Warga Israel Kesal, Tel Aviv Lakukan Gencatan Senjata di Lebanon Ketika Gagal Capai Tujuan Perang

Seorang pria melambaikan bendera Lebanon sambil berdiri di tengah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan Israel, setelah gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah mulai berlaku. (Foto: Reuters)

Tel Aviv, SPNA – Warga Israel di berbagai kota dan pemukiman di utara Israel menyatakan kemarahan mereka atas kesepakatan gencatan senjata dengan Lebanon yang dimulai pada pagi 27 November. Mereka menuduh Tel Aviv telah meninggalkan wilayah mereka rentan terhadap ancaman yang sama yang ditimbulkan oleh Hezbullah sebelum perang dimulai.

“Kami sekarang memasuki situasi yang jauh lebih buruk daripada 6 Oktober, mereka menyesatkan kami,” kata David Azoulay, Kepala Dewan Pemukiman Metula, dalam wawancaranya dengan Channel 12 News.

David Azoulay menggambarkan pertemuan yang diadakan dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Selasa malam sebagai “pertunjukan sepihak”.

Kekesalan Warga Israel: Pemerintah Tidak Melakukan Apa-apa

“Jadi, apa yang saya katakan? Sangat buruk, benar-benar buruk. Pemerintah tidak melakukan apa-apa, dan tentara kami mati sia-sia. Bibi (Netanyahu) seharusnya segera keluar dari pemerintah, meskipun saya dulu mendukungnya. Ia harus keluar segera,” kata Levana Karsenti, seorang warga Nahariya kepada Reuters pada hari Rabu (27/11).

“Ini adalah masalah karena kita berhenti berperang dan tidak menyelesaikan tugasnya. Ada sirine beberapa menit yang lalu, dan saya harus meletakkan anak-anak saya di lantai dan berbaring memeluk mereka karena kami tidak punya ruang aman di rumah. Kami perlu mempercayai tentara kita, tetapi saya pikir setelah 7 Oktober, itu sangat sulit karena tidak ada yang di sana,” kata Moran Brustin, seorang pemukim Israel dari Kibbutz HaGoshrim yang terletak dekat perbatasan Lebanon.

Hasil Survei: Sebagian Besar Warga Merasa Pemerintah Israel Kalah dari Hezbollah

Menurut survey yang diterbitkan oleh Channel 13 Israel pada hari Rabu, 61 persen warga Israel setuju bahwa tentara Israel tidak berhasil mengalahkan Hezuollah, dengan hanya 26 persen responden yang mengatakan Tel Aviv “menang”.

Berdasarkan angka resmi Sekitar 60.000 warga Israel di daerah udara masih mengungsi akibat serangan berat oleh Hezbullah. Sekitar 45 warga sipil Israel telah tewas dalam serangan-serangan tersebut selama 14 bulan terakhir, dibandingkan ratusan penduduk Lebanon dibunuh Israel di Lebanon.

Eskalasi Serangan Israel dan Gagalnya Tujuan Perang

Israel meningkatkan serangan udara ke Lebanon secara brutal pada akhir September, beberapa hari sebelum dua serangan teroris mengerikan yang dilakukan oleh agen intelijen Israel yang menargetkan ribuan penduduk sipil di seluruh negara itu. Ini adalah awal dari invasi darat yang bertujuan untuk membongkar perlawanan Lebanon, menjamin kembalinya pemukim ke utara, dan membentuk kembali lanskap politik wilayah tersebut.

Setelah hampir dua bulan pertempuran sengit di selatan, Tel Aviv akhirnya menyerah pada hari Selasa (26/11), dengan tidak ada satupun tujuan utamanya yang tercapai.

Berbeda dengan situasi di utara Israel, warga selatan Lebanon mulai kembali ke desa-desa mereka yang hancur begitu gencatan senjata mulai berlaku pada pukul 04.00 pagi Rabu.

Sejak 8 Oktober 2023, Israel melakukan pembantaian di Lebanon, dengan rutin menyerang wilayah selatan Lebanon dan bahkan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon. Israel membunuh 3.767 penduduk Lebanon dan melukai lebih dari 15.669.

(T.FJ/S: The Cradle, Mondoweiss)

 

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya