Bagaimana Cara BBC Terlibat dalam Kejahatan Genosida Israel terhadap Palestina

Gaza, SPNA – Pada hari Sabtu, 12 Oktober, Koresponden BBC Timur Tengah, Lucy Williamson, bergabung dengan Pasukan Penjajah Israel (IOF) dalam tur ke sebuah desa yang tidak disebutkan namanya di selatan Lebanon. Rekaman yang diperoleh menunjukkan rumah-rumah warga sipil dan infrastruktur yang hancur, sebuah pemandangan yang sudah tidak asing bagi mereka yang telah mengikuti jejak kehancuran yang ditinggalkan Israel di Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Lebanon selama setahun terakhir.

Dalam tur tersebut, Williamson memberikan ruang bagi militer Israel, termasuk Kolonel Yaniv Malka, yang juga terlibat dalam invasi Israel yang tidak berhasil ke Lebanon pada tahun 2006, untuk menyampaikan klaim-klaim yang digunakan sebagai pembenaran untuk tindakan mereka di Lebanon. Mereka mengklaim menemukan berbagai senjata, seperti mortir, rudal anti-tank, dan ranjau, di dalam rumah warga sipil. Mereka juga menunjukkan garasi yang digunakan sebagai gudang peralatan, semua klaim ini dikaitkan dengan dugaan operasi lintas batas yang direncanakan Hizbullah terhadap Israel.

Sebagai respons terhadap liputan tersebut, pada hari Senin (15/10), tujuh wartawan BBC Arab memutuskan untuk menangguhkan pekerjaan mereka sebagai bentuk protes. Hizbullah pun mengecam media tersebut karena dianggap melanggar “tanah, kedaulatan, dan hukum Lebanon,” dan meminta Kementerian Informasi negara itu untuk mengambil tindakan hukum terhadap BBC.

Persetujuan Pembuatan

Ini bukan kali pertama BBC terlibat dalam kontroversi akibat liputannya mengenai perang Israel yang berlangsung di Palestina dan Lebanon. Lucy Williamson sendiri melakukan tur propaganda bersama IOF pada November lalu, sehari setelah Israel menyerbu Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza. Dalam kesempatan itu, ia diperlihatkan lima belas senjata, rompi antipeluru (yang memiliki logo Hamas), serta buku dan pamflet militer yang diklaim ditemukan Israel di rumah sakit tersebut. Ia juga melihat laptop yang menurut IOF berisi informasi tentang sandera Israel di Gaza—meski ia mengakui tidak diperlihatkan isi dari laptop tersebut.

Alih-alih menjalankan aturan jurnalistik dengan mempertanyakan klaim-klaim ini atau mengakui bahwa Israel mungkin menyembunyikan sesuatu dengan tidak mengizinkannya berbicara dengan dokter atau pasien Palestina, ia menyampaikan propaganda tersebut tanpa perlawanan dan keraguan. Dengan demikian, BBC melangkah lebih jauh daripada banyak media Barat lainnya yang cenderung bersimpati pada Israel. Misalnya, NBC di AS mencatat bahwa penggunaan informasi yang salah oleh Israel telah merusak kredibilitasnya, sementara The Guardian mengakui bahwa bukti dari IOF tidak cukup untuk membuktikan bahwa Rumah Sakit Al-Shifa adalah markas Hamas.

Serangan terhadap Al-Shifa, yang merupakan kompleks medis terbesar di Gaza dan kini telah sepenuhnya hancur oleh IOF, menunjukkan bahwa Israel ingin menciptakan preseden. Ini adalah cara mereka menunjukkan bahwa, dalam pencarian balas dendam setelah 7 Oktober, tidak ada tempat yang aman dan tidak ada hukum internasional yang akan mereka patuhi.

BBC, seperti sebelumnya, telah berfungsi sebagai alat propaganda Israel, membantu membenarkan penargetan sistematis terhadap sistem kesehatan dan rumah sakit di Gaza. Kebijakan ini terlihat jelas ketika kita menyaksikan mayat-mayat yang terbakar di halaman Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsha. Saat ini, mereka juga menyiapkan dasar untuk serangan lebih lanjut yang tidak terarah terhadap rakyat Lebanon.

Dengan menyebarkan laporan yang tidak berdasar bahwa Hizbullah menyembunyikan senjata di rumah-rumah atau klaim IOF tentang penemuan “dua atau tiga kali” lebih banyak senjata di desa-desa Lebanon dibandingkan di Gaza, BBC membuat tindakan Israel di Lebanon terasa wajar. Setiap rumah dapat menjadi target sah, dan setiap warga sipil berpotensi dianggap sebagai teroris.

