Gaza, SPNA – Sebuah kelompok Yahudi sayap kanan, Nachala, baru saja mendirikan tenda di perbatasan Jalur Gaza dengan harapan untuk menduduki dan mengusir penduduk Palestina di Jalur Gaza. Dalam sebuah langkah kontroversial, partai Likud yang dipimpin Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebagaimana dilansir TRT, pada Selasa (22/10), baru-baru ini mengundang para peserta untuk menghadiri acara bertema “Persiapan untuk Menetap di Gaza”.
Acara ini merupakan bagian dari inisiatif yang diluncurkan oleh Gerakan Pemukiman Nachala, yang dikenal aktif dalam pembangunan pemukiman ilegal Israel di Tepi Barat Palestina yang diduduki. Acara ini akan berlangsung dekat perbatasan Jalur Gaza Palestina yang saat ini terjebak dalam blokade ketat dan sedang menghadapi genosida Israel.
Sebuah poster untuk acara tersebut, yang juga dikenal sebagai acara “Konferensi Pemukiman Gaza”, dengan tegas menuliskan: “Gaza adalah milik kita. Selamanya”.
Zaid Amali, Direktur Advokasi Internasional di LSM Palestina MIFTAH, mengungkapkan bahwa tujuan Zionis adalah selalu untuk menggusur orang-orang Palestina yang berasal dari tanah air mereka dan menggantikan mereka dengan pemukim Israel.
“Rencana semacam itu mengungkapkan tujuan nyata dan aspirasi kolonial di balik genosida yang sedang berlangsung di Gaza, terutama operasi pemusnahan terbaru di utara Gaza, serta pembersihan etnis yang semakin cepat di Tepi Barat,” kata Amali.
Orang-orang Palestina selama ini menyuarakan kekhawatiran bahwa konflik yang berlangsung lebih berkaitan dengan upaya untuk menggusur mereka dari rumah nenek moyang mereka, ketimbang melawan perlawanan Hamas.
Pemerintahan Netanyahu sangat dipengaruhi oleh gerakan pemukim, dengan beberapa petinggi gerakan pemukim yang memegang posisi kunci di kementerian dan institusi negara. Para pejabat ini telah berani mengungkapkan kebijakan ekspansionis secara terbuka, yang meliputi wilayah Palestina dan negara-negara tetangga.
Nachala telah mendirikan tenda di sisi Israel dekat perbatasan Jalur Gaza di bawah perlindungan militer. Majed Bamya, wakil pengamat tetap Negara Palestina di PBB, menanggapi peristiwa ini dengan mengungkapkan, “Desain kolonial Israel di Gaza akan semakin jelas. Genosida dan pembersihan etnis di Gaza, terutama di Utara, adalah untuk mempersiapkan panggung bagi aneksasi dan kolonisasi”.
Media Israel, The Times of Israel, melaporkan bahwa sepuluh dari 32 anggota parlemen dan satu anggota kabinet, yaitu Menteri Kesetaraan Sosial May Golan, menyatakan akan hadir dalam acara acara bertema “Persiapan untuk Menetap di Gaza” tersebut.
Beberapa menteri dari Partai Otzma Yehudit yang berhaluan kanan, seperti Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben-Gvir, dan Menteri Keuangan, Bezalel Smotrich, juga diperkirakan akan hadir. Keduanya sebelumnya telah menghadiri dan berbicara di acara serupa yang disponsori oleh kelompok Nachala.
Mengenal Gerakan Nachala
Menurut situs web resmi mereka, Nachala bertujuan untuk membangun lebih banyak pemukiman ilegal Yahudi di Tepi Barat yang diduduki dan memperkuat ideologi Zionis di sekolah-sekolah. Namun, apa sebenarnya inti dari gerakan ini?
Nachala adalah kelompok Yahudi ultra-nasionalis yang berfokus pada pembangunan pos-pos pemukiman ilegal di Tepi Barat dan bercita-cita untuk menganeksasi dan merampok seluruh tanah Palestina. Mereka mendapatkan dukungan dari partai-partai politik Zionis.
Nachala baru-baru ini mengundang masyarakat untuk merayakan sebuah festival Sukkot (yang memperingati perjalanan bangsa Israel di padang gurun setelah keluar dari Mesir) di wilayah dekat Jalur Gaza, dengan ajakan untuk bergabung bersama puluhan anggota Knesset, menteri, dan keluarga pemukim Israel dalam suasana meriah yang dipenuhi percakapan dan diskusi.
Sementara itu, Genosida Penduduk Palestina di Jalur Gaza Masih Berlanjut
Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Israel terus menerus melakukan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional. Penduduk Palestina di Jalur Gaza hidup dalam kondisi kemanusiaan dan Kesehatan yang memprihatinkan.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Kamis (17/10), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 42.438 orang dan 99.246 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.
Berdasarkan laporan pihak berwenang Jalur Gaza dan organisasi internasional, sekitar 90 persen atau sekitar 1,9 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza terpaksa harus mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal dan penghidupan akibat pemboman Israel.
Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem timur, di mana 756 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.
(T.FJ/S: TRT)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!