Gaza, SPNA – Berdasarkan laporan Juru Bicara Kementerian Wakaf Palestina di Gaza, Ikrami Al-Mudallal, sebagaimana dilansir Anadolu, pada Minggu (02/02/2025), Israel telah menghancurkan 79 persen masjid di Jalur Gaza dan sepenuhnya menghancurkan tiga gereja.
Al-Mudallal mengungkapkan bahwa pasukan Israel juga telah membunuh 255 ulama dan imam yang bertugas di bawah naungan Kementerian Wakaf tersebut serta menahan 26 orang lainnya, menurut laporan agen berita Anadolu.
“Serangan masjid dan tempat ibadah yang dilakukan pasukan penjajah (Israel) adalah pelanggaran yang jelas terhadap semua kesucian, hukum internasional, dan hukum hak asasi manusia,” kata Al-Mudallal.
Tentara Israel juga membom 32 dari 60 pemakaman Gaza, menghancurkan 14 secara total dan merusak 18 lainnya.
Jalur Gaza yang memiliki sejarah panjang sebagai gerbang antara Asia dan Afrika, telah menjadi rumah bagi berbagai peradaban, budaya, dan agama selama berabad-abad. Namun, sejak Israel melancarkan serangannya pada 7 Oktober 2023, banyak masjid, kuil, dan gereja bersejarah di wilayah ini dihancurkan.

Masjid Besar Omari dan Gereja Tua Gaza Hancur
Di antara situs-situs yang hancur adalah Masjid Besar Omari, masjid terbesar dan tertua di Gaza. Menara masjid yang berusia 1.400 tahun itu hancur, dan bagian dari struktur tersebut mengalami kerusakan parah. Masjid lainnya yang terdampak termasuk Masjid Sayed Al-Hashim dan Masjid Katib Al-Wilaya.
Sejumlah gereja juga menjadi sasaran. Gereja Saint Porphyrius, gereja tertua di Gaza dan gereja ketiga tertua di dunia, mengalami kerusakan, begitu juga dengan Gereja Holy Family.
Gereja Ahli Baptist, yang berada di dalam Rumah Sakit Baptis Al-Ahli, juga terkena serangan. Serangan Israel terhadap rumah sakit dan gereja tersebut pada 17 Oktober membunuh sekitar 500 orang.
Gencatan Senjata dan Pertukaran Tahanan di Tengah Krisis Kemanusiaan Gaza
Pada 19 Januari, gencatan senjata dan kesepakatan pertukaran tahanan antara Hamas dan Israel mulai berlaku, yang awalnya ditetapkan untuk 42 hari, dengan negosiasi untuk fase-fase selanjutnya. Kesepakatan ini dimediasi oleh Mesir dan Qatar, dengan dukungan AS.
Sejak 7 Oktober 2023, perang Israel di Gaza telah membunuh lebih dari 47.400 penduduk Palestina, di mana mayoritasnya adalah perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 111.000 orang. Lebih dari 11.000 orang masih hilang.
Perang ini telah memicu salah satu bencana kemanusiaan terburuk dalam sejarah modern, dengan kehancuran luas dan kelaparan yang disengaja oleh Israel dengan memblokade bantuan kemanusiaan telah merenggut banyak nyawa, terutama di kalangan anak-anak dan lansia.
Pada November 2024, Pengadilan Kriminal Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional terkait perang di Gaza.
(T.FJ/S: Anadolu)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!