Jalur Gaza, SPNA – Dunia memperingati Hari Anak Palestina yang ditetapkan oleh Presiden Yasser Arafat sejak 1995 sebagai momen untuk mengingat hak-hak dasar anak Palestina. Namun, tahun ini, peringatan tersebut berubah menjadi ratapan memilukan atas kehancuran yang dialami oleh generasi muda di Jalur Gaza, akibat agresi dan pembantaian yang dilakukan militer Israel yang tiada henti sejak 7 Oktober 2023.
Di saat negara-negara lain merayakan Hari Anak dengan harapan dan kemajuan, Gaza justru memperlihatkan wajah paling kelam akibat tragedi kemanusiaan. Serangan udara dan darat Israel selama lebih dari satu setengah tahun telah menelan korban jiwa dari anak-anak secara besar-besaran dan meninggalkan trauma serta kehancuran jangka panjang yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bayi-Bayi Gaza Mati Sebelum Sempat Menangis Panjang
Berdasarkan laporan resmi dari Pusat Statistik Palestina yang dilansir Al-Araby, Jum’at (05/04/2025), jumlah anak-anak yang menjadi korban jiwa dalam serangan Israel sejak Oktober 2023 hingga awal 2025 telah melampaui 17.900 jiwa. Di antara mereka, 274 adalah bayi yang lahir dan gugur di bawah gempuran bom. Sebanyak 876 anak meninggal sebelum mencapai usia satu tahun.
Sekolah Jadi Debu, Rumah Jadi Puing: Anak Gaza Tak Punya Tempat Aman Lagi
Selain kehilangan nyawa, dampak agresi militer Israel juga merampas hak anak-anak untuk belajar dan tumbuh dengan normal. Sekitar 700.000 siswa tidak bisa melanjutkan pendidikan mereka pada tahun ajaran 2024/2025. Sebanyak 39.000 siswa kehilangan kesempatan mengikuti ujian akhir sekolah menengah atas tahun lalu.
Angka kerusakan fasilitas pendidikan sangat mencengangkan. Data mencatat bahwa 111 sekolah negeri hancur total, 241 sekolah lainnya rusak berat, dan 89 sekolah milik UNRWA ikut menjadi sasaran serangan. Serangan ini bukan hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga menghilangkan nyawa 12.441 siswa dan 519 guru. Sebanyak 19.819 siswa dan 2.703 guru lainnya mengalami luka-luka.
Tragedi Yatim Terbesar Abad Ini
Gaza kini menghadapi krisis yatim piatu terbesar dalam sejarah modern. Sekitar 39.384 anak telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka akibat serangan Israel. Dari jumlah itu, sekitar 17.000 anak menjadi yatim piatu total.
Anak-anak ini hidup dalam kondisi sangat menyedihkan. Mereka mengungsi di tenda-tenda lusuh, rumah-rumah yang hancur, tanpa perlindungan, tanpa bantuan psikososial, dan tanpa harapan. Sebagian besar mengalami gangguan kejiwaan berat seperti depresi, fobia, dan trauma mendalam.
Penyakit, Kelaparan, dan Disabilitas: Tiga Ancaman Mematikan
Agresi Israel tak hanya membawa kematian, tetapi juga penyakit dan cacat seumur hidup. Sekitar 7.065 anak mengalami cedera yang menyebabkan disabilitas tetap. Setiap hari, sedikitnya 15 anak menjadi penyandang disabilitas akibat penggunaan senjata peledak berdaya tinggi yang melanggar hukum internasional.
Sebanyak 4.700 kasus amputasi tercatat selama periode perang, dan 18% di antaranya menimpa anak-anak. Sistem kesehatan yang runtuh total membuat ribuan anak, termasuk 7.700 bayi baru lahir, berada dalam kondisi kritis akibat tidak adanya akses terhadap layanan medis dasar.
Penyakit yang sebelumnya berhasil diberantas kini kembali merebak. Gaza mengalami wabah polio pertama dalam 25 tahun terakhir pada Juli 2024 karena tingkat vaksinasi turun drastis dari 99% menjadi 86%.
Kelaparan dan Gizi Buruk Menghantui Masa Depan
Menurut laporan IPC (Integrated Food Security Phase Classification), hampir 1,95 juta warga Gaza kini berada dalam kondisi rawan pangan ekstrem, dengan sekitar 345.000 di antaranya menghadapi kelaparan akut. Sebanyak 60.000 anak balita mengalami gizi buruk akut, dan 12.000 di antaranya dalam kondisi sangat kritis.
Gizi buruk kronis ini tidak hanya memperlambat pertumbuhan anak secara fisik, tapi juga menimbulkan kerusakan otak permanen, gangguan sistem imun, serta risiko kematian yang tinggi.