Yordania Usir dan Robohkan Rumah Pengungsi Palestina untuk Proyek Perluasan Jalan

Aksi protes di kamp pengungsi Al-Mahatta terhadap perintah evakuasi paksa dari Pemerintah Kota Amman. (Foto: The Cradle)

Amman, SPNA – Pemerintah Kota Amman, Yordania, sebagaimana dilansir The Cradle, pada hari Jumat (22/11/2024), telah memerintahkan pengungsian paksa puluhan warga dari kamp pengungsi Palestina Al-Mahatta yang terletak di timur ibu kota. Pihak berwenang mulai merobohkan rumah dan toko-toko untuk membuka jalan bagi proyek perluasan jalan besar yang akan mempengaruhi banyak keluarga.

Pemberitahuan yang Singkat

Para penghuni kamp Al-Mahatta hanya diberi pemberitahuan dengan waktu yang sangat singkat, berkisar antara dua minggu hingga sebulan. Waktu yang terbatas ini membuat keluarga-keluarga tersebut berada dalam posisi yang sangat rentan, tanpa cukup waktu untuk mencari tempat tinggal baru.

Rencana pengusiran ini menawarkan hanya kompensasi 80 dinar Yordania (sekitar 113 dolar) per meter persegi, yang jauh di bawah harga pasar dan tidak mencukupi untuk mendapatkan tempat tinggal alternatif.

Penghancuran Toko dan Rumah Demi Perluasan Jalan

Pada 20 November, pihak berwenang merobohkan 17 toko untuk memberi ruang bagi proyek jalan tersebut. Sebagai bagian dari proyek yang sama, pemerintah berencana merobohkan 24 rumah yang akan memaksa sekitar 400 penghuni kamp untuk mengungsi pada 30 November. Proyek ini adalah bagian dari inisiatif yang lebih besar untuk meningkatkan infrastruktur Yordania, akan tetapi biaya yang harus dibayar adalah pengusiran masyarakat yang sangat rentan.

Penghuni Melakukan Protes, Namun Respons Pemerintah Sangat Keras

Pada 19 November, penghuni kamp mengadakan aksi protes damai untuk memprotes pengusiran tersebut. Namun, hanya dalam dua jam, pihak berwenang membubarkan protes tersebut dengan paksa, menunjukkan sikap tegas mereka terhadap penolakan terhadap proyek ini.

Jamal Al-Ayoubi, ketua komite lokal kamp, menekankan bahwa pengusiran ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Kamp Al-Mahatta sudah berulang kali menghadapi ancaman serupa sejak tahun 1976, dengan upaya terbaru terjadi pada tahun 2024. Bahkan, para penghuni telah berjuang untuk mempertahankan hak mereka tinggal di kamp ini selama puluhan tahun.

Perjuangan Sejarah dan Upaya Pengusiran yang Terulang

Al-Ayoubi mengenang bahwa antara 2016 hingga 2019, kamp ini menghadapi ancaman pengusiran lainnya. Penghuni kamp tidak menyerah. Mereka berjuang untuk hak mereka, berhasil memastikan hak untuk tetap tinggal di kamp dengan dukungan dari mantan Perdana Menteri Yordania, Dr. Omar Al-Razzaz.

Pada tahun 2019, kamp Al-Mahatta bahkan menerima hibah kerajaan yang memastikan keberlanjutan kamp tanpa ancaman pengusiran. Namun, situasinya kini berubah, dan kamp kembali menghadapi ancaman penghancuran.

Dukungan Politik dan Perubahan Aliran Dukungan

Beberapa pemilik tanah telah mengajukan tuntutan hukum terhadap para penghuni kamp, mengklaim kepemilikan atas tanah tempat kamp berdiri. Pada bulan Mei, diadakan pertemuan antara penghuni kamp dan pejabat lokal, termasuk mantan Perdana Menteri Razzaz. Keputusan pemerintah untuk membatalkan tuntutan hukum tersebut dipuji, dan penghuni kamp merasa yakin bahwa masa depan mereka di kamp ini aman.

Namun, beberapa tokoh politik yang sebelumnya mendukung kamp kini telah mengubah sikap mereka. Beberapa telah meninggalkan jabatan, sementara yang lainnya semakin menjauh dari masalah ini. Al-Ayoubi mencatat bahwa meskipun kamp ini memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan tanah dan bangunannya, para penghuni kini menghadapi ancaman kehilangan segalanya.

Situasi ini telah menimbulkan dampak kesehatan yang serius bagi penghuni kamp. Salah seorang penghuni, Hassan Al-Santarisi, meninggal karena stroke setelah menerima kabar bahwa rumahnya termasuk yang akan dihancurkan. Beban emosional dan psikologis yang ditanggung penghuni sangat berat, karena mereka terancam kehilangan rumah dan mata pencaharian mereka.

Pemblokiran Media

Pemerintah Yordania dikabarkan memberlakukan pembatasan media terkait isu pengusiran ini, yang membuat para penghuni kamp merasa terisolasi. Meskipun penghuni kamp berusaha menghubungi dan memberi tahu berbagai organisasi media tentang situasi yang mereka hadapi, tindakan pemerintah telah membungkam laporan mengenai masalah ini. Aktivis mengingatkan bahwa keputusan pemerintah ini menimbulkan ancaman kemanusiaan yang besar, yang akan menyebabkan penderitaan bagi para penghuni kamp Al-Mahatta.

Pengusiran pengungsi Palestina dari kamp Al-Mahatta lebih dari sekadar masalah pembangunan kota. Ini adalah masalah hak asasi manusia, keadilan, dan perlindungan bagi masyarakat yang rentan. Dengan waktu yang semakin terbatas untuk mencari tempat tinggal baru, dan ancaman kehilangan rumah yang semakin dekat, penghuni kamp Al-Mahatta menyerukan solidaritas dan dukungan dalam perjuangan mereka untuk tetap tinggal di komunitas mereka.

Situasi ini mengingatkan kita semua akan ketahanan para pengungsi dan tekad mereka untuk melindungi rumah mereka, meskipun menghadapi tantangan yang luar biasa. Dunia harus berdiri bersama mereka dan memperjuangkan hak mereka.

(T.FJ/S: The Cradle, Mondoweiss)

 

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya