Israel Lanjutkan Perang di Tepi Barat: Jenin dan Tulkarem Jadi Sasaran Penghancuran Massal

Potret bangunan yang dihancurkan dan dibakar oleh Israel di seluruh kamp Jenin. Israel melakukan ini hampir di seluruh kamp Jenin. (Foto: Al Jazeera)

Jenin, SPNA – Pada Senin (27/01/2025), Israel memperluas perang baru di Tepi Barat dengan sandi operasi “Tembok Besi” yang telah dimulai pada 21 Januari. Serangan tentara Israel kini menyasar kamp pengungsi di Tulkarem, setelah sebelumnya Israel menghancurkan bangunan penduduk Palestina di Jenin. Di kedua kota tersebut, operasi ini mengarah pada penghancuran rumah-rumah penduduk Palestina dan perubahan geografi kamp yang dilanda.

Tentara Israel memulai agresi besar-besaran di wilayah utara Tepi Barat yang diduduki, dimulai dengan serangan di Kota Jenin dan kamp pengungsi di sekitarnya. Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa tentara Israel telah membunuh 16 penduduk Palestina dan melukai 50 orang lainnya, 21 Januari lalu.

Delapan Hari Kehancuran: Serangan Israel ke Kamp Pengungsi Jenin

Selama delapan hari terakhir, Israel terus meruntuhkan rumah-rumah di pinggiran kamp Jenin, menggunakan buldoser untuk membuka jalan menuju kedalaman kamp. Di jalan-jalan yang lebih lebar, tentara Israel membakar rumah-rumah hingga hancur.

Di lapangan, tingkat kehancuran mulai terlihat jelas. Penduduk Palestina melaporkan kesulitan mengenali beberapa rumah, dan di area seperti alun-alun kamp, kehancuran tersebut terlihat seperti bencana gempa. Abu Fayez, salah satu penduduk Palestina di kamp Jenin, menggambarkan situasinya kepada Al Jazeera: “Ini mengejutkan. Kerusakan ada di mana-mana. Apa yang terjadi ini seperti Nakba baru”.

Abu Fayez melanjutkan: ”Semua rumah tetangga kami hancur. Kami tinggal di lingkungan sipil yang disebut ‘kamp baru’ karena dibangun kembali setelah invasi tahun 2002. Apa yang terjadi sekarang adalah upaya lain untuk mengusir kami dan menghancurkan kamp”.

Abu Fayez menekankan bahwa pengungsi berada dalam kondisi yang sangat buruk karena kekurangan sumber daya. Bagi beberapa warga yang belum mengungsi, situasinya bahkan lebih tragis. Mereka tidak memiliki air sejak awal krisis dengan Otoritas Palestina 40 hari lalu, dan bahaya mengintai di mana-mana.

Militer Israel telah memasuki kamp dari satu kawasan ke kawasan lainnya. Israel perlu menghancurkan satu kawasan untuk mencapai kawasan lain. Drone Israel terus terbang di atas kamp, menjatuhkan bom pada rumah-rumah dan jalanan.

Maysoun Khnefer, salah satu pengungsi, menjelaskan, “Saya mencoba kembali ke rumah saya untuk memeriksa dan mengambil beberapa barang untuk anak-anak saya, tetapi saya tidak bisa masuk karena bangunan hancur begitu parah di sekitarnya”.

Tentara penjajah Israel membakar sejumlah rumah penduduk Palestina dan melarang tim pertahanan sipil mencapai rumah-rumah tersebut untuk memadamkan api. (Foto: Al-Jazeera)

Mesin Penghancur Israel, Serangan Drone, dan Pemboman di Jenin

Pada jam-jam terakhir hari Selasa, Israel mulai membawa peralatan yang lebih kecil, yang disebut “Bob cut”, yang digunakan untuk membuka jalan dan mempermudah pergerakan di dalam kamp.

Laporan menunjukkan bahwa pasukan Israel telah menghancurkan lebih dari 100 rumah dan bangunan sejauh ini. Penghancuran terbaru adalah penghancuran Masjid Hamza di Jalan Mehyoub, di kamp Jenin. Mereka juga menghancurkan infrastruktur kamp secara keseluruhan dan mengusir lebih dari 90 persen penduduknya.

Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina mengutuk penghancuran masjid tersebut, menyebutnya sebagai serangan terang-terangan terhadap tempat suci Islam dan pelanggaran jelas terhadap hukum internasional yang melindungi rumah ibadah.

Pasukan Israel telah mempublikasikan rekaman video dari penghancuran rumah-rumah, menunjukkan penggunaan bahan peledak untuk menghancurkan rumah-rumah di kamp Jenin. Penduduk lokal membandingkan ini dengan penghancuran serupa yang dilakukan oleh tentara penjajah Israel di Jalur Gaza.

Menurut pengakuan penduduk Palestina di kamp Jenin, kawasan kamp Jenin telah menjadi masalah besar bagi pendudukan Israel, terutama setelah menampung sejumlah pejuang perlawanan. Ini menyebabkan Israel meningkatkan operasi militer untuk menghancurkan kamp dan membinasakan kelompok pejuang Palestina yang ada.

Target Selanjutnya: Kamp Pengungsi Tulkarem Menghadapi Nasib yang Sama

Sementara seruan untuk menganggap Jenin sebagai zona bencana semakin berkembang, Israel telah memperluas penghancurannya ke kamp pengungsi Tulkarem, yang terletak di pusat kota di utara Tepi Barat. Tentara Israel memaksa penduduk Palestina untuk mengungsi pada malam hari dan mulai menggunakan buldoser untuk menghancurkan dan membakar rumah-rumah Palestina.

Hani Sarhan, penduduk Palestina di kamp Tulkarm, mengatakan kepada Al-Jazeera bahwa situasinya di kamp Tulkarem sangat buruk. Orang-orang pergi tanpa tahu ke mana harus pergi. Kerusakan pada infrastruktur, jalan, dan listrik sangat besar.

“Semua ini bagian dari perang terhadap kamp-kamp yang dimulai oleh penjajah Palestina beberapa bulan yang lalu. Tentara Israel membagi kamp menjadi sektor-sektor, dan bekerja di setiap sektor secara terpisah. Situasinya sangat sulit, dan ada bahaya di setiap gang. Jadi orang-orang terpaksa keluar. Israel telah mengubah kamp ini menjadi tempat yang tak layak untuk dihuni” kata Hani Sarhan.

Sarhan percaya bahwa apa yang dilakukan Israel di kamp-kamp tidak akan mengubah kenyataan di benak pengungsi.

“Kami adalah tamu di kamp-kamp ini. Tanah kami ada di Palestina yang lebih besar, dan kami akan kembali ke sana,” kata Hani Sarhan.

Pengungsian Paksa di Kamp Tulkarem

Menurut pengakuan penduduk Palestina di Kamp Pengungsi Tulkarem, pasukan penjajah Israel mengepung rumah-rumah mereka dan memaksa mereka untuk mengungsi, sebagai persiapan untuk menghancurkan rumah-rumah tersebut, seperti yang terjadi di Kamp Jenin.

Warga dipaksa untuk bergerak ke satu arah, menuju jalan yang berdekatan dengan rumah sakit, dan dari sana mereka melanjutkan perjalanan menuju pinggiran kota dan desa-desa sekitar.

Langkah ini menyebabkan krisis bagi pengungsi yang tidak menemukan tempat untuk berteduh. Hussein Sheikh Ali, seorang warga Tulkarem, menjelaskan kepada Al-Jazeera: “Evakuasi dilakukan pada malam hari, hanya ada satu jalur keluar dari kamp. Setelah itu, mereka meninggalkan orang-orang di jalan. Awalnya, dua masjid diizinkan buka untuk tempat berteduh bagi keluarga-keluarga, akan tetapi hingga kini orang-orang masih bingung ke mana harus pergi”.

Kendaraan militer Israel ketika melakukan serangan di kamp Tulkarm. (Foto: AFP)

Penghancuran dan Persiapan untuk Penghapusan Kamp Tulkarem

Sheikh Ali menambahkan bahwa evakuasi mendesak ini bertujuan untuk mempersiapkan penghancuran total.

“Bulldozer Israel merobohkan jalan-jalan, serta jaringan air dan saluran pembuangan yang sebenarnya sudah rusak sejak serangan sebelumnya di kamp. Penghancuran dan pembakaran rumah-rumah merupakan upaya untuk mengosongkan kamp dan menghilangkannya,” kata Sheikh Ali.

Menurut Sheikh Ali, ini semua bagian dari proyek penjajahan Israel di Tepi Barat yang dimulai setelah perang di Gaza.

“Kamp ini kini menjadi tempat yang tidak ramah bagi warganya, dengan segala fasilitas kehidupan yang hancur. Akhirnya, Israel akan menghancurkan dan membakar rumah-rumah di kamp ini,” ujar Sheikh Ali.

Gubernur Tulkarem, Abdullah Kmeil, dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Palestina, menyatakan bahwa “penduduk dipaksa untuk mengungsi dari rumah mereka di Kamp Tulkarem, dan kami terus memantau situasi ini. Saya telah memberi arahan kepada pihak berwenang untuk menyediakan tempat perlindungan, baik dengan membuka sejumlah masjid atau menyiapkan aula, dan semua pengungsi telah mendapatkan tempat tinggal yang aman”.

Penangkapan Massal

Dalam perkembangan terkait, stasiun televisi Palestina melaporkan bahwa tentara penjajah Israel telah menyerbu kota Soreef di barat laut Hebron. Selain itu, pasukan Israel juga menggerebek beberapa desa di barat Ramallah.

Tentara penjajah Israel juga menyerbu Kota Betlehem di Tepi Barat yang diduduki, melakukan penggeledahan dan penangkapan terhadap sejumlah penduduk Palestina.

Selain itu, pasukan Israel menggerebek kota Kafr Laqif di timur Qalqilya, desa Kafr Malik, kamp pengungsi Jalazone di utara Ramallah, serta kota Zita di utara Tulkarem.

Seiring dengan eskalasi kejahatan di Gaza, tentara Israel dan pemukim Israel memperluas serangan di Tepi Barat, termasuk di Yerusalem Timur.  Berdasarkan data resmi Palestina, sejak 7 Oktober 2023, hingga Selasa (28/01/2025), Israel telah membunuh 880 penduduk Palestina di Tepi Barat, di mana lebih dari 6.700 lainnya mengalami luka-luka, dan sekitar 14.300 orang ditangkap.

Sejak tanggal 7 Oktober 2023, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel melakukan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.

Gencatan senjata antara perlawanan Palestina dan Israel mulai berlaku pada 19 Januari 2025, dengan tahap pertama berlangsung selama 42 hari. Selama periode ini, upaya negosiasi akan  dilakukan untuk memulai tahap kedua dan ketiga, yang dimediasi oleh Kairo, Doha, dan Washington.

Dengan dukungan AS, Israel melakukan tindakan pembantaian penduduk Palestina di Jalur Gaza antara 7 Oktober 2023 hingga 19 Januari 2025, yang telah membunuh dan melukai lebih dari 158.000 orang, sebagian besar anak-anak dan perempuan, serta lebih dari 14.000 orang hilang.

(T.FJ/S: Aljazeera)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!