Jalur Gaza, SPNA – Dalam wawancara eksklusif, Mayor Jenderal Faiz Duweri, pakar strategi perang, mengungkapkan bahwa tujuan operasi militer Israel di Gaza mengalami perubahan signifikan. Menteri Pertahanan Israel telah mengumumkan tujuan baru, yaitu menguasai sebagian wilayah Gaza.
Menurut Duweri, perubahan ini menunjukkan adanya dua tahap dalam strategi militer Israel:
Tahap Pertama: Israel berupaya memperluas kendali hingga 25% dari total wilayah Gaza, mencakup seluruh zona di utara, timur, dan selatan, serta penguasaan perlintasan Karem Abu Salem dan Kfar Aza. Pada tahap ini, operasi dilakukan melalui serangan artileri, rudal, dan serangan udara tanpa keterlibatan pertempuran darat secara intensif, sehingga mengurangi potensi korban dari pihak Israel.
Tahap Kedua: Jika negosiasi gencatan senjata gagal (dengan skema 10 sandera Israel ditukar dengan 40 hari penghentian serangan), Israel akan memperluas operasinya dengan strategi “penguasaan bertahap”. Dalam tahap ini, tekanan terhadap Hamas akan diperbesar dengan memanfaatkan penderitaan warga sipil sebagai taktik utama. Untuk mendukung tahap ini, tiga divisi utama telah dikerahkan, yaitu Divisi 36, 162, dan 262.
Divisi 36 adalah kekuatan utama dalam operasi ini dan terdiri dari lima brigade, termasuk tiga brigade lapis baja dan dua brigade infanteri. Divisi ini juga didukung oleh unit artileri, logistik, serta dukungan udara. Dua brigade utama dalam divisi ini adalah Brigade Tujuh dan Brigade Golani, yang sebelumnya telah terlibat dalam berbagai operasi di Gaza.
Divisi 36 pertama kali dikerahkan di utara Gaza, kemudian bergerak ke kamp-kamp pengungsi setelah kegagalan Divisi 99. Setelah itu, divisi ini dialihkan ke selatan Gaza dan akhirnya dipindahkan ke perbatasan Lebanon, menjadikannya salah satu unit tempur paling aktif dalam militer Israel sejak Oktober 2023.
Seiring dengan semakin meluasnya operasi militer, laporan mengenai tentara Israel yang menolak bertugas semakin banyak muncul. Namun, Duweri menjelaskan bahwa penolakan ini terutama terjadi di kalangan pasukan cadangan, bukan pasukan reguler.
Divisi 36, sebagai unit reguler, tunduk sepenuhnya pada perintah militer dan tidak terpengaruh oleh penolakan individu. Sementara itu, pasukan cadangan memiliki fleksibilitas lebih dalam merespons panggilan tugas.
Meski demikian, tingkat kesiapan tempur Israel tetap tinggi, dengan lebih dari 70% kekuatan tetap siap tempur. Penolakan tentara lebih bersifat psikologis dan moral daripada berdampak langsung terhadap efektivitas militer Israel.