Sejak Awal Agresi, Israel Bunuh 3.481 Penduduk Sipil Lebanon

Beirut, SPNA – Kementerian Kesehatan Lebanon, pada Minggu (17/11/2024), mengumumkan bahwa sebanyak 3.481 penduduk sipil Lebanon telah meninggal dunia akibat serangan Israel dan 14.786 lainnya mengalami luka-luka sejak awal agresi militer Israel, pada awal Oktober tahun 2023 lalu.

Militer Lebanon juga mengumumkan bahwa dua anggotanya meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka-luka akibat serangan pasukan Israel yang menargetkan pusat militer Lebanon di desa Al-Mari di wilayah Hasbaya, selatan Lebanon.

Serangan Terhadap Pasukan Perdamaian PBB

Komando Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) juga mengumumkan bahwa patroli pasukan perdamaian yang terdiri dari tentara Prancis dan Finlandia ditembak militer Israel pada saat melaksanakan tugas di desa Badyas, akan tetapi tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

UNIFIL dalam pernyataannya menyebutkan bahwa mereka telah membuka penyelidikan terhadap insiden tembakan tersebut. Pihak PBB memperingatkan bahwa kejadian ini adalah “pengingat baru” mengenai kondisi berbahaya yang dihadapi pasukan perdamaian di selatan Lebanon.

Perdana Menteri Lebanon, Najib Mikati, mengungkapkan bahwa jumlah anggota militer Lebanon yang meninggal dunia sejak awal agresi Israel pada Oktober 2023 telah meningkat menjadi 36 orang.

Agresi Israel Meluas ke Seluruh Lebanon

Sejak 23 September 2023, pasukan Israel telah memperluas skala serangan dan kejahatan, yang sebelumnya hanya terpusat di Gaza, hingga ke seluruh wilayah Lebanon, termasuk ibu kota Beirut. Serangan udara Israel semakin intensif dan mengerikan, dengan serangan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam hal kekuatan dan frekuensinya.

Selain itu, pasukan Israel juga mulai melakukan invasi darat di selatan Lebanon, meskipun dunia internasional dan badan-badan PBB telah mengeluarkan peringatan keras dan resolusi yang menuntut penghentian agresi ini.

Konsekuensi Menghancurkan di Gaza dan Lebanon

Israel, yang didukung oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, terus melancarkan serangan ke Gaza untuk tahun kedua berturut-turut. Serangan udara Israel terus menghancurkan rumah sakit, gedung-gedung, menara, tempat ibadah, rumah sakit, dan rumah warga Palestina, yang membunuh puluhan ribu penduduk sipil. Sumber daya dasar seperti air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar juga diblokir oleh pasukan Israel, memperburuk krisis kemanusiaan yang mengerikan.

Agresi ini telah menyebabkan lebih dari 147.000 korban jiwa dan luka-luka di Jalur Gaza, dengan mayoritas korban adalah anak-anak dan perempuan. Lebih dari 10.000 orang juga dilaporkan hilang, sementara keadaan di Gaza semakin memburuk dengan kelaparan massal dan kerusakan infrastruktur yang parah, menjadikannya salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia

Genosida Berlanjut

Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Kamis (14/11), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 43.736 orang dan 103.370 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.

Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem timur, di mana lebih 783 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.

(T.FJ/S: Palinfo, Mondoweiss)

 

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!