Gaza, SPNA – Upaya Israel untuk membela pembunuhan massal warga sipil di Gaza sebagai “kerusakan kolateral” runtuh di tengah bukti yang semakin menguatkan bahwa mereka dengan sengaja melakukan serangan penembak jitu. Pembunuhan terhadap orang-orang tak bersenjata menggunakan drone quadcopter dan penembak jitu professional telah membatasi akses ke perawatan medis penting, makanan, dan air, mengungkap kenyataan yang mengerikan di balik tindakan tentara penjajah ini.
Perang Genosida: Tindakan Terencana Israel di Gaza
Perintah penangkapan dari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya Yoav Gallant semakin menegaskan bahwa ini bukanlah perang konvensional; ini adalah penargetan sistematis terhadap warga sipil yang jelas menunjukkan niat genosida.
“Kerusakan Kolateral”, Konsep yang Meruntuhkan Fakta di Gaza
Kerusakan Kolateral merujuk pada kerusakan atau kerugian yang tidak sengaja terjadi pada properti atau nyawa manusia sebagai akibat dari tindakan militer atau operasi perang yang ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu.
Selama setahun terakhir, perdebatan tentang tingkat “kerusakan kolateral” yang “terima” di Gaza terus berlangsung. Pada bulan Juli, Institut Perang Modern Akademi Militer West Point bahkan menerbitkan artikel yang menyarankan Israel untuk mengambil pendekatan yang lebih terarah dan terkontrol dengan tujuan meminimalkan kerusakan pada warga sipil dan infrastruktur yang tidak terkait langsung dengan musuh.
Namun, perdebatan ini menjadi tidak relevan jika tujuan Israel bukan untuk berperang melawan Hamas, melainkan untuk melakukan genosida dan pembersihan etnis secara sengaja. Tidak ada bukti yang lebih jelas selain penembakan dingin terhadap warga sipil menggunakan tembakan penembak jitu.
Penembakan Sipil di Depan Kamera, Taktik Israel yang Mengerikan
Serangan penembak jitu terhadap warga sipil, meskipun pernah menarik perhatian media internasional, masih sering diabaikan oleh banyak pihak. Hal ini mungkin disebabkan oleh implikasi besar yang dapat ditimbulkan oleh fakta-fakta ini.
Pembunuhan Terencana: Kasus Penembakan di Gereja Keluarga Kudus Gaza
Kasus pertama yang menarik perhatian media Barat adalah pembunuhan dua wanita Kristen di Gereja Holy Family di Kota Gaza pada 16 Desember 2023. Kejadian ini bahkan mendapat kecaman dari Paus, yang mengutuk pembunuhan ibu dan putrinya, warga Palestina Katolik, yang dengan sengaja ditembak mati saat sedang mencari perlindungan di dalam area gereja.
Kejadian yang Menjadi Hal Biasa
Namun, kini penembakan seperti ini telah menjadi hal yang begitu umum, bahkan terjadi saat wawancara langsung dengan stasiun berita Barat. Misalnya, pada Januari 2024, stasiun penyiaran Inggris ITV menangkap momen ketika Ramzi Abu Sahloul, pria berusia 51 tahun, ditembak tepat di dada, hanya beberapa saat setelah ia berbicara. Sahloul adalah bagian dari kelompok warga sipil yang melarikan diri ke Rafah di selatan Gaza sambil membawa bendera putih sesuai perintah dari militer Israel.
Ditembak Ketika Mengangkat Bendera Putih
Seorang lagi warga sipil tak berdosa dibunuh saat melarikan diri sambil memegang bendera putih. Hala Khreis, yang sedang berjalan sambil memegang tangan cucunya, ditembak dan terluka fatal. Kejadian ini juga terekam kamera. Penyidikan CNN kemudian membuktikan bahwa tentara Israel yang ditempatkan di dekatnya bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.
Intimidasi dengan pembunuhan
Koresponden Palestina, Motasem Dalloul, yang berkantor di Gaza Utara, bersaksi kepada The Cradle bahwa putranya sendiri, Yahya, dibunuh oleh penembak jitu Israel pada tanggal 29 Mei, setelah itu para tentara melindas tubuh anaknya dengan tank.
“Saya membawa anak-anak saya ke rumah kami yang hancur, di daerah Al-Sabra, untuk mengambil beberapa pakaian dari bawah reruntuhan. Ketika kami di sana, saya melihat anak saya jatuh ke tanah dan kepalanya mulai berdarah. Saya mendekatinya dan menemukan bahwa kepalanya telah pecah”.
Motasem Dalloul menjelaskan bahwa meskipun ia tidak dapat melihat tentara Israel, ia tahu bahwa mereka memiliki senjata penembak jitu dan menyatakan bahwa ketika ia mendekati tubuh Yahya kecil, ia terkejut karena ia tidak bergerak.
“Tank-tank Israel mulai menembaki dan menembaki di mana-mana. Saya tahu bahwa anak saya telah meninggal. Jadi saya harus meninggalkannya di tanah dan melarikan diri dengan anak-anak saya yang lain ke tempat yang aman. Saya tidak dapat kembali ke tempat ini selama 10 hari, di mana saya kemudian menemukan bahwa sebuah tank Israel telah melindas tubuhnya dan menghancurkannya, kami hanya dapat mengumpulkan sebagian daging dan tulangnya, yang telah dihancurkan oleh tank-tank Israel, dan kami menaruhnya di selembar kain, seperti kemeja, dan mengambilnya, menguburnya di pemakaman darurat,” cerita Motasem Dalloul.
Selama percakapan Dalloul dengan The Cradle, bom yang meledak di latar belakang terdengar ketika ia sedang bercerita:
“Saya pikir alasan penjajah Israel (kata-kata yang teredam oleh suara ledakan) membunuh anak saya adalah untuk menakut-nakuti kami semua dan memperingatkan kami untuk tidak kembali ke daerah ini, karena daerah itu kemudian dihancurkan dan semua bangunan dihancurkan, mengubahnya menjadi zona penyangga militer. Hal ini memberi banyak tekanan pada penduduk Kota Gaza yang tidak memiliki rumah dan banyak dari orang-orang terlantar ini kemudian dibunuh (Israel)”.
Penolakan Akses Kesehatan
Serangan terhadap warga sipil secara terencana tidak terbatas pada tembakan penembak jitu saja. Pada 20 September, sebuah komite khusus PBB melaporkan kepada Majelis Umum bahwa telah terjadi “penolakan sengaja terhadap akses perawatan kesehatan oleh penembak jitu Israel” terhadap Perempuan Palestina yang sedang menyusui dan hamil.
Setelah munculnya banyak kesaksian tentang penembakan terencana terhadap warga sipil, pada Desember 2023, Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) mengeluarkan pernyataan pers yang mendesak akuntabilitas dan penyelidikan lebih lanjut. Pernyataan itu juga menyoroti eksekusi 11 pria di depan keluarga mereka di Lingkungan Remal, Kota Gaza.
Yassin, seorang pemuda dari Kamp Pengungsi Jabalia, menceritakan kepada The Cradle bagaimana ia ditembak dari drone quadcopter pada pertengahan November 2023, dan berhasil selamat hanya karena keberuntungan. Yassin mengatakan bahwa ia sedang berjalan kaki di Jalan Salah Al-Deen antara Jabalia dan Khan Younis setelah menerima perintah evakuasi dari tentara penjajah untuk bergerak ke selatan Jalur Gaza. ketika sedang melarikan diri, tiba-tiba terjadi kontak senjata di jarak pandangan matanya.
“Saya mengambil pakaian dan telepon saya, lalu berlari dari tempat itu untuk menghindari bentrokan ini. Ada gundukan pasir di depan saya, saya melompat dari sana, dan beberapa pakaian saya jatuh. Kemudian saya menemukan ambulans yang dihentikan musuh (Israel), masih berada di jalan”.
Karena takut, Yassin mengatakan bahwa ia mendengar panggilan dalam bahasa Arab agar ia berhenti berlari, lalu “Saya mendengar suara peluru, jadi saya bertanya dengan suara keras ‘Siapa yang tertembak?’ Setelah 10 meter, saya menyadari peluru ini telah menembus tubuh saya. Saya adalah jawaban atas pertanyaan saya sendiri itu. Peluru ini menembus paru-paru kanan saya, lalu diafragma”
Yassin mengatakan bahwa satu-satunya alasan ia selamat adalah karena seorang kerabat kebetulan sedang mengemudikan ambulans di dekatnya dan bertindak cepat untuk menyelamatkan hidupnya. Pemulihan Yassin merupakan perjalanan yang panjang dan melelahkan selama beberapa bulan, dan ia terus menderita luka-lukanya meskipun telah dievakuasi melintasi Perlintasan Rafah ke Mesir.
Operasi Penargetan yang Disengaja
Dokter bedah Amerika, Mark Perlmutter, yang pergi ke Gaza untuk merawat penduduk Palestina yang terluka selama perang, juga telah menarik perhatian khusus pada penargetan yang disengaja terhadap anak-anak oleh penembak jitu Israel.
“Tidak ada anak yang tertembak dua kali karena faktor kesilapan,” katanya kepada France 24. Perlmutter telah menangis selama beberapa wawancara saat menggambarkan bagaimana banyak anak telah meninggal di depan matanya.
Kisah Perlmutter selaras dengan kesaksian terbaru dari dokter Inggris, Nizam Mamode, yang menggambarkan kepada Anggota Parlemen Inggris bagaimana pesawat tanpa awak secara sengaja menembak anak-anak “hari demi hari” di Gaza. Kisah-kisah seperti itu telah muncul dari dokter asing selama perang, dengan sembilan dokter lapangan lainnya memberikan kisah tentang penargetan anak-anak yang disengaja kepada The Guardian awal tahun ini.
The Cradle juga menerima kesaksian dari seorang pria Palestina dari Gaza Utara yang saudara laki-lakinya ditembak oleh penembak jitu Israel pada bulan Oktober selama invasi ulang Israel. Saat ia mencoba menyeret saudaranya ke tempat yang aman, ia berulang kali menjadi sasaran penembak jitu dan akhirnya harus menyaksikan saudaranya perlahan-lahan mati karena luka-lukanya.
Ia menjelaskan bahwa mereka melarikan diri dari rumah ke Kota Gaza, tetapi ia dan saudaranya memutuskan untuk kembali ketika pertempuran tidak terlalu intens. Ia kemudian melihat saudaranya pingsan dan berdarah di mana-mana, menyadari bahwa peluru itu mengenai bagian tengah tubuhnya.
Taktik yang Memutarbalikkan Fakta
Kisah-kisah yang diberikan kepada The Cradle hanyalah beberapa dari daftar panjang kengerian serupa yang muncul setiap hari dari Jalur Gaza. Pada bulan April, Euro-Med Human Rights Monitor merilis sebuah laporan yang menunjukkan penggunaan suara-suara yang mengintimidasi oleh Israel untuk menakut-nakuti dan memikat warga sipil ke zona-zona pembunuhan. Di Kamp Pengungsi Nuseirat, pesawat tanpa awak direkam memutar suara-suara tangisan bayi untuk menarik penduduk sipil keluar dari rumah mereka dan ke jalan-jalan sehingga mereka dapat ditembaki.
Selama penulisan artikel ini, lebih dari belasan saksi mata penembakan termasuk jurnalis dan dokter di Gaza telah dimintai pendapatnya. Semua mengonfirmasi bahwa penembak jitu Israel sengaja menargetkan warga sipil tanpa alasan apa pun untuk menimbulkan rasa takut yang mencegah orang bergerak bebas. Seorang dokter Palestina dari Gaza Utara, yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengatakan kepada The Cradle, “Mereka menembak warga sipil untuk olahraga, dan ini jelas disengaja; ini pasti kebijakan tentara”.
(T.FJ/S: The Cradle)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!