Fakta Dikubur dengan Senjata, Israel Pecahkan Rekor Pembantaian Jurnalis Terbesar di Dunia

Tangisan keluarga Mohammed Mansour yang gugur dalam serangan tentara Israel, dibawa ke Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis, Gaza, [Abdallah F.s. Alattar – Anadolu Agency]

Jalur Gaza, SPNA – Israel dilaporkan telah mencetak rekor pembunuhan terhadap jurnalis terbesar di dunia lebih banyak daripada jumlah jurnalis yang tewas dalam beberapa konflik besar dunia, termasuk Perang Saudara Amerika, Perang Dunia I dan II, Perang Korea, Perang Vietnam, serta perang-perang lainnya. 

Berdasarkan sebuah laporan terbaru, Gaza kini tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kematian jurnalis tertinggi dalam sejarah modern. Laporan yang berjudul “The Reporting Graveyard” disusun oleh Nick Turse dan dipublikasikan oleh proyek Costs of War di Watson Institute for International and Public Affairs, Brown University, mengungkapkan bukti penargetan sistematis terhadap jurnalis di Gaza, yang menjadikannya zona paling mematikan bagi wartawan dalam sejarah dunia modern, seperti dilansir Middle East Monitor, Rabu (02/04/2025). 

Angka Kematian 

Sejak dimulainya konflik pada 7 Oktober 2023, lebih dari 230 jurnalis gugur di Jalur Gaza. Angka ini jauh melampaui jumlah korban jiwa di kalangan kru media dalam konflik-konflik besar lainnya. Laporan tersebut mencatat bahwa sebagian besar jurnalis yang gugur adalah warga Palestina yang bekerja dalam kondisi terkepung, beberapa jurnalis Lebanon dan Israel juga menjadi korban.

Bulan pertama genosida Israel, yakni Oktober 2023, tercatat sebagai bulan paling mematikan bagi jurnalis dengan 37 angka kemarian, sebuah angka yang belum pernah tercatat dalam sejarah pelaporan jurnalis sejak pendataan Committee to Protect Journalists (CPJ) tahun 1992.

Perang Terhadap Pers

Laporan tersebut menyatakan bahwa militer Israel tidak hanya menggunakan kekuatan militer untuk menyerang jurnalis, tetapi juga melakukan upaya sistematis untuk membungkam mereka. Setidaknya 35 jurnalis yang tewas menjadi sasaran langsung karena pekerjaan mereka meliput kekejaman Israel di Gaza. 

Selain itu, Israel juga menghalangi peliputan media dengan menghancurkan lebih dari 90 kantor media dan fasilitas pers, membatasi akses internet, serta melakukan penangkapan dan intimidasi terhadap jurnalis yang berusaha melaporkan situasi di Gaza.

“Satu hal yang jelas dari serangan ini adalah bahwa Israel tidak hanya menggunakan peluru untuk membungkam pers, tetapi juga birokrasi dan disinformasi,” kata Jonathan Dagher dari Reporters Without Borders.

Pembunuhan Sadis Samer Abudaqa

Salah satu kasus yang mencuat dalam laporan ini adalah kematian kameramen Al-Jazeera, Samer Abudaqa, pada Desember 2023. Abudaqa gugur dalam keadaan terluka akibat serangan udara Israel dan dibiarkan berdarah selama lebih dari lima jam, karena pasukan Israel menolak memberikan akses kepada tim medis.

Laporan ini juga mencatat bahwa meskipun Israel telah melarang jurnalis asing memasuki Gaza akibatnya, jurnalis lokal dengan segala kekurangan mereka telah menjadi tulang punggung peliputan media internasional. 

Dalam situasi yang semakin sulit ini, mereka terpaksa melanjutkan tugas mereka meskipun menghadapi ancaman dan ketidakpastian yang luar biasa.

Pihak berwenang Israel juga mengeluarkan tuduhan tanpa bukti terhadap jurnalis Palestina, menuduh mereka berkolaborasi dengan kelompok perlawanan atau terlibat dalam serangan lintas perbatasan pada 7 Oktober 2023. Banyak jurnalis yang menghadapi serangan siber atau akun media sosial mereka diblokir sebagai upaya untuk menghentikan laporan mereka.

Laporan Costs of War mengungkapkan bahwa Gaza telah menjadi tempat dengan tingkat kematian jurnalis tertinggi dalam sejarah, dengan lebih dari 380 jurnalis terluka selama perang berlangsung. Tingginya angka korban jiwa ini bertepatan dengan laporan PBB yang menyebutkan bahwa jurnalisme adalah salah satu profesi paling berbahaya di dunia saat ini.

(T.RS/S:MiddleEastMonitor)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya