Yerusalem, SPNA – Tentara Israel memperluas serangan militernya di bagian utara Tepi Barat Palestina dengan melakukan serangan ke kota Qabatiya, pada Minggu (23/02/2025). Kota ini merupakan kota terbesar kedua di wilayah Provinsi Jenin, berjarak sekitar enam kilometer di selatan kota Jenin.
Pada dini hari, tentara Israel mengerahkan kendaraan lapis baja ke dalam kota Qabatiya dan mulai menghancurkan deretan toko di pintu masuk Qabatiya. Menurut keterangan penduduk Palestina, buldoser Israel segera merobohkan jaringan pipa air di jalanan serta merusak tembok luar pemakaman bersejarah yang menjadi tempat peringatan bagi 45 tentara Irak yang gugur dalam Perang 1967 saat membela Jenin.
Israel Perluas Operasi “Iron Wall” dan Usir Puluhan Ribu Penduduk Palestina
Setelah serangan di Qabatiya dimulai, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan perluasan operasi “Iron Wall” ke kota tersebut melalui pernyataan tertulis. Katz juga mengakui bahwa pasukan Israel telah mengusir 40.000 penduduk Palestina dari tiga kamp pengungsi di Jenin dan Tulkarem, angka yang sebelumnya telah dilaporkan oleh Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).
Katz menegaskan bahwa kamp-kamp pengungsi tersebut kini “kosong dari penduduk Palestina,” dan menambahkan bahwa aktivitas UNRWA di kamp-kamp itu juga telah dihentikan. Ia bahkan menginstruksikan tentara Israel agar melarang penduduk Palestina yang telah diusir untuk kembali ke rumah mereka selama setahun penuh.
“Kami tidak akan kembali pada situasi seperti sebelumnya. Kami akan terus membersihkan kamp-kamp pengungsi (Palestina) dan pusat-pusat teror untuk membongkar batalion dan infrastruktur teroris,” sebut Katz.
Sementara itu, di kota Jenin, tentara Israel mengerahkan tank untuk pertama kalinya dalam 23 tahun terakhir di wilayah Tepi Barat. Beberapa tank Merkava terlihat berada di sekitar Jenin, sementara militer Israel mengumumkan pengerahan divisi lapis baja dari Brigade 188.
Dampak Serangan Israel di Qabatiya: Sekolah Ditutup, Pasar Lumpuh
Serangan Israel terhadap Qabatiya berdampak langsung dan menghancurkan kehidupan warga. Kepala sekolah dasar Qabatiya, Iyas Sabaaneh, mengatakan bahwa aktivitas belajar-mengajar terpaksa dihentikan karena banyak guru yang berasal dari luar kota tidak dapat masuk.
“Tentara Israel telah menutup semua akses masuk ke kota dan menghancurkan jalan-jalan utama. Mereka juga memberlakukan jam malam sejak serangan dimulai,” kata Iyas Sabaaneh kepada Mondoweiss.
“Kami memiliki 700 murid di sekolah kami, sedangkan sekolah menengah di kota ini memiliki 450 siswa. Namun, semua kegiatan belajar harus dihentikan,” lanjutnya.
Sabaaneh juga mengungkapkan bahwa tentara Israel telah merusak banyak jalan serta menghancurkan jaringan pipa air, menyebabkan banjir di beberapa area dan memutus pasokan air bersih di bagian timur Qabatiya.
Selain itu, tentara Israel telah menggerebek beberapa rumah warga dan mengubahnya menjadi pos militer, memaksa penghuninya untuk pergi. “Buldoser militer Israel juga menghancurkan area di sekitar pusat kesehatan, gedung pengadilan, balai kota, masjid tua, dan sekolah-sekolah kami,” tambahnya.
Pasar Qabatiya, yang menjadi pusat perdagangan utama bagi puluhan desa di selatan Jenin dan utara Nablus, kini sepenuhnya ditutup.
“Ini tidak hanya berdampak pada akses pangan warga, tetapi juga terhadap para petani di wilayah sekitar yang tidak dapat menjual hasil panen mereka,” jelas Sabaaneh.
Banyak petani di Qabatiya kini tidak dapat mengakses lahan mereka, sementara ribuan tanaman, terutama stroberi, jeruk, serta ternak ayam, terancam mati akibat terputusnya pasokan air dan listrik.

Israel Tingkatkan Serangan di Berbagai Wilayah
Eskalasi militer Israel di Tepi Barat mendapat dukungan dari berbagai pemimpin politik Israel. Pada Senin (24/02), pemimpin oposisi Israel, Benny Gantz, menyerukan pengerahan lebih banyak pasukan ke Tepi Barat.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan peningkatan operasi militer di berbagai wilayah. Dalam pidatonya saat upacara kelulusan perwira tentara Israel, Netanyahu menegaskan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di Jabal Al-Sheikh dan wilayah Suriah yang mereka duduki sejak jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember tahun lalu. Netanyahu juga menegaskan bahwa Israel tidak akan mengizinkan keberadaan militer Suriah baru di selatan Damaskus.
Sementara itu, jet tempur Israel menggempur beberapa lokasi di selatan Lebanon dan Lembah Bekaa selama prosesi pemakaman dua pemimpin Hizbullah, Hasan Nasrallah dan Hashem Safiyuddin, di Beirut. Pesawat-pesawat tempur Israel juga terbang rendah di atas kerumunan pelayat yang menghadiri pemakaman tersebut.
Eskalasi serangan Israel ini terjadi di tengah upaya Netanyahu menghindari perundingan dengan Hamas terkait fase kedua kesepakatan gencatan senjata di Gaza, yang mencakup penghentian perang.
Pada Senin (24/02), surat kabar Israel Haaretz melaporkan bahwa Netanyahu telah mengajukan rencana kepada utusan Timur Tengah Amerika Serikat, Steve Witkoff, untuk membebaskan semua sandera Israel yang tersisa di Gaza dalam satu tahap, tanpa melanjutkan negosiasi ke fase kedua gencatan senjata. Netanyahu berharap AS akan menekan Hamas agar menerima perpanjangan fase pertama tanpa berlanjut ke perundingan terkait penghentian perang.
Pekan lalu, Netanyahu juga menangguhkan pembebasan 600 tahanan Palestina setelah Israel menerima tiga sandera dan empat jenazah yang dibebaskan Hamas di Gaza. Kantor Netanyahu menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil karena Hamas mengadakan “upacara pelepasan yang menghina,” sementara Hamas menuduh Netanyahu berusaha menghindari kewajiban yang telah disepakati dalam perjanjian gencatan senjata.
Pejabat senior Gerakan Perlawanan Palestina Hamas, Mahmoud Mardawi, pada Minggu (23/02), menegaskan bahwa Hamas tidak akan melakukan pembicaraan apa pun dengan Israel melalui mediator sebelum para tahanan Palestina yang dijanjikan untuk dibebaskan pada Sabtu (22/02) benar-benar dibebaskan.
Hamas menyatakan bahwa penundaan pembebasan gelombang ketujuh tahanan Palestina yang telah disepakati merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata.
Dalam pernyataan yang dipublikasikan di Telegram, Mardawi menegaskan bahwa tidak akan ada diskusi dengan Israel melalui perantara mengenai langkah-langkah lebih lanjut sebelum tahanan Palestina yang telah disepakati dibebaskan, sebagai bagian dari pertukaran dengan tahanan dan jenazah Israel yang telah diserahkan pada Sabtu. Ia menekankan bahwa mediator harus memaksa Israel untuk menjalankan kesepakatan.
(T.FJ/S: Mondoweiss)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!