Dalam empat minggu terakhir, lebih dari 2.400 warga Lebanon telah dibunuh Israel, terutama di daerah padat penduduk, dengan 1,2 juta orang terpaksa mengungsi. Namun, seperti di Gaza, kehancuran yang luas dan krisis kemanusiaan tampaknya tidak melemahkan kemampuan perlawanan Hizbullah.

Walaupun demikian, arogansi Israel membuat mereka percaya ada solusi militer untuk menghancurkan Hamas, Hizbullah, dan lainnya, serta memaksakan tatanan baru dengan diri mereka sebagai penguasa. Sejak Desember 2023, Netanyahu bahkan berjanji akan mengubah Beirut dan selatan Lebanon menjadi “Kota Gaza dan Khan Younis” jika terjadi perang total. Ancaman ini ia ulang pada awal Oktober.

Dengan terlibat dalam tur propaganda IOF di sebuah desa di Lebanon, BBC berperan dalam menciptakan persetujuan atas kematian dan kehancuran yang pasti akan mengikuti.

“Kami Ingin Perdamaian, Anda Ingin Perang”

Salah satu contoh menarik dari proses pembentukan persetujuan yang dilakukan oleh BBC adalah cara mereka menampilkan grafiti tentara Israel. Dalam laporan Lucy Williamson dari tur ke Rumah Sakit Al-Shifa dan selatan Lebanon, ia memperhatikan pesan-pesan yang ditinggalkan oleh tentara Israel di bangunan yang hancur.

Pada tur Al-Shifa, kamera menunjukkan bintang David dengan tulisan “IDF” di tengah dan “Never Again” di atasnya, yang mengacu pada janji tidak akan ada lagi yang seperti Holocaust. Di Lebanon Selatan, seorang tentara Israel menulis: “Kami ingin perdamaian, Anda yang ingin perang”.

Tanpa konteks atau komentar, apa tujuan dari menyebutkan grafiti ini? Hal tidak dikatakan adalah hal ini memungkinkan BBC untuk mempromosikan narasi yang mungkin terlalu jelas dianggap sebagai propaganda jika dinyatakan secara eksplisit. Ini dirancang untuk membuat penonton bersimpati kepada Israel yang, tanpa kesalahan mereka, terjebak dalam konflik dengan tetangga yang agresif. Menggunakan sejarah Holocaust, respons Israel terhadap Operasi Al-Aqsha yang dipimpin Hamas digambarkan sebagai perang yang perlu untuk mencegah pengulangan genosida terhadap orang Yahudi.

Grafiti di desa selatan Lebanon menunjukkan perang yang dipaksakan kepada orang Israel, yang dianggap sebagai masyarakat pencinta perdamaian yang tidak menemukan mitra untuk bernegosiasi. Alih-alih menunjukkan kebencian yang melanda masyarakat Israel sejak Oktober lalu, kita disajikan dengan gambaran Israel pihak yang membunuh karena terpaksa, bukan karena keinginan.

Sementara orang-orang Arab dan Muslim kembali digambarkan sebagai sosok yang haus darah, tidak mampu menerima perbedaan. Sementara itu, orang Israel dianggap sebagai bagian dari peradaban Barat yang hanya bertindak untuk membela diri, dikelilingi oleh musuh.

Usaha BBC dan media Barat lainnya untuk membentuk persetujuan dalam setahun terakhir ini menjadi semakin sulit karena kita bisa mengakses informasi tentang kata-kata dan tindakan genosida secara langsung melalui ponsel. Kita telah menyaksikan Israel melakukan kejahatan perang di Rafah, Beirut, dan di mana saja. Bahkan pengamat biasa pun tidak bisa menghindari kenyataan ini, namun organisasi berita seperti BBC terus berusaha menipu kita.

Keterlibatan dalam Genosida

Pada akhir Desember 2023, pemerintah Afrika Selatan mengajukan kasus ke Mahkamah Internasional (ICJ), menuduh Israel melakukan “tindakan genosida” setelah lebih dari dua bulan kekerasan yang terus-menerus. Setelah dua hari berdebat, tim hukum Afrika Selatan menyajikan bukti yang menunjukkan niat dan tindakan genosida Israel. ICJ memutuskan bahwa “masuk akal” untuk menyatakan bahwa tindakan genosida terjadi di Gaza.

Menurut Konvensi Genosida, semua negara bertanggung jawab untuk mencegah dan menghukum siapa pun yang terlibat dalam genosida. Craig Mokhiber, mantan direktur kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, yang mengundurkan diri karena ketidakmampuan PBB mencegah genosida ini, menyatakan bahwa media Barat juga terlibat.

