PBB: Genosida Picu Kemunduran Pembangunan di Jalur Gaza 69 Tahun

Gaza, SPNA – Dalam laporan yang dirilis pada hari Selasa (22/10/2023), Program Pembangunan PBB (UNDP) mencatat bahwa ekonomi Palestina saat ini 35 persen lebih kecil dibandingkan tahun lalu, saat awal serangan Israel di Gaza. Artinya ekonomi Palestina terpuruk, di mana penurunan ekonomi mencapai hingga 35 persen dalam setahun. Tingkat pengangguran diperkirakan akan “berpotensi meningkat” mencapai 49,9 persen.

Kemiskinan Diperkirakan Mencapai 74 persen pada 2024, Mempengaruhi 4,1 Juta Orang di Wilayah Palestina

Perang Israel di Gaza telah mengakibatkan kemunduran signifikan dalam indikator pembangunan seperti kesehatan dan pendidikan, nyaris kembali ke kondisi 70 tahun yang lalu. Ini menjadi fakta mengejutkan yang diungkapkan oleh laporan terbaru dari PBB, menunjukkan bahwa jutaan penduduk Palestina kini terjebak dalam kemiskinan yang semakin parah.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Gaza: Kembali ke 1955

Penelitian UNDP menunjukkan bahwa IPM untuk Gaza, yang mengukur “pencapaian rata-rata dalam dimensi utama pembangunan manusia,” diproyeksikan turun ke level yang diperkirakan untuk tahun 1955, yang berarti “menghapus lebih dari 69 tahun kemajuan”.

Sementara itu, di Tepi Barat yang diduduki, IPM diperkirakan akan turun mencerminkan “kerugian selama 16 tahun,” dengan laporan memperingatkan bahwa kondisi ini “kemungkinan akan semakin memburuk” jika serangan militer Israel terus meluas.

Tingkat kemiskinan di wilayah Palestina hampir dua kali lipat tahun ini, mencapai 74,3 persen. Total 4,1 juta orang kini dianggap hidup dalam kemiskinan di seluruh wilayah Palestina, termasuk Jalur Gaza dan Tepi Barat yang diduduki, dengan 2,61 juta orang bertambah dalam setahun terakhir.

“Negara Palestina mengalami tingkat kemunduran yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Chitose Noguchi, perwakilan UNDP dari Deir el-Balah di Gaza tengah.

Achim Steiner: “Dampak Infrastruktur dan Kehilangan Mata Pencaharian Sangat Besar”

Kepala UNDP, Achim Steiner, memberi bahwa konsekuensi langsung dari perang, baik dalam hal penghancuran infrastruktur maupun kemiskinan “sangat besar”.

“Dari penilaian sosioekonomi ini, jelas bahwa tingkat kehancuran (yang dilakukan Israel) telah mengakibatkan kemunduran negara Palestina selama bertahun-tahun, bahkan mungkin dekade,” tambah Steiner.

Steiner juga mencatat, meskipun bantuan kemanusiaan diberikan setiap tahun setelah perang berakhir, ekonomi Palestina tidak akan kembali ke level pra-krisis setidaknya selama satu dekade.

Dampak Serangan Israel: 42 Juta Ton Puing-puing dan Risiko Kesehatan Serius

Studi ini juga menyebutkan bahwa operasi pengeboman Israel menciptakan 42 juta ton puing-puing di Gaza, yang menimbulkan risiko kesehatan yang serius. Penghancuran panel surya menjadi sangat berbahaya mengingat logam berat yang dilepaskan.

Pada hari Selasa, badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) membuat permohonan mendesak untuk menghentikan sementara pertempuran di utara Gaza agar bantuan kemanusiaan dapat mencapai penduduk sipil yang terjebak.

Kepala UNRWA, Philippe Lazzarini, melaporkan bahwa staf agensi tidak dapat menemukan makanan, air, atau obat-obatan di wilayah yang dilanda perang.

Kondisi Menghancurkan: “Bau Kematian Ada Di Mana-mana”

“Bau kematian ada di mana-mana, dengan mayat dibiarkan tergeletak di jalanan atau di bawah puing-puing. Misi untuk membersihkan mayat atau memberikan bantuan kemanusiaan ditolak,” katanya.

Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa sejak awal perang Israel di Gaza, pasukan Israel telah mencegah masuknya lebih dari 250 ribu truk bantuan dan barang. Kondisi ini membuat 96 persen penduduk Palestina di Jalur Gaza menghadapi tingkat kekurangan pangan yang tinggi.

Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Kamis (24/10), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 42.847 orang dan 100.544 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.

Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem timur, di mana lebih 760 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.

Israel juga melakukan pembantaian di Lebanon, dengan rutin menyerang wilayah selatan Lebanon dan bahkan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon. Israel membunuh 2.574 penduduk Lebanon dan lebih dari 12.001 terluka akibat serangan Israel sejak 8 Oktober 2023.

(T.FJ/S: Aljazeera)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!