Beirut, SPNA – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada Selasa (03/12/2024), memperingatkan bahwa perang dengan Hezbollah dan Lebanon belum berakhir.
“Kita saat ini berada dalam gencatan senjata, saya catat, gencatan senjata, bukan akhir dari perang. Kita memiliki tujuan yang jelas untuk mengembalikan warga, untuk memulihkan utara. Kita menegakkan gencatan senjata ini dengan tangan besi, bertindak melawan pelanggaran apapun, baik yang kecil maupun yang besar” kata Netanyahu dalam pertemuan kabinet yang diadakan di pemukiman perbatasan utara Nahariya.
Netanyahu mengklaim bahwa Hezbollah telah melakukan pelanggaran serius terhadap perjanjian pada hari Senin dan mengatakan bahwa Israel kemudian menyerang lebih dari 20 target di seluruh Lebanon sebagai respons.
Sebaliknya, Prancis menuduh Israel lebih dahulu melanggar perjanjian gencatan senjata dengan Hezbollah sebanyak 52 kali sebelum Hizbollah membalas, termasuk serangan pada hari Sabtu lalu yang membunuh tiga warga sipil Lebanon.
Pada malam Senin, Israel membunuh 10 orang di selatan Lebanon setelah Israel melancarkan gelombang serangan udara terbesar sejak gencatan senjata diberlakukan minggu lalu, lapor BBC.
Militer Israel mengklaim bahwa mereka menargetkan pejuang Hezbollah, peluncur, dan infrastruktur, serta mendesak pihak berwenang Lebanon untuk mencegah apa yang disebutnya “aktivitas musuh” kelompok tersebut.
Sebelumnya, Hezbollah menembakkan dua mortir ke situs tentara Israel di Bukit Kfar Shuba sebagai respons terhadap pelanggaran berulang oleh Israel.
Seperti Netanyahu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, juga mengeluarkan ancaman pada hari Selasa, mengklaim bahwa tentara Lebanon bertanggung jawab untuk membongkar Hezbollah atas nama Israel.
“Kami akan bekerja dengan segala kekuatan untuk menegakkan semua pemahaman dalam perjanjian gencatan senjata, dan kami akan memberikan respons maksimal dan toleransi nol,” kata Katz saat kunjungan ke wilayah perbatasan utara.
Katz mengatakan bahwa Lebanon harus memberi izin kepada tentara Lebanon untuk menegakkan bagian mereka, menjaga Hezbollah tetap jauh di luar Sungai Litani dan membongkar semua infrastruktur Hizbollah.
“Jika mereka tidak melakukannya dan seluruh perjanjian ini runtuh, maka realitasnya akan sangat jelas. Pertama, jika kami kembali ke perang, kami akan bertindak dengan kuat, kami akan melangkah lebih dalam, dan hal yang paling penting yang perlu mereka ketahui adalah bahwa tidak akan ada lagi kekebalan bagi negara Lebanon,” lanjutnya.
(T.FJ/S: The Cradle)