Gaza, SPNA – Badan Pertahanan Sipil Palestina di Jalur Gaza, pada Sabtu (19/10/2024), mengumumkan bahwa petugas penyelamat telah menemukan lebih dari 400 jenazah penduduk sipil Palestina yang dibunuh di Gaza Utara oleh tentara Israel sejak 6 Oktober 2024, ketika Israel mengintensifkan operasi pembersihan etnis terhadap penduduk Palestina.
“Kami telah menemukan lebih dari 400 jenazah yang syahid dari berbagai daerah yang menjadi sasaran di Utara Jalur Gaza, termasuk Jabalia, Beit Lahia, dan Beit Hanoun, sejak dimulainya operasi militer oleh tentara penjajah (Israel),” kata juru bicara badan pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal.
“Ada puluhan jenazah berserakan di jalan-jalan Jabalia karena penembakan terus-menerus (yang dilakukan Israel),” tambahnya.
Pembantaian penduduk sipil yang dilakukan oleh Israel di Gaza Utara telah berlangsung tanpa henti sejak awal bulan. Pemerintah Israel menerapkan “Rencana Jenderal,” yang menyerukan pengepungan total terhadap ratusan ribu penduduk Palestina, termasuk menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan.
Pada hari Sabtu (19/10), jet tempur Israel mengebom sebuah sekolah yang berafiliasi dengan PBB yang sudah dijadikan sebagai tempat penampungan pengungsi di wilayah kamp pengungsi Shati di sebelah barat Jabalia. Serangan ini membunuh sejumlah penduduk Palestina yang sedang mengungsi.
Pada Jumat malam (18/10), sebanyak 33 penduduk Palestina dibunuh Israel dan 85 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan Israel. Puluhan orang lainnya masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan tempat tinggal yang dibom.
“Tentara penjajah Israel melanjutkan operasi pemusnahan dan genosida yang jelas di Kamp Jabalia. (Pembantaian ini dilakukan) dengan dukungan penuh dari pemerintah AS dan beberapa negara Eropa seperti Inggris, Jerman, dan Prancis, yang terlibat dalam genosida dan pembersihan etnis ini,” kata Kantor Media Pemerintah Gaza dalam sebuah pernyataan, menggarisbawahi bahwa serangan itu menargetkan beberapa rumah milik keluarga Hawajri, Nassar, dan Abu Al-Eish.
Jabalia telah dikepung terus-menerus selama 15 hari, dengan laporan lokal mengatakan bahwa wilayah itu mengalami serangan udara dan penembakan artileri tanpa henti oleh pasukan Israel.
“Pasukan Israel benar-benar menyerbu rumah-rumah, mengusir orang-orang dan juga memaksa mereka mengungsi dan meninggalkan rumah mereka. Kita berbicara tentang 200.000 warga Palestina di daerah-daerah tersebut. Kementerian Kesehatan mengatakan mereka tidak dapat menghitung korban jiwa yang dibunuh atau terluka karena tingginya jumlah korban,” koresponden Al Jazeera di Deir Al-Balah melaporkan pada hari Sabtu.
Pada hari Jumat, Israel memberlakukan pemadaman komunikasi di seluruh utara Jalur Gaza. Utara Jalur Gaza tidak memiliki akses internet dan oleh karena itu sangat sulit untuk mengetahui kondisi yang sedang terjadi. Namun, hal pasti bahwa serangan udara belum berhenti.
Ketika perang genosida terus berlanjut, ketiga rumah sakit di utara Jalur Gaza telah berhenti beroperasi akibat blokade dan pengepungan Israel.
“Kami tidak dapat menghitung jumlah korban yang meninggal dunia. Jumlahnya mengerikan,” kata pejabat kesehatan.
Rumah sakit Indonesia, Al-Awda dan Kamal Adwan di utara Jalur Gaza telah diserang tanpa henti oleh pasukan Israel.
Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Kamis (17/10), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 42.438 orang dan 99.246 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.
Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem timur, di mana 756 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.
(T.FJ/S: The Cradle)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!