Gaza, SPNA – Setelah tercapainya gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, sebagaimana dilansir RT Arabic, pada Rabu (27/11/2024), Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, akan lebih fokus pada permasalahan Gaza dan melanjutkan tindakannya terkait dengan Gaza.
Netanyahu kemungkinan akan mengambil pendekatan yang lebih tegas atau dominan terhadap Gaza, tanpa terlalu banyak mempertimbangkan intervensi atau tekanan dari pihak luar, seperti negara-negara lain atau mediator internasional.
Gedung Putih mengumumkan bahwa Presiden Amerika Serikat telah mulai bekerja sama dengan negara-negara di kawasan untuk mencapai gencatan senjata di Gaza. Sementara itu, beberapa negara regional kembali mengaktifkan saluran komunikasi mereka, berharap mediasi mereka dapat berhasil setelah lebih dari setahun mengalami kegagalan berulang.
Dalam konteks ini, Hamas menunjukkan kesiapan untuk menandatangani kesepakatan yang mengakhiri perang, yang akan mencakup pertukaran tahanan antara faksi-faksi dengan Israel. Meskipun ada upaya-upaya ini, harapan untuk bergerak menuju penghentian perang tetap ada.
Namun, jika kita merujuk pada apa yang dikatakan Benjamin Netanyahu setelah gencatan senjata dengan Lebanon, kita akan menemukan perbedaan yang jelas antara apa yang dia rencanakan dan apa yang dikatakan oleh pihak Amerika dan negara-negara regional, di mana Netanyahu menyatakan ingin fokus untuk memerangi Hamas dan Iran.
RT Arabic menyebut bahwa ada sejumlah kekhawatiran terkait pengaruh pemilu Amerika Serikat dan kemungkinan kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih, serta pertarungannya yang diperkirakan dengan “negara dalam negara” di Amerika (istilah yang merujuk pada kelompok atau institusi yang memiliki kekuatan besar di dalam pemerintahan). Situasi politik di Amerika Serikat sangat mampu mempengaruhi dinamika perang di Gaza dan wilayah Timur Tengah.
Interaksi antara aktor-aktor regional dan internasional, termasuk Amerika Serikat, Hamas, dan Israel, menempatkan kawasan ini dalam situasi yang sangat kompleks. Di satu sisi, ada peluang untuk mengakhiri perang, akan tetapi di sisi lain, sikap Netanyahu tampaknya jauh dari kesepakatan dengan sikap Amerika dan negara-negara regional, yang semakin memperumit tercapainya kesepakatan perdamaian permanen.
Genosida Berlanjut dan Korban Jiwa Meningkat
Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Senin (25/11), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 44.235 orang dan 104.638 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.
Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur, di mana lebih 796 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.
Israel juga melakukan pembantaian di Lebanon, dengan rutin menyerang wilayah selatan Lebanon dan bahkan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon. Israel membunuh 3.767 penduduk Lebanon dan lebih dari 15.669 terluka sejak 8 Oktober 2023.
(T.FJ/S: RT Arabic, Mondoweiss)