Dukung Kejahatan Israel, AS Kembali Blokir Resolusi PBB yang Serukan Gencatan Senjata di Gaza

Duta Besar Alternatif AS untuk PBB, Robert Wood, mengangkat tangannya untuk memveto resolusi yang menyerukan gencatan senjata di Gaza di markas besar PBB di New York City, pada Rabu, 20 November 2024. (Foto: Angela Weiss/AFP)

New York, SPNA – Pemerintah Amerika Serikat, pada Rabu (19/11/2024), kembali memveto resolusi baru Dewan Keamanan PBB (UNSC) yang menyerukan “gencatan senjata segera, tanpa syarat, dan permanen” di Gaza selama sesi darurat dewan.

Ini adalah veto keempat berturut-turut yang dikeluarkan Washington untuk mendukung operasi pembersihan etnis yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza. Kecuali Amerika Serikat, semua 14 anggota UNSC lainnya memberikan suara mendukung resolusi gencatan senjata tersebut.

Pernyataan Keras dari Palestina

“Seharusnya dunia tidak terbiasa dengan kematian rakyat Palestina, dengan melihat anak-anak Palestina kelaparan,” kata Majed Bamya, Wakil Duta Besar Palestina untuk PBB.

Majed Bamya menambahkan bahwa dunia sedang menyaksikan upaya untuk memusnahkan suatu bangsa, sementara “alat-alat” yang dirancang untuk merespons situasi seperti ini tidak digunakan.

“Mungkin bagi sebagian orang, kami memiliki kewarganegaraan yang salah, keyakinan yang salah, warna kulit yang salah. Namun, kami adalah manusia, dan kami harus diperlakukan sebagai manusia,” kata Majed Bamya.

Kantor Kepresidenan Palestina juga mengeluarkan pernyataan mengecam Washington. Palestina menyatakan bahwa keputusan Amerika Serikat memberikan dorongan kepada Israel untuk melanjutkan kejahatan terhadap penduduk sipil tak bersalah di Palestina dan Lebanon.

Palestina menuduh Amerika Serikat mengabaikan hukum internasional dan resolusi PBB, termasuk putusan Pengadilan Internasional (ICJ) pada Juli yang menyerukan “penghentian pendudukan Israel, penarikan dari Gaza, dan penghentian permusuhan”.

Rusia dan Negara Lain Mengkritik Veto AS

Duta Besar Tetap Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, juga mengkritik AS, mengecam pejabat AS yang dianggap ikut bertanggung jawab penuh atas kematian puluhan ribu penduduk sipil yang tidak bersalah, pengusiran pengungsi, penderitaan para sandera dan tahanan Palestina yang ditahan secara ilegal.

“Penghalangan sinis yang dilakukan Amerika Serikat terhadap permintaan sederhana Dewan Keamanan  untuk menyelamatkan nyawa manusia adalah tindakan yang tidak dapat diterima dan tidak berperikemanusiaan,” tegas Vasily Nebenzya.

Duta Besar Aljazair untuk PBB, Amar Bendjama, juga mengatakan bahwa resolusi tersebut mempertimbangkan konsepsi besar selama negosiasi, akan tetapi satu negara memilih untuk memblokir setiap tindakan untuk menyelamatkan manusia.

“Pesan hari ini sangat jelas bagi rezim penjajah Israel, pertama-tama ‘Anda boleh melanjutkan genosida Anda, Anda boleh melanjutkan hukuman kolektif terhadap rakyat Palestina dengan impunitas penuh. Di ruang ini, Anda menikmati kekebalan,’” keluh Bendjama.

Penjualan Senjata ke Israel yang Didukung AS

Veto terbaru AS di Dewan Keamanan PBB ini terjadi setelah adanya laporan dari media Israel yang menyebutkan bahwa Gedung Putih sedang melobi senator Demokrat untuk menentang legislasi yang akan menghentikan penjualan senjata senilai 20 miliar dolar ke Israel.

Genosida Berlanjut

Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Senin (18/11), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 43.922 orang dan 103.898 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.

Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem timur, di mana lebih 784 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.

Israel juga melakukan pembantaian di Lebanon, dengan rutin menyerang wilayah selatan Lebanon dan bahkan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon. Israel membunuh 3.516 penduduk Lebanon dan lebih dari 14.929 terluka akibat serangan Israel sejak 8 Oktober 2023.

(T.FJ/S: The Cradle, Mondoweiss)

 

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!