Gaza Utara, Mengungsi atau Dibunuh Israel

Gaza, SPNA – Jalur Gaza bagian utara, sebagaimana dilansir RT Arabic, pada hari Jumat (25/10/2024), sedang mengalami bencana kesehatan dan krisis kemanusiaan yang mengkhawatirkan, dengan lembaga-lembaga medis darurat dan pertolongan pertama berhenti memberikan layanan, di mana pada saat yang sama Israel memperketat blokade selama 21 hari berturut-turut, di tengah meluasnya upaya pengungsian.

Tentara Israel telah meningkatkan operasi terhadap ambulans dan kru pertahanan sipil serta rumah sakit di provinsi Gaza Utara, mengancam kendaraan milik lembaga-lembaga ini untuk menjadi “target” serangan jika bergerak di jalan-jalan.

Penghentian layanan ini bertepatan dengan penderitaan orang-orang yang menolak untuk mematuhi perintah pemindahan paksa Israel dari utara ke selatan Jalur Gaza. Israel melarang masuknya pasokan air, makanan, obat-obatan, dan bantuan mencapai wilayah utara Jalur Gaza, sebagai bagian dari blokade total yang telah diberlakukan selama 3 minggu.

Selama 21 hari berturut-turut, tentara Israel melanjutkan pemboman udara dan artileri serta tembakan yang intens di utara Jalur Gaza, khususnya kamp Jabalia dan kota Beit Lahia, dalam kondisi yang menurut para pengamat adalah “genosida yang sedang disaksikan dunia”.

Israel melakukan serangan terhadap pengungsi dan tempat-tempat penampungan pengungsi, serta memerintahkan evakuasi penduduk secara paksa dengan tujuan menduduki wilayah utara Jalur Gaza. Penduduk Palestina harus memilih mengungsi atau dibunuh oleh Israel jika terus berada di utara Jalur Gaza.

Penduduk Palestina, Mahmoud Nassar, yang sejauh ini memilih tetap berada di wilayah “Beit Lahia” bersama keluarganya. Ia mengatakan bahwa Israel berusaha dengan segala cara untuk mendorong kami untuk mengungsi dan meninggalkan rumah kami sampai mereka mencuri tanah dan mengubahnya menjadi pemukiman Israel di masa depan.

“Tentara memulai pengepungan dengan memutus pasokan air dan makanan ke Provinsi Utara, mengintensifkan operasi serangna, pengeboman, pembakaran, dan akhirnya memutuskan layanan medis dan kesehatan dalam upaya untuk mengosongkan wilayah Utara dari semua penduduk,” kata Mahmoud Nassar.

Mahmoud Nassar menunjukkan bahwa ambulans telah berhenti merawat korban luka-luka dan meninggal akibat serangan Israel. Ia menunjukkan bahwa tugas tersebut kini menjadi tanggung jawab sesama penduduk Palestina. Mahmoud Nassar menekankan bahwa daerah Beit Lahia, Kamp Jabalia, Tal Al-Zaatar dan Al-Alami di Provinsi Utara masih sangat membutuhkan layanan medis.

“(Daerah itu) masih dipenuhi warga yang sangat membutuhkan layanan medis dan darurat sepanjang waktu. Ribuan warga Palestina hingga saat ini tetap teguh dan menolak gagasan pemindahan ke tempat lain selain rumah mereka,” kata Mahmoud Nassar.

Pemuda Palestina lainya, Ahed Al-Masry, yang terkepung di kota Beit Lahia, mengatakan bahwa tentara Israel sedang mencoba untuk mengosongkan penduduknya di wilayah utara Jalur Gaza.

“Hal itu yang tidak dapat mereka lakukan dan mereka mengetahuinya. Banyak warga Palestina yang teguh sampai akhir. Tidak mungkin bagi mereka untuk menerima ide evakuasi, meninggalkan tanah mereka, dan pindah ke tempat lain perang ini tidak dapat diterima saat ini,” kata Ahed Al-Masry.

Sejak dimulainya serangan darat bersamaan dengan serangan udara terakhir yang penuh kekerasan, Israel telah melakukan sejumlah serangan, dengan pengeboman, penembakan, dan pengepungan tiga rumah sakit yang beroperasi di Provinsi Utara, yaitu “Rumah Sakit Indonesia, Kamal Adwan, dan Al-Awda. Serangan terhadap rumah sakit tersebut mengakibatkan sejumlah penduduk Palestina meninggal dunia dan luka-luka.

Rumah sakit-rumah sakit ini juga mengalami kekurangan obat-obatan, pasokan medis, dan bahan bakar, yang menyebabkan generator alternatif utama berhenti bekerja selama beberapa hari. Selain itu, awak medis hidup dalam ketakutan dan teror mengingat Israel menargetkan setiap pergerakan di luar markas dan gedung rumah sakit.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan di Gaza mengumumkan bahwa tentara Israel menyerbu Rumah Sakit Kamal Adwan dan menahan ratusan pasien, staf medis, dan para pengungsi di dalamnya. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan bahwa mereka telah kehilangan kontak dengan rumah sakit tersebut.

“Bau Kematian Ada di Mana-mana”

Pada hari Selasa, badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) membuat permohonan mendesak untuk menghentikan sementara pertempuran di utara Gaza agar bantuan kemanusiaan dapat mencapai penduduk sipil yang terjebak.

Kepala UNRWA, Philippe Lazzarini, melaporkan bahwa staf agensi tidak dapat menemukan makanan, air, atau obat-obatan di wilayah yang dilanda perang.

“Bau kematian ada di mana-mana, dengan mayat dibiarkan tergeletak di jalanan atau di bawah puing-puing. Misi untuk membersihkan mayat atau memberikan bantuan kemanusiaan ditolak,” katanya.

Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa sejak awal perang Israel di Gaza, pasukan Israel telah mencegah masuknya lebih dari 250 ribu truk bantuan dan barang. Kondisi ini membuat 96 persen penduduk Palestina di Jalur Gaza menghadapi tingkat krisis pangan yang cukup parah.

Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Kamis (24/10), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 42.847 orang dan 100.544 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.

Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem timur, di mana lebih 760 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.

Israel juga melakukan pembantaian di Lebanon, dengan rutin menyerang wilayah selatan Lebanon dan bahkan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon. Israel membunuh 2.574 penduduk Lebanon dan lebih dari 12.001 terluka akibat serangan Israel sejak 8 Oktober 2023.

(T.FJ/S: RT Arabic, Aljazeera)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!