Ia berpendapat, “Menghadapi genosida yang disiarkan langsung di layar dari Boston hingga Botswana, tidak masuk akal untuk mengatakan bahwa media Barat tidak menyadari apa yang terjadi di lapangan. Mereka secara sadar memilih untuk menyembunyikan genosida ini dari audiens mereka, merendahkan martabat korban Palestina, dan melindungi pelaku Israel dari pertanggungjawaban”.

Meskipun kita bisa mengabaikan tur genosida Williamson dengan IOF, ada banyak bukti bahwa BBC berusaha mengaburkan tindakan Israel dan menyajikannya sebagai perang untuk membela diri. Menariknya, pada Januari 2024, BBC menayangkan seluruh pembelaan Israel selama sidang ICJ, sementara hanya menayangkan sebagian argumen dari tim hukum Afrika Selatan sehari sebelumnya. Ini adalah contoh simbolis dari bias BBC.

Di sisi lain, banyak yang membahas pilihan bahasa yang digunakan oleh media. Kita sering mendengar istilah “Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas”, yang meragukan keabsahan jumlah korban di Gaza, yang kemungkinan besar jauh lebih rendah dari kenyataan. Begitu juga dengan istilah baru di Lebanon, “kubu Hizbullah”, yang digunakan untuk menggambarkan kawasan Dahiyeh, yang secara tidak langsung membenarkan serangan terhadap kawasan pemukiman penduduk di Beirut.

Sejak Desember 2023, studi oleh Jan Lietava dan Dana Najjar menunjukkan bahwa korban Israel mendapat lebih banyak liputan dan belas kasihan dibandingkan penduduk Palestina di BBC. Warga Israel, terutama laki-laki, lebih sering digambarkan dengan istilah yang lebih manusiawi (ibu, ayah, anak), sementara istilah seperti “pembantaian” hampir hanya digunakan untuk menggambarkan tindakan terhadap warga Israel.

Dengan mengambil sampel media berita yang lebih besar yang tersedia di Inggris, Pusat Pemantauan Media (CfMM) milik Dewan Muslim Inggris menemukan bahwa bentuk kalimat “dibunuh” digunakan 55 persen lebih sering untuk orang Israel daripada untuk orang Palestina, yang kematiannya sering digambarkan dengan kata “meninggal” atau “terbunuh” (kata lebih tepatnya seharusnya adalah dibunuh Israel). Media Barat menggunakan kalimat pasif untuk menutupi atau mengaburkan pelaku kejahatan sebenarnya yaitu Israel.

Meskipun ada perubahan kebiasaan dan sumber berita menjadi lebih beragam, BBC tetap menjadi sumber berita paling populer di Inggris dan juga sebagai juru bicara kepentingan Inggris di luar negeri. Liputannya tentang Israel, yang berfokus pada kematian dan kehancuran, dapat membentuk opini publik. Mokhiber mencatat bahwa audiens ini tidak hanya terdiri dari pengamat biasa, tetapi juga pejabat pemerintah dan pembuat kebijakan yang terlibat dalam genosida ini melalui dukungan militer, ekonomi, dan diplomatik kepada Israel.

Dengan mengaburkan tindakan Israel, BBC menipu publik Inggris dan menggunakan posisinya untuk membenarkan keadaan yang sedang berlangsung di wilayah tersebut, serta dukungan berkelanjutan dari pemerintah Inggris. Dengan memulai cerita dari tanggal 7 Oktober dan mengabaikan lebih dari satu abad kolonialisme Zionis serta tidak mengakui semua bentuk perlawanan melawan penjajahan, BBC berhasil menggambarkan Israel sebagai korban yang berperang dalam konflik yang diperlukan melawan tetangga yang dianggap bermusuhan.

Kini setelah tindakan Israel melewati ambang batas hukum dan menyebabkannya diadili Mahkamah Internasional atas tuduhan genosida, BBC juga harus berhadapan dengan pengadilan. Petualangan Williamson ke selatan Lebanon bersama tentara yang sama yang melakukan kejahatan besar terhadap Palestina ini hanyalah kasus terbaru dalam sejarah panjang dan memalukan BBC terkait keterlibatannya dalam kejahatan Israel.

Perusahaan media ini terus mengekspos dirinya sebagai pengikut kepentingan imperialis dan Zionis dan musuh bagi semua pihak yang berjuang untuk kemerdekaan Palestina dan mengakhiri proyek kolonial pemukim Eropa yang telah menodai kawasan Asia Barat selama 76 tahun. Kita harus terus memperkuat narasi tandingan yang mendukung tujuan kita dan selalu ingat bahwa ketika Israel melakukan kejahatan terbesar terhadap rakyat Palestina dan Lebanon, BBC turut serta.

(T.FJ/S: Mondoweiss)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya