Pejuang Palestina Setujui Dua Syarat Utama Gencatan Senjata dengan Israel

Gaza, SPNA – RT Arabic pada Kamis (12/12/2024), menyebutkan bahwa kelomok pejuang Palestina, dalam hal ini gerakan Hamas, telah menyetujui dua syarat utama bagi Israel untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza.

Mengutip The Wall Street Journal, para mediator Arab menyatakan, “Hamas telah memenuhi dua permintaan utama Israel untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza,” yang meningkatkan harapan bahwa kesepakatan tersebut dapat mengarah pada pembebasan beberapa tahanan dalam beberapa hari, meskipun ada beberapa kali kegagalan dalam negosiasi sebelumnya.

Hamas pertama kali memberi tahu para mediator bahwa mereka akan setuju dengan kesepakatan yang memungkinkan pasukan Israel tetap berada di Gaza sementara ketika pertempuran berhenti. Hamas juga memberikan daftar tahanan, termasuk warga negara Amerika, yang akan dibebaskan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, sebuah hal yang belum dilakukan sejak gencatan senjata pertama dalam konflik tahun lalu.

Axios mengutip pejabat Israel yang mengatakan bahwa Israel memberikan proposal terbaru kepada Hamas minggu lalu untuk mencapai kesepakatan yang mencakup “pembebasan beberapa dari 100 sandera yang ada di tangan Hamas dan dimulainya gencatan senjata.”

Pejabat Israel menambahkan bahwa proposal tersebut hampir serupa dengan yang dinegosiasikan pada Agustus lalu, dengan fokus pada pelaksanaan tahap pertama kesepakatan tersebut.

“Hamas menunjukkan kesiapan yang lebih besar untuk bersikap fleksibel dan mulai melaksanakan kesepakatan, meskipun hanya sebagian,” sebut pejabat Israel.

Pada hari Minggu lalu, Hamas menyerahkan daftar nama sejumlah tahanan kepada para mediator di Kairo, yang mencakup warga negara Amerika, perempuan, tahanan dengan kondisi medis yang rumit, serta jenazah lima tahanan.

Surat kabar Israel, Maariv, melaporkan bahwa saat ini Israel fokus untuk meningkatkan jumlah sandera yang dibebaskan pada tahap pertama gencatan senjata, dengan persetujuan untuk menarik pasukan secara bertahap dari kawasan Philadephia di perbatasan Mesir, akan tetapi menolak permintaan untuk mengurangi kehadiran militer di wilayah lain, termasuk utara Gaza.

Menteri Pertahanan Israel, Yoav Katz, menegaskan dalam percakapan dengan Menteri Pertahanan Amerika Lloyd Austin pada hari Rabu, bahwa ada peluang untuk mencapai kesepakatan baru terkait pertukaran tahanan dengan kelompok Hamas di Gaza.

Dua tuntutan utama yang disampaikan oleh Hamas untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Israel adalah Israel tetap berada di Gaza sementara ketika pertempuran berhenti, yang memungkinkan pasukan Israel untuk tetap di sana dalam jangka waktu tertentu meskipun ada gencatan senjata. Kedua, pembebasan beberapa tahanan yang termasuk warga negara Amerika, perempuan, tahanan dengan kondisi medis yang rumit, serta jenazah lima orang tahanan.

Kedua tuntutan ini dianggap sebagai bagian dari upaya untuk mencapai gencatan senjata dan meningkatkan harapan akan pembebasan beberapa sandera dalam waktu dekat.

Sebelumnya, Hamas menyebutkan tiga syarat utama yang harus dipenuhi untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Israel. Syarat-syarat tersebut adalah: Gencatan senjata permanen dan penarikan penuh tentara Israel dari seluruh Jalur Gaza; pencabutan blokade terhadap Gaza, termasuk membuka kembali jalur perbatasan untuk barang dan bantuan kemanusiaan; pembebasan tahanan Palestina, termasuk wanita, anak-anak, dan mereka yang ditahan dengan kondisi medis yang rumit.

Syarat-syarat ini menunjukkan fokus Hamas pada penghentian kekerasan, pengakhiran blokade, dan pembebasan tahanan sebagai langkah penting menuju gencatan senjata.

Salah satu syarat yang disebutkan oleh Hamas dalam perundingan gencatan senjata sebelumnya adalah penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza. Hal ini menjadi salah satu tuntutan utama mereka selain pengakhiran serangan udara dan operasi militer Israel, serta pencabutan blokade Gaza. Penarikan pasukan Israel dianggap penting oleh Hamas sebagai langkah untuk memastikan keamanan dan kedaulatan wilayah Palestina di Jalur Gaza.

Dalam perkembangan terbaru, ada perubahan sikap, di mana Hamas kini juga menerima keberadaan pasukan Israel sementara waktu di Gaza selama gencatan senjata, yang menunjukkan adanya fleksibilitas dalam posisi mereka terkait tuntutan tersebut. Namun, ini juga akan berdampak besar bagi kedaulatan wilayah Palestina di Jalur Gaza ke depan jika Israel tidak mau menarik pasukannya secara penuh dari Jalur Gaza.

Genosida Terus Berlanjut

Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Senin (09/12), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 44.758 orang dan 106.134 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.

Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur, di mana lebih 808 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.

Israel juga melakukan pembantaian di Lebanon, dengan rutin menyerang wilayah selatan Lebanon dan bahkan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon. Israel telah membunuh 3.962 penduduk Lebanon dan lebih dari 16.520 terluka sejak 8 Oktober 2023.

(T.FJ/S: RT Arabic, Mondoweiss)

 

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya