Bencana Semakin Parah di Rumah Sakit Kamal Adwan: Tidak Ada Dokter Bedah yang Tersisa

Gaza, SPNA – Tentara penjajah Israel, pada Jumat (06/12/2024), menyerbu Rumah Sakit Kamal Adwan di Beit Lahia, Gaza Utara, di tengah serangkaian serangan mematikan di dan sekitar rumah sakit tersebut.

Rumah sakit ini merupakan salah satu yang terakhir beroperasi di bagian utara Jalur Gaza. Serangan ini mengikuti pola serangan militer Israel yang baru-baru ini sering terjadi di pusat-pusat layanan kesehatan, semakin memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah sangat parah.

Selama serbuan tersebut, tentara Israel menginterogasi staf medis dan pasien yang terluka. Beberapa orang ditangkap, sementara yang lainnya dibebaskan sebelum pasukan Israel akhirnya mundur dari rumah sakit. Ini merupakan serangan terbaru dari serangkaian serangan militer Israel terhadap Rumah Sakit Kamal Adwan, yang telah mengalami kerusakan dan gangguan signifikan akibat konflik yang sedang berlangsung.

Sebelumnya, serangan udara Israel telah menargetkan rumah sakit tersebut, menyebabkan dua pasien meninggal dunia dan 12 anggota staf medis terluka. Dr. Hussam Abu Safia, direktur rumah sakit yang juga terluka akibat serangan Israel, menggambarkan situasinya sebagai bencana. Ia mengatakan, “Situasi di dalam dan sekitar rumah sakit sangat bencana, dengan banyak martir dan korban luka. Kami tidak memiliki ahli bedah lagi, dan pasokan medis hampir habis”.

Serangan Berkelanjutan dan Korban Sipil

Beberapa jam sebelum serbuan rumah sakit, bombardir Israel menargetkan rumah-rumah di sekitar Rumah Sakit Kamal Adwan, menyebabkan sedikitnya 30 orang meninggal dunia. Artileri Israel juga menghantam kawasan Tal al-Hawa di barat daya Kota Gaza, sementara kapal perang membuka tembakan di sepanjang pantai kota.

Di seluruh Gaza, serangan terus meningkat. Kantor berita WAFA melaporkan bahwa pasukan Israel melakukan tiga pembantaian terhadap keluarga dalam 24 jam terakhir, yang mengakibatkan 32 warga sipil meninggal dunia dan 95 lainnya terluka. Situasi semakin parah seiring dengan meningkatnya operasi militer Israel di wilayah tersebut.

Pengungsian Paksa Gaza Utara

Sebagai bagian dari strategi militer Israel, setidaknya 100.000 warga Palestina telah dipaksa untuk meninggalkan Gaza Utara. Langkah ini dianggap sebagai bagian dari Rencana Jenderal, yang bertujuan untuk membunuh atau mengusir mereka yang masih berada di bagian utara Jalur Gaza. Gaza Utara semakin tidak dapat dihuni, semakin memperburuk krisis yang ada.

Human Rights Watch (HRW) merilis laporan setebal 154 halaman pada 14 November, yang mengecam perintah pengungsian paksa Israel, dengan menyatakan bahwa 90 persen penduduk Gaza terpengaruh. Laporan tersebut secara tegas menyebut ini sebagai kejahatan perang.

Amnesty International juga merilis laporan pada 5 Desember yang mengklaim bahwa ada “bukti yang cukup” untuk menuduh Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina dalam operasi militernya di Gaza. Komunitas internasional terus mendesak agar ada pertanggungjawaban dan penghentian kekerasan.

Saat konflik terus berlanjut, sistem kesehatan Gaza menghadapi kehancuran total. Para profesional medis kewalahan, dan kekurangan pasokan medis semakin memburuk. Komunitas internasional terus mendesak tindakan segera untuk mengatasi krisis ini, namun kekerasan dan pengungsian yang berkelanjutan menunjukkan tidak ada tanda-tanda penghentian. Setiap harinya, korban jiwa dan infrastruktur di Gaza semakin meningkat.

Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Minggu (01/12), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 44.466 orang dan 105.358 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.

Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur, di mana lebih 801 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.

Israel juga melakukan pembantaian di Lebanon, dengan rutin menyerang wilayah selatan Lebanon dan bahkan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon. Israel telah membunuh 3.961 penduduk Lebanon dan lebih dari 16.520 terluka sejak 8 Oktober 2023.

(T.FJ/S: The Cradle)

 

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!