga negara, yang mengacu pada sekutu-sekutu sayap kanan Netanyahu yang telah mendorong agar perang di Gaza diteruskan. Mahkamah Agung Israel membekukan pemecatan Bar, menolak alasan Netanyahu yang mengklaim “kekurangan kepercayaan”, akan tetapi Netanyahu tetap melanjutkan penunjukan kepala baru untuk dinas intelijen tersebut.
Calon pengganti Bar adalah mantan komandan marinir Israel, akan tetapi Netanyahu mencabut pencalonannya dua jam setelah menunjuknya setelah diketahui bahwa calon tersebut adalah peserta aktif dalam protes anti-Netanyahu di Tel Aviv baru-baru ini.
Kontroversi yang timbul akibat penggantian Bar memperlihatkan dalamnya konflik di hati masyarakat Israel. Di satu sisi, ada mereka yang menegaskan untuk menjaga kontrak mendasar, meskipun tidak tertulis, antara negara Israel dan warganya: warga negara memberikan dua hingga tiga tahun hidup mereka untuk negara dalam bentuk wajib militer, dan negara berkomitmen untuk mengirim mereka pulang, entah hidup atau mati.
Di sisi lain adalah pendukung Netanyahu, yang percaya bahwa Israel sedang berperang dalam “perang eksistensial” dan harus mengembalikan kapasitasnya untuk meraih kemenangan yang jelas dan definitif atas musuh-musuhnya. Ini tidak hanya berarti menghancurkan Hamas, tetapi juga “menyelesaikan” persoalan Gaza dengan pembersihan etnis terhadap penduduk Palestinanya. Kemenangan ini belum tercapai, dan oleh karena itu tetap menjadi prioritas utama pendukung Netanyahu.
Penentangan terhadap aliran ini terus berkembang dalam beberapa pekan terakhir. Di tengah-tengah gerakan protes anti-Netanyahu adalah keluarga-keluarga sandera Israel di Gaza, yang terus menuduh Netanyahu menyerah pada mereka untuk menyenangkan sekutu-sekutu sayap kanannya dan menyelamatkan kabinetnya.
Keluarga-keluarga sandera dan para pendukung mereka telah berdemonstrasi ribuan orang selama berminggu-minggu, menuntut kesepakatan pertukaran tahanan untuk membebaskan semua tahanan, dan menolak kelanjutan perang di Gaza. Dalam protes tersebut juga ikut serta para pemimpin oposisi: mantan anggota kabinet perang Benny Gantz dan mantan Perdana Menteri bersama Yair Lapid, yang dalam pidatonya di depan ribuan pengunjuk rasa di Tel Aviv dua minggu lalu mengancam untuk memulai aksi “mogok pajak” melawan pemerintah Netanyahu.
Perang adalah Jawabannya
Bagaimanapun Anda melihatnya, struktur sosial dan politik Israel tengah menghadapi konfrontasi internal antara dua kekuatan penggerak: kanan ultra-nasionalis religius yang ingin memperburuk karakter kolonialis Israel hingga batasnya, dan sebuah aliran yang lebih “liberal” yang berupaya memisahkan praktik militeristik dan kolonial Israel terhadap rakyat Palestina dari stabilitas internal dan keberagaman masyarakat Israel. Seperti yang sering terjadi dalam sejarah Israel, krisis semacam ini seringkali diselesaikan melalui perang itu sendiri.
Minggu lalu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan bahwa Israel akan memperluas serangan daratnya ke Gaza, semakin menjauhkan kemungkinan gencatan senjata, dan menempatkan agenda perang di posisi teratas daftar prioritas negara, bahkan di atas krisis internal Israel.
Obat mujarab perang terbukti efektif bagi upaya Netanyahu untuk menghindari sidang korupsinya yang lain. Atas permintaannya, sidang terbaru ditunda minggu lalu karena “diskusi keamanan yang mendesak” yang membuatnya tidak bisa hadir. Sidang lainnya terkait tuduhan korupsinya juga ditangguhkan pekan sebelumnya, dan pada 18 Maret, jaksa penuntut umum Israel setuju untuk menunda peradilannya setelah Netanyahu melanjutkan perang di Gaza pada hari yang sama.
Meskipun ada desakan untuk membentuk komisi penyelidikan independent terkait kegagalan keamanan Israel pada 7 Oktober, perang sekali lagi menjadi penyelamat. Netanyahu secara vokal menentang seruan dari para lawannya untuk membentuk komisi semacam itu, dengan menyatakan di podium Knesset bahwa komisi itu “dipolitisasi” dan bertujuan untuk menggulingkan pemerintah sayap kanannya. Netanyahu berusaha untuk menghindari penyelidikan yang independen dan lebih memilih mengalihkan perhatian dengan alasan bahwa ini adalah agenda politik lawan-lawan politiknya.
Meskipun tentara Israel telah memulai penyelidikan internal, banyak warga Israel yang menuntut penyelidikan yang independen yang bukan dari pihak militer. Pada awal Maret, mantan kepala staf tentara Israel, Herzl Halevi, mengatakan dalam pidato perpisahannya pada pelantikan penggantinya, Eyal Zamir, bahwa tentara itu tunduk pada pemerintah dan karena itu tidak bisa menyelidikinya. Sebaliknya, Halevi menyerukan penyelidikan independen di semua tingkat kepemimpinan atas kegagalan 7 Oktober. Halevi mengundurkan diri dari posisinya setelah perdebatan sengit dengan Netanyahu, termasuk mengenai penyelidikan 7 Oktober.
Sementara itu, pemerintah AS terus memberikan dukungan penuh kepada Israel dalam perangnya melawan rakyat Palestina, para pemimpin Israel terus memanfaatkan kesempatan ini tidak hanya untuk memenuhi fantasi mereka tentang pembersihan etnis di Gaza dan aneksasi Tepi Barat, tetapi juga untuk menunda dampak dari perpecahan internal mereka sendiri. Sementara itu, rakyat Palestina, terutama di Jalur Gaza, terus membayar harga dari “demokrasi” Israel, dengan tanah, masa depan, dan nyawa mereka.
___
*Qassam Muaddi adalah jurnalis dan penulis Palestina yang telah meliput perkembangan sosial, politik, dan budaya Palestina dalam bahasa Arab, Prancis, dan Inggris sejak tahun 2014.
(T.FJ/S: Mondoweiss)