Demi Kalahkan Hamas, Anggota Parlemen Israel Serukan Pembersihan Etnis di Gaza

Politisi Likud Amit Halevi (Credit: MiddleEastEye)

Jalur Gaza, SPNA – Seorang anggota parlemen dari partai berkuasa “Likud”, Amit Halevi secara terang-terangan menyerukan pembersihan etnis di Gaza. Halevi menegaskan bahwa pendudukan paksa adalah satu-satunya cara untuk mengalahkan Hamas. 

Pernyataan ini disampaikan di tengah agresi brutal Israel yang telah membunuh lebih dari 50.000 warga Palestina sejak Oktober 2023, dengan ribuan korban baru jatuh setelah gencatan senjata gagal. Sementara itu, Israel terus memblokade bantuan kemanusiaan, mendorong Gaza ke jurang kelaparan.

Amit Halevi, anggota parlemen dari Likud, mengatakan kepada Radio 103 FM bahwa Israel harus “membersihkan” Gaza dari warga Palestina.

“Kita harus menduduki Gaza dan membersihkannya dari musuh, jika tidak, mereka akan membunuh anak-anak Anda dan menculik cucu-cucu Anda lagi,” ujarnya seperti dilansir Middle East Eye.

Ia juga menegaskan bahwa tidak ada peluang untuk mengakhiri agresi Israel terhadap Gaza, karena menurutnya, satu-satunya cara untuk menang adalah dengan mengendalikan Gaza dan penduduknya.

Gencatan Senjata Gagal, Israel Lanjutkan Pembantaian

Sejak Israel kembali menggempur Gaza pada 18 Maret, setidaknya 921 warga Palestina terbunuh. Total korban jiwa sejak 7 Oktober 2023 telah melampaui 50.357 orang, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak.

Gencatan senjata yang diharapkan menjadi titik balik perdamaian justru berujung pada pengkhianatan Israel. Setelah kesepakatan tercapai pada akhir Januari, Israel menolak melanjutkan tahap kedua perundingan dan malah meningkatkan tekanannya terhadap Hamas.

Alih-alih menghormati perjanjian, Israel melanggar gencatan senjata berulang kali, termasuk serangan brutal pada 18 Maret yang menewaskan 400 warga Palestina dalam satu malam, termasuk 183 anak-anak.

Israel Seret Gaza ke Ambang Kelaparan

Selain pembantaian yang terus berlangsung, Israel juga menggunakan blokade sebagai senjata perang. Perbatasan Gaza ditutup sejak 2 Maret, menghentikan seluruh akses bantuan kemanusiaan, makanan, dan obat-obatan.

Situasi ini semakin memperparah krisis kemanusiaan di Gaza. Direktur Program Pangan Dunia (WFP) di Palestina memperingatkan bahwa lebih dari 90% kini mengalami kelaparan akut akibat kebijakan brutal Israel yang mencegah masuknya bantuan ke wilayah tersebut.

(T.RS/S:MiddleEastEye)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya