Beirut, SPNA – Organisasi PBB untuk Anak-Anak, UNICEF, pada Selasa (19/11/2024), mengumumkan bahwa lebih dari 200 anak meninggal dunia dan 1100 anak lainnya mengalami luka-luka di Lebanon selama dua bulan terakhir akibat serangan dari Israel.
Juru bicara UNICEF, James Elder, dalam konferensi pers di Jenewa menanggapi pertanyaan seorang wartawan mengenai korban jiwa mengatakan bahwa jumlah anak-anak yang meninggal dunia telah mencapai lebih dari 200 anak hanya dalam dua bulan terakhir.
“Sebanyak 231 anak sejak dimulainya perang pada (Oktober) tahun lalu,”
James Elder memang tidak menyebutkan pihak yang bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut, tetapi hal itu sangat jelas bagi siapa pun yang mengikuti media atau pihak yang menyerang Lebanon.
James Elder juga menunjukkan bahwa meskipun lebih dari 200 anak meninggal dunia di Lebanon dalam waktu kurang dari dua bulan, sebuah pola yang mengkhawatirkan telah muncul.
“Kematian mereka direspons dengan diam dari pihak yang mampu menghentikan kekerasan ini. Selama dua bulan terakhir di Lebanon, rata-rata tiga anak terbunuh setiap hari,” kata James Elder.
James Elder menyebut bahwa banyak anak-anak yang mengalami trauma psikologis dan lebih dari 1100 anak terluka dalam serangan yang dilakukan Israel di Lebanon.
James Elder juga menyebutkan bahwa ratusan ribu anak-anak menjadi tunawisma di Lebanon, dan serangan yang tidak proporsional sering kali menargetkan infrastruktur yang sangat bergantung pada anak-anak.
“Fasilitas medis juga diserang dan pekerja kesehatan dibunuh dengan jumlah yang semakin meningkat. Hingga 15 November, lebih dari 200 pekerja kesehatan dibunuh dan 300 lainnya mengalami luka-luka,” kata James Elder.
Elder menegaskan bahwa kesamaan yang paling mengkhawatirkan dengan Gaza adalah bahwa meningkatnya jumlah anak-anak yang meninggal dunia tidak memicu respons yang berarti dari para pemangku kepentingan di dunia internasional.
“(Kejahatan) di Lebanon, sama seperti yang terjadi di Gaza, apa yang seharusnya tidak dapat diterima perlahan-lahan diterima. Hal yang seharusnya mengerikan ini dengan tenang beralih menjadi sesuatu yang dianggap biasa,” kata James Elder.
Genosida Berlanjut
Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Senin (18/11), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 43.922 orang dan 103.898 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.
Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem timur, di mana lebih 784 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.
Israel juga melakukan pembantaian di Lebanon, dengan rutin menyerang wilayah selatan Lebanon dan bahkan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon. Israel membunuh 3.516 penduduk Lebanon dan lebih dari 14.929 terluka akibat serangan Israel sejak 8 Oktober 2023.
(T.FJ/S: RT Arabic, Mondoweiss)