Jalur Gaza, SPNA – UNICEF menyatakan bahwa situasi di Jalur Gaza semakin menyerupai neraka di bumi, terutama bagi sekitar satu juta anak-anak yang tinggal di sana.
Dalam laporan yang dilansir Sabtu (18/10/2024), UNICEF menyatakan bahwa serangan udara dan operasi militer yang terjadi setiap hari meninggalkan luka yang mendalam, baik secara fisik maupun psikologis, pada anak-anak Palestina yang tidak bersalah.
Cerita memilukan datang dari seorang gadis kecil bernama Qamar, yang baru berusia tujuh tahun. Gadis malang itu terkena pecahan peluru di kakinya saat Israel melancarkan serangan terhadap kamp pengungsi Jabalia. Ia dilarikan ke satu-satunya rumah sakit yang tersedia, yaitu rumah sakit bersalin, lalu terpaksa bertahan hidup terkepung selama 20 hari. Dalam masa itu, pecahan peluru di kakinya menyebabkan infeksi, dan karena rumah sakit tersebut tidak memiliki sumber daya yang memadai untuk menangani semua korban, para dokter akhirnya terpaksa mengamputasi kaki Qamar.
“Dalam situasi normal, kaki gadis kecil ini tidak perlu diamputasi,” kata salah satu saksi.
Qamar, bersama ibu dan saudara perempuannya yang juga terluka, kemudian dipaksa mengungsi dengan berjalan kaki ke selatan. Qamar, dengan kaki yang baru diamputasi, harus bertahan di tenda robek di tengah kondisi yang serba kekurangan dan dihantui oleh suara bom, trauma yang dialami Qamar hanya bertambah buruk setiap harinya. Namun, kisah Qamar ini hanyalah satu dari ribuan tragedi serupa yang menimpa anak-anak Palestina di Gaza.
Wilayah selatan, tempat warga Gaza dipaksa mengungsi, kini penuh sesak dan kekurangan air, sanitasi, serta tempat berlindung. Di mana pun mereka berada baik di sekolah, tempat penampungan, atau bahkan rumah sakit, tidak ada tempat yang aman bagi anak-anak dan keluarga mereka.
Tragedi di Al-Mawasi
Salah satu lokasi yang kerap menjadi tujuan relokasi warga adalah Al-Mawasi, yang hanya mencakup 3 persen dari total wilayah Gaza. Sebelum perang, Al-Mawasi dihuni sekitar 9.000 orang, namun kini jumlah penghuninya melonjak drastis menjadi 730.000 orang. Al-Mawasi bukanlah kota dengan infrastruktur memadai; sebagian besar tanahnya adalah bukit pasir tanpa fasilitas pendukung. Namun, di sinilah Qamar dan ribuan keluarga lainnya harus bertahan hidup, tanpa air yang cukup, obat-obatan, atau tempat berlindung yang layak.
Ironisnya, meskipun kawasan ini disebut sebagai “zona kemanusiaan”, Al-Mawasi juga menjadi target serangan udara yang menelan banyak korban jiwa.
UNICEF dan lembaga bantuan lainnya terus berupaya menyediakan bantuan, meski dalam kondisi yang sangat sulit. Hingga saat ini, mereka telah membangun ribuan toilet, memberikan bantuan tunai kepada satu juta orang, serta membantu lebih dari 300.000 anak-anak melalui layanan nutrisi. Namun, jumlah ini masih jauh dari mencukupi kebutuhan warga Gaza yang terus menderita setiap harinya.
UNICEF menyerukan gencatan senjata yang berkelanjutan, bukan hanya untuk Gaza, tetapi untuk seluruh kawasan. “Kita perlu memastikan akses kemanusiaan tanpa hambatan dan meningkatkan skala bantuan esensial, terutama makanan, air, kesehatan, pendidikan, dan dukungan kesehatan mental.”
Namun, meskipun upaya terus dilakukan, penderitaan anak-anak Gaza tidak kunjung mereda. Hingga saat ini, lebih dari 15.000 pasien menunggu rujukan medis yang sangat mendesak, namun berulang kali ditolak. Di tengah krisis yang semakin memburuk ini, banyak anak yang terluka parah harus menunggu tanpa kepastian akan mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.
Satu tahun setelah evakuasi paksa pertama, dunia internasional hanya bisa menyaksikan sejarah kelam ini terulang kembali. “Gaza telah menjadi kuburan bagi ribuan anak-anak,” kata UNICEF pada Oktober tahun lalu. Tahun ini, kondisi tersebut hanya semakin mengerikan dengan bertambahnya kuburan darurat di berbagai tempat di Gaza.
Ancaman penyakit juga semakin nyata. November lalu, UNICEF memperingatkan bahwa jika akses anak-anak Gaza terhadap air dan sanitasi terus dibatasi, jumlah kematian anak akan meningkat secara tragis dan sepenuhnya bisa dicegah. Hari ini, ancaman tersebut menjadi kenyataan, dengan wabah polio yang mulai menyebar di Gaza.
Sementara itu, Juru bicara UNICEF, James Elder, memperkirakan 35 hingga 40 anak terbunuh bahwa setiap hari sejak dimulainya perang yang dilancarkan oleh Israel. Elder menambahkan bahwa sejak perang Israel terhadap Gaza meletus, jumlah korban jiwa di kalangan anak-anak telah melebihi 14.100 jiwa.
“Gaza semakin menjadi tempat yang tak layak untuk hidup bagi anak-anak. Angka-angka ini menunjukkan betapa mengerikannya kondisi di sana, dengan ribuan anak yang menjadi korban,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa estimasi jumlah total korban tewas lebih dari 42.400 jiwa sangat dapat dipercaya, meskipun masih banyak jenazah yang terkubur di bawah reruntuhan bangunan.
Lebih lanjut, Elder menjelaskan bahwa anak-anak yang selamat dari serangan udara dan operasi militer sering kali menghadapi kondisi yang mengerikan. Mereka terpaksa mengungsi berkali-kali akibat kekerasan dan perintah evakuasi yang berulang. “Mereka tidak memiliki tempat yang aman untuk berlindung. Anak-anak dan keluarga mereka tidak aman di sekolah, di rumah sakit, bahkan di kamp-kamp pengungsian yang sangat padat,” pungkasnya.
(T.RS/S:UNICEF)